Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Guru di Bondowoso Diajak Berdamai dengan AI

Ilham Wahyudi
Penulis: Ilham Wahyudi❯
SERIUS: Guru di salah satu SD Negeri di Kecamatan Wringin memberikan penjelasan kepada muridnya di kelasnya.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
SERIUS: Guru di salah satu SD Negeri di Kecamatan Wringin memberikan penjelasan kepada muridnya di kelasnya.(ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

Advertisement

Radar Ijen - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak lagi bisa dihindari dunia pendidikan. Alih-alih menganggapnya sebagai ancaman, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bondowoso justru mengajak para guru menjadikan teknologi sebagai sahabat belajar. Lewat program PGRI Power, ribuan guru disiapkan agar mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan peran utamanya sebagai pendidik.

Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk program PGRI Power yang dirangkai dengan Bimbingan Teknis (Bimtek), Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence (AI), Sabtu (25/7). Program ini ditargetkan menjangkau 1.000 guru di Bondowoso.

Ketua PGRI Bondowoso, Suhartono, mengatakan PGRI Power merupakan tindak lanjut program PGRI Pusat untuk mendorong guru beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya coding dan AI. "Tidak ada alasan guru itu tidak bisa digital di era seperti ini," ujarnya.

Menurutnya, AI bukan pengganti guru, melainkan alat pendukung pembelajaran. Guru tetap memegang peran utama dalam membimbing peserta didik. "Guru tetap selamanya berada di murid. Peran guru tetap mengawal bagaimana memanfaatkan coding dan AI itu sesuai peruntukannya," katanya.

Pelatihan akan dilakukan bertahap dengan pola in-on agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menerapkannya di sekolah. "Ini menjadi pembahasan yang serius. Karena itu berbayar seperti itu," ungkapnya.

Advertisement

Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, menilai penguasaan AI dan coding kini menjadi kebutuhan bagi guru agar tidak tertinggal dari perkembangan zaman. "Harus paham tentang AI, harus paham tentang coding, kita jangan sampai tertinggal," katanya.

Menurut Taufan, guru saat ini bukan lagi satu-satunya sumber informasi di kelas karena siswa dapat mengakses berbagai pengetahuan melalui internet. "Guru itu bukan lagi terpandai, terpintar di kelas. Bukan lagi, karena anak-anak bisa mengunggah sendiri, bisa download sendiri informasi-informasi itu," ujarnya.

Karena itu, guru dituntut mampu memanfaatkan teknologi sebagai penunjang pembelajaran. Upaya tersebut juga didukung dengan keberadaan Interactive Flat Panel (IFP) di sejumlah sekolah. "Bagaimana kita bisa menggunakan teknologi ini untuk mendukung pembelajaran," pungkasnya. (ham)

Advertisement

Artikel Terkait

Delapan Bulan Lebih Jembatan Utama di Bondowoso Ini Ditutup, Sekarang Pengendara Tak Perlu Memutar

Delapan Bulan Lebih Jembatan Utama di Bondowoso Ini Ditutup, Sekarang Pengendara Tak Perlu Memutar

dibukanya kembali Jembatan Sentong memberikan kemudahan tersendiri bagi masyarakat yang memiliki aktivitas rutin di sekitar kawasan tersebut.

Belum Terima Rp1 Juta, Pemuda Bondowoso Jadi Tersangka Kasus Video Al-Qur’an

Belum Terima Rp1 Juta, Pemuda Bondowoso Jadi Tersangka Kasus Video Al-Qur’an

Kasus video dugaan penistaan terhadap Al-Qur’an di Kabupaten Bondowoso memasuki tahap penanganan hukum.  Seorang pemuda berinisial AS, yang dalam pemberitaan kepolisian disebut bernama Alfan Sulleh, telah ditetapkan seb

5 Fakta Kasus Dugaan Penistaan Agama di Bondowoso, Polisi Telusuri Iming-Iming Rp1 Juta

5 Fakta Kasus Dugaan Penistaan Agama di Bondowoso, Polisi Telusuri Iming-Iming Rp1 Juta

Kasus dugaan penistaan agama yang terjadi di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menjadi sorotan masyarakat setelah beredarnya video yang diduga menunjukkan tindakan pelecehan terhadap Al-Qur'an di media sosial.  Menindakl

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer