Radar Jember - Bahtsul masail, tahfidz, hingga kebiasaan mengkaji kitab kuning ternyata menjadi bekal berharga bagi para santri MA Unggulan Nuris Jember.
Modal itulah yang mengantarkan enam siswa membawa pulang medali dalam Lomba Nahwu Sharaf 2026 tingkat nasional yang digelar Santri Pedia, bulan Mei lalu.
Empat medali emas berhasil diborong siswa kelas XI A MA Unggulan Nuris Jember diantaranya, Naila Lubna Alya Muhbita, Nafisatur Rosyidah, Aufal Waro Putri Harianto, dan Amelia Khairina Kamila.
Sementara M. Rafa Alfayyaz, kelas X A meraih medali perak, sedangkan Fatra Arillah kelas XI A membawa pulang medali perunggu.
Bagi Nafisatur Rosyidah, nahwu dan sharaf bidang yang paling disukainya selama belajar di pesantren. Karena itu, ketika informasi lomba nasional tersebut beredar, dirinya langsung memutuskan untuk ikut ambil bagian.
“Saya memang suka nahwu dan sharaf. Jadi saat ada lomba, saya tidak ragu untuk mendaftar. Awalnya tidak terlalu berpikir harus dapat emas, yang penting mengerjakan sesuai kemampuan dan apa yang sudah dipelajari,” ujarnya.
Hasil yang diperoleh di luar dugaan, Nafisa berhasil mengamankan medali emas. Capaian itu menjadi pengalaman berharga karena untuk pertama kalinya dirinya meraih penghargaan tingkat nasional di bidang yang selama ini digelutinya.
Di luar aktivitas akademik, Nafisa juga aktif sebagai pelantun hadrah di lingkungan pesantren. Kesibukannya bertambah dengan program tahfidz yang kini telah mencapai tiga juz, sejumlah kitab kuning juga telah berhasil ia khatamkan.
Perjuangan tak kalah berat dialami Aufal Waro Putri Harianto. Pada kompetisi tersebut, peserta harus menyelesaikan 50 soal secara daring dalam waktu terbatas.
Situasi itu menuntut kecepatan berpikir sekaligus ketelitian dalam memahami kaidah nahwu dan sharaf yang diujikan. “Yang paling penting tetap percaya diri dan fokus. Soalnya cukup banyak, jadi tidak boleh terlalu lama di satu nomor,” katanya.
Menurut Aufal, tradisi bahtsul masail yang rutin dijalankan di pesantren banyak membantu membangun pola pikir dan kemampuan memahami kitab.
Bekal itu pula yang membuatnya lebih siap menghadapi kompetisi, sekaligus menjadi penyemangat bagi santri lain untuk terus mendalami ilmu-ilmu keislaman. (ika/dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh