RADAR JEMBER – Pembelajaran IPA di MTs Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember berlangsung berbeda dari biasanya. Sebanyak 18 siswa mengikuti Pelatihan dan Praktik Digital Smart Farming Berbasis Proyek yang diselenggarakan oleh tim pengabdian Dosen Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep IPA di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung memanfaatkan teknologi digital dalam bidang pertanian.
Kegiatan dibuka oleh Kepala MTs Kaliwining, Ida Rahmawati, yang menyampaikan apresiasi kepada tim pengabdian dosen Program Studi Pendidikan IPA FKIP Universitas Jember atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga mendukung arah pengembangan pembelajaran berbasis teknologi yang sedang dipersiapkan di MTs Kaliwining.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar teori IPA, tetapi juga mengenal pemanfaatan teknologi secara langsung. Hal ini sejalan dengan rencana pengembangan pembelajaran di MTs Kaliwining, di mana kami mulai mempersiapkan implementasi pembelajaran coding dan teknologi digital di sekolah. Semoga kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga siswa semakin siap menghadapi perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ketua tim Pengabdian, Eka Puspita Kartika Sari, menjelaskan bahwa kegiatan dirancang untuk meningkatkan literasi sains dan kompetensi digital siswa melalui pembelajaran yang kontekstual.
Oleh karena itu, sebelum praktik dimulai, siswa terlebih dahulu memperoleh penguatan konsep IPA mengenai hubungan antara air, kelembapan tanah, suhu lingkungan, dan pertumbuhan tanaman. Melalui diskusi interaktif, siswa dikenalkan pada pentingnya melakukan pengamatan dan menggunakan data sebagai dasar dalam merawat tanaman, bukan sekedar berdasarkan perkiraan. Tahapan ini menjadi fondasi sebelum siswa mengenal teknologi Digital Smart Farming.
Setelah memahami konsep dasar tersebut, siswa diperkenalkan dengan teknologi Digital Smart Farming melalui penggunaan perangkat NodeMCU ESP8266, Capacitive Soil Moisture Sensor V2.0, sensor DHT11, serta dashboard pemantauan berbasis web. Dengan pendampingan tim dosen dan mahasiswa, siswa belajar memasang sensor, membaca data kelembapan tanah, suhu, dan kelembapan udara, serta memahami bagaimana data tersebut digunakan untuk menentukan kebutuhan penyiraman tanaman. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) sebagai media pembelajaran IPA.
Suasana belajar semakin menarik ketika setiap kelompok siswa melakukan penanaman bibit sayuran pada media polybag. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat menghubungkan konsep IPA yang telah dipelajari dengan penerapan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir ilmiah, serta keterampilan memanfaatkan teknologi sebagai media belajar.
Program pengabdian ini dilaksanakan selama Juli-Agustus 2026. Setelah pelatihan, tim pengabdian akan terus melakukan pendampingan kepada siswa dan guru sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang telah dirancang.
Menurut Eka Puspita, Digital Smart Farming bukan sekedar memperkenalkan perangkat digital kepada siswa, tetapi juga media pembelajaran yang membantu mereka memahami konsep IPA secara lebih nyata. “Kami ingin siswa merasakan bahwa IPA tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan di sekitar mereka. Melalui kegiatan ini, siswa belajar mengamati, mengumpulkan data, dan memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Guru IPA MTs Kaliwining, Alfiana Rahmawati, menilai kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. “Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba menggunakan perangkat secara langsung. Pembelajaran seperti ini membuat siswa lebih mudah memahami materi karena mereka mengalami sendiri proses belajarnya,” katanya.
Salah seorang peserta, Happy, juga mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. “Saya baru pertama kali menggunakan sensor untuk melihat kondisi tanah dan tanaman. Ternyata belajar IPA bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan tidak hanya dari buku,” ungkapnya.
Selain melibatkan tim dosen, kegiatan ini juga didukung oleh lima mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA Universitas Jember yang mendampingi siswa selama praktik berlangsung. Kehadiran mahasiswa membantu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif sehingga setiap kelompok memperoleh pendampingan secara optimal.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap pembelajaran IPA di sekolah dapat semakin kontekstual, inovatif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Selain memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, program ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam mengenalkan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran dan meningkatkan literasi sains serta kompetensi digital siswa. (nur)
Editor : M. Ainul Budi