radar jember - Nama Megawati Hangestri Pertiwi tidak hanya mencuri perhatian karena prestasinya, tetapi juga memunculkan diskusi menarik tentang nasib atlet voli Indonesia di level internasional.
Kepindahan Megawati ke Red Sparks di Liga Voli Korea membuka mata banyak orang tentang perbedaan besar antara dunia voli Indonesia dan luar negeri, terutama dari segi kontrak, fasilitas, dan kesejahteraan atlet.
Diketahui, pemain asing di Liga Voli Korea bisa menerima bayaran antara US$100.000 hingga US$250.000 per musim, belum termasuk bonus pertandingan, fasilitas tempat tinggal, transportasi, hingga makanan.
Megawati, yang bermain selama dua musim di Red Sparks, dipercaya mendapat nilai kontrak yang mendekati angka maksimal, mengingat performanya yang luar biasa dan popularitasnya di Korea.
Sementara itu, di Indonesia, gaji pemain voli profesional belum mencapai angka yang kompetitif di level Asia.
Seorang pemain utama di klub papan atas Proliga diperkirakan menerima bayaran antara Rp 50 juta hingga Rp 150 juta per musim, tergantung pengalaman dan performa.
Fasilitas seperti asuransi kesehatan menyeluruh, fisioterapis pribadi, dan akses ke teknologi pemulihan atlet canggih masih terbatas.
Tak heran jika banyak pemain voli Indonesia mulai melirik panggung internasional, bukan hanya untuk penghasilan yang lebih layak, tetapi juga untuk perkembangan karier dan kualitas pelatihan.
“Bermain di luar negeri seperti Korea, Jepang, atau Thailand adalah mimpi bagi banyak atlet. Bukan hanya soal gaji, tapi bagaimana mereka menghargai atlet secara profesional,” ujar salah satu pelatih voli nasional.
Namun, perjuangan Megawati di negeri orang tidaklah mudah. Selain harus tampil konsisten di level tinggi, ia juga harus menghadapi tantangan adaptasi budaya dan bahasa.
Meski memiliki penerjemah, komunikasi dengan pelatih, rekan tim, dan media tetap menjadi rintangan tersendiri. Belum lagi soal makanan, cuaca dingin, hingga tekanan mental dari fanbase yang sangat kritis.
“Saya memang merasa kesulitan di awal. Tapi lama-lama saya belajar dari lingkungan, dari rekan-rekan tim, dan itu membuat saya berkembang,” ujar Megawati dalam salah satu wawancaranya di media Korea.
Kisah sukses Megawati seharusnya menjadi cambuk bagi sistem olahraga nasional.
Sudah saatnya Indonesia memperbaiki tata kelola dan kesejahteraan atlet, mulai dari kontrak yang adil, fasilitas modern, hingga perlindungan karier jangka panjang. Atlet bukan hanya simbol prestasi, tapi juga aset bangsa.
Jika sistem dalam negeri bisa memberikan dukungan yang layak, bukan tidak mungkin akan lebih banyak “Megawati-Megawati baru” yang tumbuh dari Indonesia, bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk membangkitkan kebanggaan olahraga nasional.
Penulis: Anik Kholifatul Imania
Editor : M. Ainul Budi