Desa Darungan Bercerita: Tim Pengabdian Unej Angkat Potensi Lewat Storynomic

Linda Harsanti • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 19:17 WIB
Tim Pengabdian Universitas Jember (UNEJ) yang diketuai Dra. Dewi Salindri, M.Si. menggelar focus group discussion (FGD) di Balai Desa Darungan sebagai bagian dari pelaksanaan hibah Program Desa Binaan.
Tim Pengabdian Universitas Jember (UNEJ) yang diketuai Dra. Dewi Salindri, M.Si. menggelar focus group discussion (FGD) di Balai Desa Darungan sebagai bagian dari pelaksanaan hibah Program Desa Binaan.

 

RADAR JEMBER, LUMAJANG – Bagi banyak orang, Lumajang identik dengan Semeru dan Tumpak Sewu. Tak banyak yang tahu bahwa di ujung selatan kabupaten ini, tepatnya di Desa Darungan, Kecamatan Yosowilangun, hamparan sawah ketan menjadi denyut hidup warganya. Sekitar 80 persen petani di desa ini menanam padi ketan, menjadikan Darungan salah satu sentra ketan di Jawa Timur. 

Sentra Ketan yang Belum Bercerita 

Dari dapur-dapur warga, ketan berubah rupa menjadi lepet, rengginang, lemper, enten-enten, rangin, hingga onde-onde. Setiap September, desa ini juga menggelar Festival Ketan lengkap dengan arak-arakan gunungan. Festival itu sudah empat kali digelar. Namun, nama Darungan nyaris tak terdengar di luar Yosowilangun. 

Potensi yang belum terekspos itulah yang digali Tim Pengabdian Universitas Jember (UNEJ) yang diketuai Dra. Dewi Salindri, M.Si. Pada Minggu (6/9), tim menggelar focus group discussion (FGD) di Balai Desa Darungan sebagai bagian dari pelaksanaan hibah Program Desa Binaan. Darungan sendiri telah menjadi desa binaan UNEJ sejak Mei 2023. FGD ini bertujuan menggali dan merancang langkah Darungan menuju desa wisata. 

Ketan Murah, Cerita yang Mahal 

FGD ini berangkat dari konsep storynomic tourism, yakni pendekatan pariwisata yang menjadikan narasi, konten kreatif, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat sebagai daya tarik utama. Dalam kerangka ini, yang dijual bukan sekadar barang, melainkan pengalaman dan cerita di baliknya. 

Selama ini Darungan menjual ketannya dengan harga serendah mungkin. Di festival, sebungkus olahan ketan dihargai Rp1.000–5.000. Padahal, kelas membuat rengginang selama dua jam berpotensi bernilai Rp50.000–75.000 per orang, sementara bahan bakunya hanya sekitar Rp20.000 yang kadang tidak sebanding dengan proses penanaman ketan. Selisih itu bukan berasal dari bahan, melainkan dari cerita, waktu, dan tenaga warga. Semuanya tinggal di desa. 

Rengginang Darungan pun punya keistimewaan sendiri. Di banyak daerah, rengginang dibuat dari nasi biasa, sedangkan di Darungan dibuat dari ketan
Rengginang Darungan pun punya keistimewaan sendiri. Di banyak daerah, rengginang dibuat dari nasi biasa, sedangkan di Darungan dibuat dari ketan

 

Rengginang Darungan pun punya keistimewaan sendiri. Di banyak daerah, rengginang dibuat dari nasi biasa, sedangkan di Darungan dibuat dari ketan. Persoalannya, cerita itu belum tersusun. Orang luar belum tahu sejak kapan dan mengapa ketan begitu lekat dengan Darungan, apa makna gunungan, hingga ke mana wisatawan akan diajak ketika berkunjung. 

Belajar dari Pronojiwo 

Hadir sebagai narasumber, Bahrul Bainarqi, S.M., pengelola Lava Tour Pronojiwo yang berhasil membangun branding sejumlah destinasi di kawasan tersebut. Bahrul mengaku kagum dengan potensi Darungan. Menurutnya, ketan yang melimpah didukung keberadaan ikan dangel atau gabus yang selalu ada di rawa desa. Perpaduan keduanya bisa menjadi kekuatan kuliner yang khas. 

“Potensinya luar biasa. Ketan ada, ikan gabus selalu ada, tinggal bagaimana dimanfaatkan dengan baik. Apalagi Darungan dekat pantai, jadi bisa menjadi tempat singgah wisatawan yang mau atau baru pulang dari pantai,” ujarnya. Darungan memang hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pantai Selatan atu lebih spesifiknya Pantai WGL. 

Bahrul juga berbagi pelajaran dari Pronojiwo. Pekerjaan rumah terbesar, katanya, ada pada penguatan sumber daya manusia agar persoalan yang muncul saat wisata berjalan bisa diselesaikan bersama. Ia menyarankan setiap pelaku UMKM fokus pada satu produk khas agar tidak timbul kecemburuan antarwarga. Darungan juga perlu membangun jejaring dengan desa sekitar dan merek yang mudah diingat, seperti “Darungan Ketan”. 

Hadir pula Galih Permadi, Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang. Ia memaparkan bahwa Lumajang kini memiliki 57 destinasi wisata dan sekitar 247 destinasi rintisan yang belum memenuhi syarat 3A, yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas seperti toilet dan parkir. Untuk Darungan, Galih menyarankan agar pengembangan dimulai dari kawasan rawa beserta fasilitas pendukungnya, misalnya dengan perahu bening sebagai spot foto yang selanjutnya dapat disebut dengan “Rowo Boyo”. Ia menyatakan siap memfasilitasi Darungan agar masuk dalam daftar desa wisata di Lumajang. 

Langkah Awal, Bukan Akhir 

Di akhir acara, Tim Pengabdian UNEJ menyampaikan komitmennya. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membentuk kawasan Darungan sebagai desa wisata berbasis kuliner ketan. Dalam tiga bulan ke depan, tim akan mendampingi penyusunan narasi dan sejarah desa, penulisan profil desa serta deskripsi paket wisata, dan penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sudah terbentuk. Tim juga akan membantu pembuatan video profil dan situs web desa sebagai sarana promosi. 

Ketua tim, Dra. Dewi Salindri, M.Si., menegaskan bahwa program ini tidak boleh berhenti di satu kegiatan saja. Menurutnya, Program Desa Binaan memang dirancang multitahun sehingga pengembangan Darungan bisa dilakukan secara bertahap. 

“Kami tidak ingin program ini berhenti begitu saja setelah FGD. Program desa binaan ini sifatnya multitahun, jadi pengembangan Darungan akan kami lakukan bertahap. Tahun ini kami mulai dari menyusun ceritanya dulu, karena ketan Darungan punya sejarah dan makna yang belum banyak diketahui orang. Setelah itu, baru kami dampingi paket wisata dan kelembagaannya,” ujar Dewi. 

Ia berharap, suatu hari nanti orang datang ke Darungan bukan hanya untuk membeli ketan, melainkan untuk mendengar dan merasakan kisahnya.  

 

Penulis: Vini’matu Hikmah
 
Editor : Linda Harsanti
olahan ketan pengabdian masyarakat Universitas Jember Lumajang