Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Masih Banyak yang Salah Kaprah, Dosen Unmuh Jember Jelaskan Beda Antara Mendidik dan Menyakiti!

M Adhi Surya • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 13:15 WIB
EDUKATIF: Dosen Hukum Unmuh Jember bersama mahasiswa Universiti Malaya mengedukasi siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo tentang kekerasan di dunia pendidikan.
EDUKATIF: Dosen Hukum Unmuh Jember bersama mahasiswa Universiti Malaya mengedukasi siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo tentang kekerasan di dunia pendidikan.

Radar Jember - Masih banyak anak-anak yang belum memahami bentuk kekerasan di dunia pendidikan.

Fakta itu terlihat saat Dr Fina Rosalina, dosen Hukum Unmuh Jember, memberikan edukasi kepada siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo bersama mahasiswa asing asal Universiti Malaya, Malaysia.

Dalam sesi sosialisasi bertajuk Kekerasan di Lingkungan Pendidikan, mayoritas peserta hanya mengenal bullying sebagai bentuk kekerasan yang terjadi di sekolah. Fina kemudian memperluas pemahaman mereka.

Ia menjelaskan bahwa kekerasan di dunia pendidikan tak hanya berupa perundungan, tetapi juga mencakup kekerasan verbal, fisik, emosional, hingga kekerasan seksual.

Edukasi sejak dini dianggap penting agar siswa mampu melindungi diri dan tidak menjadi korban.

Terutama di lingkungan yang memiliki struktur kuasa seperti sekolah atau pesantren.

Ia memaparkan data dari Kemen-PPPA dan Komnas Perempuan tahun 2022 yang menunjukkan bahwa 46,76 persen pelaku kekerasan di dunia pendidikan justru berasal dari kalangan tenaga pendidik.

Menurutnya, angka itu mencerminkan masih kuatnya relasi kuasa antara guru dengan peserta didik.

“Masih banyak yang belum memahami batas antara tindakan mendidik dan kekerasan. Ini yang perlu disadarkan,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, Dr Fina mengajak siswa membedakan antara dihukum dan dianiaya.

Menurutnya, sekolah memang tempat belajar dan pembentukan karakter, bukan tempat menyakiti.

Namun, ketegasan pendidik tetap diperlukan untuk menanamkan batas perilaku.

“Yang penting bukan keras atau lembutnya tindakan, tapi apakah itu mendidik atau melukai,” jelasnya.

Ia juga memberikan panduan sederhana untuk menghadapi kekerasan.

Siswa diajak berani bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya, memanfaatkan jalur pelaporan di sekolah, dan mendukung teman yang menjadi korban.

Dr Fina berharap, kegiatan semacam ini bisa menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaan.

“Anak-anak perlu tahu bagaimana melindungi diri, tapi guru dan lembaga juga harus sadar bahwa relasi kuasa tidak boleh disalahgunakan,” pungkasnya. (dhi/c2/dwi)

 

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Unmuh Jember #edukasi bullying #Universiti Malaya