Radar Jember – Rutinitas belajar di kamar pesantren menjadi rahasia kegigihan dua siswi SMP Nuris Jember.
Hasilnya pun tak mengkhianati, berkat keseriusan berlatih setiap hari, Adelia Resti Ilyasa dan Dinda Afifa As Salafi berhasil menyabet juara pertama Olimpiade Matematika dan IPA di Aliana Competition tingkat Kabupaten.
Tak tanggung-tanggung, mereka mampu menuntaskan 25 soal dalam waktu kurang dari 15 menit.
Kecepatan itu tentu bukan kebetulan, mereka dengan gigih mempersiapkan diri berlatih soal-soal olimpiade jauh hari sebelum lomba.
Setiap hari, selepas pulang sekolah keduanya menghabiskan waktu di kamar pesantren untuk membuka kumpulan soal, berdiskusi, menghafal rumus, memahami konsep, lalu menerapkannya dalam latihan soal.
Resti menyebut jatuh cinta pada rumus deret aritmatika. Baginya, soal semacam itu tidak hanya mengasah logika, tetapi juga melatih kesabaran.
“Kalau sudah memahami pola, hasilnya jadi sangat memuaskan. Rasanya seperti menemukan kunci sebuah teka-teki,” ujarnya.
Selain belajar, Resti tetap menyeimbangkan rutinitasnya dengan kegiatan lain. Ia hobi bermain basket, menurutnya olahraga membantu menjaga fokus ketika harus kembali berkutat dengan rumus-rumus sulit. “Basket membuat saya lebih segar. Jadi belajar pun bisa lebih konsentrasi,” ungkapnya.
Meski begitu, semangatnya terhadap Matematika tetap yang paling besar. Resti bertekad mewujudkan cita-citanya menjadi dosen Matematika.
“Saya ingin terus belajar dan bisa berbagi ilmu nantinya,” tambahnya.
Sementara itu, Dinda juga tidak kalah tekun. Ia memilih mengisi sebagian besar waktunya dengan membaca dan menulis.
Hobi menulis itu menjadi caranya mengolah pikiran setelah seharian bergelut dengan rumus dan teori.
“Kalau menulis, saya merasa lebih tenang. Bisa menyalurkan ide dan imajinasi,” tuturnya.
Namun, fokus utama Dinda tetap pada cita-citanya menjadi dokter spesialis anak. Ia sadar, disiplin belajar sejak dini merupakan langkah awal menuju mimpi besar tersebut. “Belajar soal-soal olimpiade membuat saya terbiasa berpikir cepat, itu penting untuk masa depan,” katanya.
Prestasi di tingkat kabupaten tidak membuat keduanya berpuas diri. Justru kemenangan itu mereka jadikan motivasi untuk menatap lebih tinggi. Target berikutnya adalah menembus olimpiade tingkat nasional, membawa nama baik sekolah sekaligus membuktikan bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. (ika/dhi/bud)
Editor : M. Ainul Budi