Radar Jember - Film Indonesia dengan tema sekte dan ajaran sesat kembali menarik perhatian publik.
Setelah kesuksesan serial Bidaah yang sempat viral karena mengangkat isu penyimpangan ajaran agama dalam kemasan dokumenter fiktif, kini sejumlah rumah produksi nasional mulai mengembangkan film-film bergenre serupa.
Salah satu film terbaru yang mengangkat tema ini adalah Kidung Malam, garapan sutradara Raka Permadi dan diproduksi oleh Tanah Air Films.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juli 2025.
Film Kidung Malam mengisahkan seorang jurnalis muda bernama Nara yang menyelidiki sebuah desa tertutup di lereng gunung.
Desa tersebut dipimpin oleh sosok karismatik bernama Rama Sujiwo, yang disebut sebagai tokoh spiritual.
Namun, investigasi Nara mengungkap fakta mengejutkan Rama Sujiwo ternyata memimpin sekte yang menjalankan ritual menyimpang dan memanipulasi warga desa dengan doktrin sesat.
“Kami ingin mengangkat keresahan masyarakat terhadap fenomena sekte yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Banyak dari mereka menyusup lewat kegiatan sosial atau spiritual palsu,” ujar Raka Permadi dalam konferensi pers di Jakarta.
Film ini juga dibintangi aktor ternama Reza Hilman sebagai Rama Sujiwo dan aktris muda Intan Maharani sebagai Nara.
Lokasi syuting dilakukan di kawasan pegunungan Dieng dan beberapa desa terpencil di Jawa Tengah yang dianggap memiliki suasana mistis dan mendukung atmosfer cerita.
Sementara itu, pakar budaya populer dari Universitas Indonesia, Dwi Astari, menilai munculnya film-film bertema sekte mencerminkan keresahan kolektif masyarakat Indonesia terhadap isu manipulasi agama dan penyimpangan kepercayaan.
“Isu sekte bukan lagi hal asing di Indonesia. Film seperti Kidung Malam dan sebelumnya Bidaah berhasil menampilkan sisi gelap yang selama ini jarang diangkat secara langsung dalam industri hiburan kita,” katanya.
Dwi juga menambahkan bahwa penggunaan gaya penceritaan realistis dengan latar lokal membuat film-film ini terasa lebih dekat dengan penonton dan memunculkan efek ketegangan psikologis yang kuat.
Selain Kidung Malam, beberapa proyek film lain seperti “Darah Pengikut” dan “Sesajen Terakhir” saat ini juga dalam proses produksi.
Kedua film tersebut disebut-sebut mengangkat cerita tentang praktik kultus menyimpang di lingkungan pesantren dan komunitas spiritual perkotaan.
Menurut data dari Asosiasi Perfilman Indonesia, tren film bertema sekte dan kultus meningkat hampir 300% sejak 2023, menandakan adanya pasar yang cukup besar terhadap genre ini.
Sementara itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan agar film-film bertema keagamaan dan sekte disajikan secara bijak agar tidak menyesatkan atau menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami tidak melarang karya fiksi, tapi perlu kehati-hatian dalam menggambarkan unsur keagamaan, terutama jika berpotensi menyinggung keyakinan tertentu,” ujar Wakil Ketua KPI, Mohammad Reza.
Meski demikian, antusiasme masyarakat terhadap film-film semacam ini menunjukkan bahwa isu sekte dan ajaran menyimpang menjadi topik yang relevan dan penting untuk disorot, baik sebagai hiburan maupun bahan refleksi sosial.
Penulis: Anik kholifatul imania