BACA JUGA : Buntut Berhentinya Penerbangan Pesawat oleh PT AAS
Sekretaris Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jember Siswandi menjelaskan, proses seleksi berlangsung selama dua hari, 14 dan 15 Maret. Kegiatan tersebut diikuti oleh 65 karateka yang terdiri atas tujuh perguruan karate. "Ini sudah seleksi akhir setelah para atlet melengkapi persyaratan administrasi," ungkapnya.
Rupanya proses seleksi tak berjalan sesuai rencana. Hal itu karena proses seleksi ditanggung oleh pihak Forki Jember. Sebab, Dinas Pemuda dan Olahragawan (Dispora) serta KONI Jember belum memberikan imbauan kepada seluruh cabor.
Menurutnya, ada beberapa kendala lainnya yang menjadi polemik cabor karate. Di antaranya, pihak Forki belum mengetahui ada beberapa kuota atlet yang akan diikutkan pada perhelatan Porprov Jatim 2023. Namun, pihaknya akan tetap mengambil 17 karateka terbaik dalam seleksi tersebut.
Meski belum ada imbauan untuk melakukan seleksi, namun Forki Jember tetap melangsungkan kegiatan seleksi. Hal itu agar persiapan cabor karate tidak tergesa-gesa. "Belum lagi TC (training center). Kalau persiapan Porprov hanya sebulan atau dua bulan saja, maka tidak akan maksimal. Apalagi sekarang belum ada pemberitahuan dari Dispora dan KONI untuk seleksi ataupun TC," terangnya.
Siswandi berharap agar pihak Dispora dan KONI segera mengambil langkah tegas untuk persiapan Porprov Jatim 2023. Sebab, dirinya tidak mau persiapan cabor karate menjadi sia-sia. "Secepatnya anggaran untuk Porprov segera dibentuk. Agar kami para cabor tidak kebingungan saat melakukan berbagai persiapan," paparnya.
Sementara itu, Wakil Ketua 1 Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jember Soetriono menyebut, seleksi diproyeksikan setelah Hari Raya Idul Fitri dan dilakukan secara tertutup. Seleksi tertutup karena setiap cabor masih memiliki stok atlet yang berkompetisi di Porprov Jatim 2022.
Menurutnya, bila seleksi secara terbuka semua atlet memiliki kesempatan untuk bersaing memperebutkan atlet Porprov, maka sistem pembinaan cabor tidak begitu berjalan. Bila pembinaan setiap cabor itu berjalan, maka akan memiliki database atlet yang potensial untuk diundang dan mengikuti seleksi. “Kalau seleksi terbuka, sistem pembinaan cabor tidak jalan,” terangnya. (faq/c2/dwi)
Editor : Safitri