JEMBER, RADARJEMBER - Gagasan optimalisasi program Kampung Nelayan Modern (Kalamo) melalui biorefinery mikroalga berhasil membawa dua siswa SMA Nuris Jember menjadi juara karya tulis ilmiah (KTI) tingkat nasional. Esai bidang lingkungan itu mendapatkan respons positif dari para juri dalam ajang Enviro Science Innovation (ESI) Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Jember pada Oktober lalu.
Dalam lima hari, hampir sepanjang waktu seorang santriwan dan santriwati berada di depan laptop. Fokusnya tertuju pada layar monitor. Berbagai bacaan ilmiah terpampang, tangannya sibuk di atas keyboard bergantian. Projek yang harus dituntaskan, namun kemudian membuahkan hasil yang membanggakan.
Oktober lalu, Rhamdan Adi Putra dan Dwi Kalsya Alevtina disibukkan dengan kompetisi karya tulis ilmiah (KTI) tingkat nasional. Dua siswa berprestasi SMA Nuris Jember yang akhirnya keluar sebagai juara. Tepatnya pada ajang KTI bergengsi Enviro Science Innovation (ESI) Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Jember.
Dengan teknik sedemikian rupa, gagasan itu disusun dalam karya tulis yang begitu rapi. Bagi Rhamdan, membuat esai adalah hal menyenangkan. Ekstrakurikuler KIR yang diikutinya juga telah membawanya pada berbagai pengalaman hingga menorehkan berbagai prestasi lain di tingkat nasional. Seperti yang baru-baru ini didapatkan dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Optimalisasi Program Kampung Nelayan Modern (Kalamo) melalui Biorefinery Mikroalga untuk Mewujudkan SDGs dan Net Zero Emission, adalah judul esai yang digarap keduanya. Buah pemikiran dan diskusi tentang pengoptimalan program pemerintah, Kalamo, yang lebih ramah lingkungan.
Menurut siswa kelas 12 jurusan IPA SMA Nuris itu, sebagai negara maritim, sudah sepatutnya nelayan hidup sejahtera. Kepemilikan wilayah laut yang begitu luasnya juga seharusnya melimpah hasil tangkapannya. Namun, krisis iklim dan pencemaran lingkungan membuat kenyataan berkata lain. “Tangkapan ikan semakin sedikit,” kata remaja 17 tahun itu menceritakan latar belakang esainya.
Program Kalamo yang sudah digagas pemerintah masih setengah-setengah. “Nggantung, karena belum menjawab masalah nelayan soal energi. Nelayan masih memakai solar eceran yang relatif mahal dan solar adalah bahan bakar dari energi tak terbarukan,” papar remaja asal Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, itu.
Program Kalamo, menurutnya, akan lebih efektif dan menjawab persoalan nelayan mengenai energi dengan program fasilitasi ramah lingkungan. Program biorefinery mikroalga, gagasan dalam esai yang dituangkan bersama rekannya. “Mikroalga digunakan sebagai bahan bakar yang lebih murah, menguntungkan (nelayan, Red), dan tentunya ramah lingkungan,” tutur santri SMA Nuris yang bercita-cita sebagai penulis buku itu.
Kalsya menerangkan, bahan bakar dari mikroalga bisa menjadi alternatif bagi nelayan tangkap. Dikatakannya, biorefinery adalah fase ketiga seperti pembuatan bahan bakar melalui biodiesel, biofuel, maupun bioetanol. “Biorefinery ini proses mengolah biomassa (mikroalga, Red) menjadi energi dan produk turunan lain yang bermanfaat,” jelas santri kelas 12 jurusan IPA SMA Nuris itu.
Program Kalamo pemerintah yang menginspirasi esainya. Namun, beberapa hal baru dituangkan. “Integrasi biorefinery ke Kalamo dan aplikasi Kala Mobile untuk memaksimalkan distribusi hasil bahan bakarnya ke nelayan, juga bisa melalui koperasi,” jelas perempuan berdarah Sampit itu.
Dalam waktu lima hari, esai berhasil diselesaikan. Dari puluhan peserta, timnya berhasil masuk babak final. Karya ilmiah lain berbentuk poster dan video kreatif kemudian juga dikerjakan untuk dibawa saat presentasi di babak tersebut. Hingga pada akhirnya ketiga karya ilmiah itu sukses mendapatkan nilai tinggi dari juri.
Remaja 17 tahun itu mengungkapkan kesukaannya pada dunia menulis. Baik nonfiksi seperti karya ilmiah maupun fiksi. Rasa keingintahuan yang besar membuatnya terus mencari solusi dari persoalan yang kerap berputar di kepalanya. Ketertarikannya pada bidang lingkungan pun semakin bertambah setelah menyusun esai tersebut. “Saya berharap gagasan saya ini bisa menjadi inspirasi,” ujar Kalsya. (ika/c2/nur)
Editor : Alvioniza