RADARJEMBER - Jember, Upaya pencegahan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kualitas, keamanan, kandungan gizi, serta kehalalan pangan yang dikonsumsi keluarga. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui program BIMA, yang berujudul“Empowering Sakinah Families through the Integration of Halalan Thayyiban Literacy and Local Food Diversification as a Strategy for Stunting Mitigation” yang digelar di Kabupaten Jember, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan yang melibatkan mitra yaitu para pengurus dan anggota Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Cabang Kota Kabupaten Jember dan mengintegrasikan literasi halalan thayyiban, edukasi gizi keluarga, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai upaya membangun praktik konsumsi pangan yang lebih sehat di tingkat keluarga.
Program ini berangkat dari pentingnya memperluas pemahaman masyarakat mengenai konsep halalan thayyiban. Dalam konteks pangan, halal tidak hanya berkaitan dengan status kehalalan bahan, tetapi juga perlu disertai aspek thayyib, yakni pangan yang aman, baik, bergizi, dan memberikan manfaat bagi kesehatan. Pendekatan tersebut sejalan dengan rancangan program yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan literasi gizi dan diversifikasi pangan lokal.
Kegiatan diawali dengan pengisian pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai literasi halalan thayyiban dan gizi keluarga. Selanjutnya, peserta mendapatkan edukasi mengenai pemilihan dan pengolahan pangan yang sesuai dengan prinsip halalan thayyiban.
Lusiana Ulfa Hardinawati, S.EI., M.Si., Ketua Tim PKM sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, menekankan pentingnya menjadikan konsep halalan thayyiban sebagai bagian dari praktik konsumsi keluarga sehari-hari. Menurutnya, keluarga perlu memiliki kemampuan untuk memilih pangan yang tidak hanya halal, tetapi juga aman, bersih, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga.
Dari Literasi ke Praktik: Ikan Tongkol Diolah Menjadi Nugget
Edukasi kemudian diterjemahkan ke dalam praktik melalui demonstrasi pengolahan pangan lokal. Salah satu bahan yang digunakan adalah ikan tongkol, yang diolah menjadi nugget sehat dan praktis.
Demonstrasi dipandu oleh Mirriyadhil Jannah, S.TP., M.Si., dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Jember, dengan didampingi mahasiswa dari Universitas Jember. Peserta mendapatkan penjelasan sekaligus melihat secara langsung tahapan pengolahan, mulai dari pemisahan daging ikan, penggilingan, pencampuran bahan dan bumbu, pengukusan, pencetakan, hingga pengolahan akhir.
Melalui praktik tersebut, kader tidak hanya memperoleh informasi mengenai pangan sehat, tetapi juga mendapatkan keterampilan dasar yang dapat diterapkan kembali di lingkungan keluarga. Sesi ini mendapat respon positif dari peserta. Dalam diskusi, para ibu aktif bertanya mengenai cara mengolah ikan agar tidak amis serta strategi menyajikan makanan yang menarik bagi anak, terutama balita yang cenderung memilih makanan (picky eater).
Pendekatan praktik tersebut merupakan bagian dari metode pemberdayaan yang dirancang dalam proposal kegiatan, yaitu menggabungkan edukasi dengan pelatihan dan penerapan teknologi tepat guna agar pengolahan pangan lokal dapat dilakukan secara sederhana di tingkat rumah tangga.
Mengenal Potensi Kakao Jember dan Inovasi Cokelat Homemade
Selain ikan, kegiatan juga memperkenalkan pemanfaatan kakao sebagai salah satu potensi pangan lokal Jember.
Awalnya peserta mendapatkan edukasi dari PT Jagratara, perusahaan yang bergerak di bidang engineering, pembuatan dan fabrikasi mesin, termasuk mesin pengolahan hasil pertanian dan kakao. Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pengolahan kakao, mulai dari buah kakao, fermentasi, pengeringan, roasting, pemisahan kulit, penggilingan, hingga pengolahan menjadi bahan dasar cokelat.
Pengetahuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan cokelat menggunakan cetakan dalam berbagai bentuk. Pemilihan metode dan bentuk tersebut mempertimbangkan kemudahan proses pembuatan di tingkat rumah tangga sekaligus menghadirkan produk yang lebih menarik dan familiar bagi anak-anak. Dengan demikian, keluarga dapat memiliki alternatif cara sederhana untuk mengolah kakao menjadi camilan yang menarik tanpa memerlukan proses produksi yang rumit.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa diversifikasi pangan dapat dilakukan dengan mengolah potensi pangan lokal menjadi produk yang sederhana, praktis, menarik, dan memungkinkan untuk dibuat kembali di rumah. Variasi bentuk juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap olahan pangan berbasis bahan lokal.
Dalam proposal, pemanfaatan pangan lokal memang ditempatkan sebagai salah satu solusi utama program melalui pelatihan pengolahan pangan, dengan tujuan meningkatkan keterampilan mitra dalam menghasilkan makanan yang sehat, menarik, dan mendukung pemenuhan gizi keluarga.
Kader Dibekali untuk Menjadi Agen Edukasi Keluarga
Penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Pendampingan dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi, serta praktik langsung pengolahan pangan.
Dengan demikian, kader tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai bagaimana memilih bahan, mengolah pangan, serta menerapkan prinsip halalan thayyiban dalam penyediaan makanan keluarga. Model ini diharapkan dapat mendorong kader untuk meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan komunitas di lingkungan masing-masing.
Dalam rancangan program, kader memang diarahkan untuk berperan sebagai agen edukasi keluarga dan penggerak perubahan perilaku konsumsi di tingkat komunitas.
Evaluasi dan Dukungan Peralatan untuk Keberlanjutan
Setelah rangkaian materi dan praktik, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi dan praktik. Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan kegiatan, dilakukan penyerahan hibah peralatan pengolahan pangan kepada mitra. Dukungan peralatan ini diharapkan dapat membantu kader melanjutkan praktik pengolahan pangan yang telah diperkenalkan selama kegiatan. Pemberian peralatan tersebut juga sejalan dengan rancangan program yang menempatkan teknologi tepat guna sebagai sarana pendukung pengolahan pangan lokal di tingkat rumah tangga.
Sebagai tindak lanjut kegiatan, tim pengabdian juga akan menyusun modul literasi halalan thayyiban dan gizi keluarga yang dapat digunakan sebagai bahan edukasi bagi kader. Modul tersebut selanjutnya akan diberikan dan dibagikan kepada para kader agar materi yang telah disampaikan selama kegiatan dapat dipelajari kembali dan dimanfaatkan dalam edukasi keluarga di lingkungan masing-masing. Penyusunan modul ini merupakan bagian dari luaran program yang dirancang untuk mendukung keberlanjutan edukasi dan penguatan peran kader sebagai agen edukasi keluarga.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi halalan thayyiban dapat dikembangkan tidak hanya sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai landasan dalam memilih dan mengolah pangan yang aman, bergizi, dan bermanfaat bagi kesehatan keluarga.
Melalui integrasi literasi halalan thayyiban, edukasi gizi, diversifikasi pangan lokal, serta penguatan kapasitas kader, program ini diharapkan menjadi salah satu bentuk pemberdayaan keluarga yang dapat mendukung upaya mitigasi stunting berbasis keluarga dan komunitas di Kabupaten Jember.
Editor : Linda Harsanti