WRINGIN, Radar Ijen - Salah satu misi asta cita pemerintah adalah pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi yang menekankan bahwa pembangunan dimulai dari desa dengan tujuan pemerataan ekonomi dan percepatan pengentasan kemiskinan dengan melibatkan peningkatan akses infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di daerah pedesaan.
Untuk mewujudkan misi tersebut, Universitas Bondowoso (UNIBO) bekerjasama meningkatkan nilai jual kunyit di Desa Ampelan Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso, selasa, 11 November 2025.
Melalui program kemitraan masyarakat (PKM) tahun 2025 Direktorat Penelitian dan Pengabdian Massyarakat (DPPM), Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan, Kemendiktiristek, ketiga dosen UNIBO mengembangkan kunyit segar menjadi produk lain yang bernilai jual lebih tinggi.
Ketua tim PKM 2025 yang merupakan salah satu dosen dari Universitas Bondowoso, Iro Waziroh mengatakan bahwa Desa Ampelan merupakan penghasil kunyit terbanyak di Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso. "Namun sebagian besar hasil kunyit belum dirasakan manfaatnya oleh warga, karena dijual dalam bentuk kunyit segar kepada tengkulak," ungkap Iro.
Dalam pelaksanaannya, Iro Waziroh bersama Muzayyanah dan Yuli Dwi Lestari menggandeng Gapoktan Cahaya Tani dan Forum Anak Desa Ampelan untuk mendapatkan nilai tambah dari kunyit segar yang dihasilkan oleh desa tersebut.
Dengan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim PKM 2025, Gapoktan Cahaya Tani dan Forum Anak Desa Ampelan menghasilkan produk simplisia kunyit dengan nama SKSD serta bubuk kunyit yang diberi nama SAKTI.
Iro mengungkapkan, timnya tidak hanya memberikan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat. "Tim PKM 2025 juga memberikan bantuan berupa alat-alat produksi seperti mesin auto continuous band seller dan grinder kepada mereka," ungkapnya.
Iro berharap program tersebut dapat mewujudkan masyarakat yang lebih berdaya, karena ada peningkatan nilai dari produk kunyit yang mereka hasilkan. "Terima kasih kami sampaikan kepada DPPM Kemdiktiristek atas dukungan pendanaan dan kepercayaannya. Semoga kegiatan ini menjadi program kemitraan dalam mewujudkan masyarakat lebih berdaya saing dalam menjual produknya," harapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ampelan, Basoori Alwi menilai program produksi simplisia dan bubuk kunyit mampu menyelesaikan permasalahan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi bagi warganya. (didik)
Editor : M. Ainul Budi