Radar Jember - Tak banyak orang melirik pelepah pisang yang berserakan di kebun. Setelah buahnya dipanen, bagian itu biasanya dibiarkan membusuk atau sekadar menjadi pupuk.
Namun, di tangan Dr Ir Mochamad Asrofi ST IPM ASEAN Eng, limbah yang kerap dianggap tak bernilai itu justru membuka jalan menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.
Kantong plastik bening berjajar di meja kerja Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unej Prof Yuli Witono. Sekilas kantong plastik atau tras kresek itu tampak biasa. Tapi saat dilihat lebih dekat, cukup berbeda.
Warnanya tidak bening seratus persen, tapi agak kecokelatan. Teksturnya pun lebih melar. “Coba kita tarik, ini cukup kuat, tidak gampang robek. Ini juga kuat untuk menenteng buku dan toples,” ucap Prof Yuli yang memeragakan kekuatan kresek itu.
Prof Yuli, yang pernah menjadi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) ini, juga menyiapkan mangkok berisi air panas. Robekan kresek itu dimasukkan ke air panas dan diaduk. Hasilnya, kresek hasil penelitian dosen Unej itu larut dengan air.
“Ini mudah terdegradasi. Artinya kresek ini lebih ramah lingkungan, karena bahan baku utamanya juga dari alam,” ucapnya.
Kresek bioplastik komposit ini adalah hasil penelitian Dosen Fakultas Teknik Unej, dr Asrofi. “Jadi dr Asrofi ini termasuk dalam daftar dua persen peneliti dunia versi Stanford University and Elsevier (World's Top 2% Scientist, Red),” paparnya.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, Asrofi mengatakan, perjalanan membuat bioplastik komposit diawali dari disertasinya di Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat.
Kala itu, ia meneliti kemasan berbahan dasar bengkuang. Penelitian berjalan baik hingga seorang penguji melontarkan pertanyaan sederhana yang justru mengubah arah pencariannya.
“Apakah ini bisa dikomersialkan?” Pertanyaan itu terus terngiang di benaknya. Bagi Asrofi, riset tidak cukup hanya berhenti di laboratorium. Ia ingin temuannya benar-benar hadir dan digunakan masyarakat.
Lulusan Teknik Mesin Universitas Jember (Unej) yang melanjutkan pendidikan doktoral melalui jalur fast track itu kemudian memulai pencarian panjang.
Berbagai limbah pertanian dicoba satu per satu. Eceng gondok, ampas tebu, daun jagung, klobot jagung, hingga limbah sawit pernah masuk ke meja penelitiannya. Bertahun-tahun ia menghabiskan waktu untuk menguji karakter, kekuatan, dan ketahanan masing-masing bahan.
“Kami kembangkan bioplastik komposit sejak 2019. Dari sawit, ampas tebu, daun jagung, dan limbah pertanian lainnya. Tapi, perlu riset lebih jauh lagi terkait kandungan yang berkaitan dengan kekuatan, ketahanan panas, dan lainnya,” kenangnya saat ditemui di Unej, Selasa (9/6).
Hingga akhirnya pada 2023, pilihannya jatuh pada pelepah pisang. Bahan yang selama ini terabaikan itu ternyata menyimpan keunggulan besar.
Di dalam seratnya terkandung selulosa antara 60 hingga 85 persen, angka yang sangat menjanjikan untuk pengembangan material berbasis serat alam. Kandungan tersebut menjadi fondasi penting bagi terciptanya bioplastik komposit yang kuat sekaligus tahan panas.
“Kandungan selulosa yang cukup tinggi ini menjadi modal utama. Karena serat ini dapat menghasilkan struktur yang baik, sifat mekanik yang baik, dan ketahanan termal,” jelas dosen berusia 33 tahun ini.
Dalam pengujian laboratorium, bioplastik komposit berbasis pelepah pisang menunjukkan kemampuan yang mengesankan. Material itu cukup kuat untuk digunakan sebagai kemasan dan mampu menahan beban beberapa kilogram sesuai komposisinya.
Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya soal kekuatan. Ketika terkena air panas atau kembali ke lingkungan alami, material tersebut perlahan melunak dan terurai tanpa meninggalkan jejak pencemaran seperti plastik konvensional.
“Pada dasarnya, bahan yang berasal dari alam memiliki peluang untuk kembali terurai di alam dengan lebih baik dibandingkan plastik konvensional,” ujar pria kelahiran Sidoarjo tersebut.
Pilihan menggunakan pelepah pisang bukan sekadar pertimbangan ilmiah. Ada kedekatan yang membuat penelitian itu terasa membumi.
Jember selama ini dikenal sebagai daerah agraris dengan hasil perkebunan dan pertanian yang melimpah. Pisang tumbuh dengan mudahnya, tetapi limbah pelepahnya belum banyak dimanfaatkan untuk pendongkrak ekonomi baru.
Dia melihat peluang untuk mengubah kondisi itu. Ia percaya bahan baku yang melimpah di sekitar masyarakat bisa menjadi bagian dari solusi persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Meski hasil penelitian menunjukkan perkembangan menggembirakan dan mulai menarik perhatian industri, jalan menuju produksi massal masih belum mudah. Menurut Asrofi, tantangan terbesar justru muncul ketika inovasi ramah lingkungan harus masuk ke skala industri.
Biaya produksi yang relatif tinggi dan keterbatasan teknologi menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
“Ketika ingin menjadi industri, maka harus menggandeng yang besar. Tantangannya adalah ketika ingin diproduksi dalam skala industri, biaya produksinya masih cukup tinggi dan peralatan yang dibutuhkan juga memerlukan investasi yang besar,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unej Prof Yuli Witono terus memberikan dukungan penuh.
Unej, kata dia, menilai penelitian Asrofi sejalan dengan visi kampus yang menempatkan pertanian industrial berkelanjutan sebagai salah satu fokus pengembangan.
Menurutnya, inovasi semacam ini membuktikan bahwa riset tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Universitas Jember visi besarnya adalah terkemuka dalam pertanian industrial yang berkelanjutan dan bereputasi internasional. Riset yang punya pencapaian dan linkage dengan pengembangan pertanian industrial berkelanjutan itu tentu kami sangat support,” tegasnya.
Bagi Prof Yuli, penelitian tersebut adalah contoh bagaimana limbah bisa diubah menjadi nilai tambah. Karena itu, dukungan terhadap pengembangan bioplastik komposit terus diberikan melalui berbagai skema hibah dan kolaborasi.
“Ini tentu sifatnya sudah industrial, inovasi. Maka ini terus kami support dengan berbagai skema,” lanjutnya.
Di kebun-kebun Jember, pelepah pisang masih akan tetap tumbuh dan berguguran seperti biasa. Namun kini, sebagian orang mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi sebagai limbah yang menunggu lapuk, melainkan bahan baku yang menyimpan harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, kemasan yang digunakan berasal dari alam dan bisa kembali ke alam. (ika/c2/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh