BACA JUGA : Operasi Zebra Semeru Mulai Digelar, Polres Jember Fokus Pelanggaran Ini
Tragedi maut di Kanjuruhan terjadi pascapertandingan sepak bola Arema Malang melawan Persebaya Surabaya selesai. Sejumlah Aremania masuk lapangan, dipukul mundur aparat, dan penonton di tribun ditembak gas air mata. Saat itu, Ahmad Fauzi juga ada di tengah penonton. Dia menjadi satu di antara ribuan saksi hidup atas tragedi pilu di stadion itu.
Pria berusia 21 tahun asal Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, itu mengaku, dia ada di tribun sejak awal hingga banyak orang bergelimpangan. "Dari awal mula kericuhan muncul, hingga ada tembakan gas air mata, semuanya jelas," katanya.
Sembari termenung, Fauzi menjelaskan, dia berangkat bersama rombongan dari Jember, Sabtu (1/10) sekitar pukul 07.00. Semua rombongan menaiki sejumlah kendaraan. Saat berangkat ada sekitar 80 orang yang berangkat dari Jember ke Stadion Kanjuruhan. "Awal kumpul di Tanggul," ungkapnya.
Rombongannya tiba di stadion sekitar pukul 15-00. Dia tidak terpikir akan kerusuhan yang terjadi setelah permainan selesai. Saat itu, dia hanya khawatir dicegat suporter dari daerah lain. "Malahan, saya khawatir di-sweeping oleh suporter lain," ujarnya.
Pemuda yang juga berstatus mahasiswa tersebut bisa bernapas lega setelah tiba di Kota Apel dengan selamat tanpa gangguan. Fauzi yang sudah memesan tiket langsung memasuki stadion dan menyaksikan pertandingan pada malam harinya. Ketika pertandingan selesai, kericuhan mulai timbul saat beberapa suporter yang tadinya hendak memberikan semangat kepada pemain Arema dihalau oleh aparat keamanan. "Semakin lama, situasi semakin mencekam," ujarnya.
Fauzi meneruskan, kejadian tak diinginkan pun terjadi. Kondisi di lapangan semakin menyayat hati ketika para suporter yang berada di tengah lapangan dihalau, dipukuli, dan ditendang oleh oknum aparat keamanan. Nah, hal yang paling disesalkan yakni adanya penembakan gas air mata kepada suporter yang ada di tribun. Di sini, dia pun turut menjadi korban. "Mirisnya, gas air mata ditembakkan ke atas tribun," katanya sembari menundukkan kepalanya.
Pemuda yang mengidolakan Riski Dwi Febrianto tersebut semakin panik karena gas air mata yang diluncurkan oleh oknum polisi tepat di depan wajahnya. Dia sempat menutup wajah dengan jaket yang dipakai, namun tetap terkena efek gas tersebut. Matanya perih, gatal, dan mukanya seperti terbakar. "Beruntung, saya ditolong oleh penjual minuman. Bagian muka saya siram pakai air," jelasnya.
Di tengah banyaknya orang yang berlarian, menurutnya, suporter semakin panik. Berdesakan ingin keluar. Di situlah korban jiwa mulai berjatuhan. Saat itu, banyak suporter yang kondisinya lemah akibat gas air mata. Beberapa dari suporter terjatuh dan terinjak oleh suporter lain. Gas air mata memicu terjadinya insiden besar yang selanjutnya membuat ratusan nyawa melayang.
Dikatakan, pada saat gas air mata ditembakkan, pintu keluar tertutup, sehingga membuat suporter berdesakan di depan pintu keluar. Suporter yang berjumlah kurang lebih 42 ribu itu berlarian memenuhi pintu keluar stadion. "Saya tidak tahu alasannya ketika kericuhan terjadi, pintunya malah ditutup," jelasnya.
Saat itu, Fauzi menyaksikan seorang anak kecil yang sudah terkapar lemas tak bergerak di pangkuan ayahnya. Disusul banyaknya suporter yang tergeletak, bergelimpangan di sekitar area tribun. Pemandangan itu membuat dirinya lemas tak berdaya. Dia tak menyangka insiden maut itu sangat-sangat parah. "Hati saya sakit melihat suporter banyak yang meninggal," jelasnya.
Seiring keriuhan yang terjadi, Fauzi melihat sejumlah tim medis mulai bertindak dan membawa korban yang sudah tak bernyawa untuk dievakuasi. Korban yang berjatuhan dibawa ke tempat yang aman. Bahkan masih banyak korban yang sudah tak bernyawa belum juga dipindah ke tempat yang aman. "Waktu itu, di tribun masih banyak yang tergeletak," ujarnya.
Beberapa saat kemudian, Fauzi tersadar dari kepanikannya dan mulai mencari teman-temannya yang berpencar entah ke mana. Ketakutan mulai menghampirinya kala teman rombongannya tidak terlihat. Dengan perasaan tak karuan, dia mulai mencari temannya di area jenazah. Bahkan, ruang ganti pemain juga dipenuhi suporter yang tergeletak tak bernyawa. Satu per satu kantong jenazah mulai dibukanya, mencari apakah ada korban asal Jember atau tidak. "Saya takut yang dari Jember ada korban jiwa," katanya.
Fauzi melanjutkan pencariannya dengan membuka kantong-kantong jenazah. Selang beberapa saat, seorang pemain Arema menghampirinya dan menunjuk salah satu korban beratribut Arema Jember. (Bersambung) (nur/c2) Editor : Safitri