Jember, radarjember - Konten berita yang lengkap, padat dan valid, tidak cukup hanya dihasilkan dari mengandalkan apa yang dilihat dan didengar oleh jurnalis.
Terutama dalam meliput kegiatan semacam seminar, workshop, orasi ilmiah, dan sejenisnya yang banyak terjadi di kampus. Seorang jurnalis kampus harus punya inisiatif melakukan wawancara dengan pihak terkait untuk pendalaman maupun membuka cakrawala yang lebih luas.
Hal itu ditegaskan Direktur Jawa Pos Radar Jember Dr. H. Abdul Choliq Baya, M.I.Kom dalam acara Sharing Session Kajian Jurnalistik yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember di Cafe d’Joglo Sempusari, Kaliwates, Jember Senin malam (28/10).
“Jurnalis mahasiswa harus kritis dan berani untuk mewawancarai narasumber agar berita yang dihasilkan sempurna,” ungkapnya.
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah ini melanjutkan, ada tiga cara menggali data sebagai bahan untuk menulis berita. Selain wawancara, cara lain bisa dilakukan melalui observasi dan investigasi. Menggali data melalui wawancara memiliki beberapa tujuan.
Pertama, mengumpulkan informasi untuk mendapatkan data yang akurat dan terpercaya dari sumbernya langsung. Kedua, mengonformasi atau klarifikasi informasi yang sudah ada sebelumnya.
“Ketiga, menggali perspektif dalam rangka mendapatkan sudut pandang atau opini narasumber tentang suatu isu atau peristiwa,” tambah Cho, panggilan akrabnya, yang membawakan materi Pendalaman Teknik Wawancara dan Menulis Berita.
Selain itu, Cho menambahkan, beberapa jenis wawancara yang bisa dipraktikkan. Juga persiapan wawancara, teknik wawancara yang efektif dan sikap atau etika jurnalis saat wawancara berlangsung.
Setelah data didapat dari hasil wawancara, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh jurnalis adalah memilih enggel untuk ditulis menjadi berita.
Dalam hal penulisan berita, doktor lulusan Unej ini mengupas empat bahasan. Mulai dari memverifikasi ulang data yang didapat agar akurat, model penulisan berita, struktur penulisan berita dan etika penulisan berita. Model penulisan ada piramida terbalik, piramida konvensional dan pararel.
Untuk struktur penulisan meliputi judul, lead (teras berita), isi berita dan penutup atau ekor berita. Sedangkan etika penulisan meliputi obyektivitas, akurasi, menghormati privasi nara sumber dan mengedepankan integritas (kejujuran).
Untuk model penulisan berita peristiwa yang banyak dikenal selama ini menggunakan piramida terbalik.
Artinya, data-data yang dinilai penting disajikan lebih dahulu. Namun, sejak berita online bisa menghasilkan cuan dari banyaknya pageview (pembaca), maka beberpa media online kembali menggunakan model piramida konvensional. Dengan meletakkan data penting berada di tengah atau di akhir berita. "Dan menjadikan konten satu berita menjadi lebih dari satu halam agar yang diklik semakin banyak,” paparnya.
Ketika diminta komentarnya tentang agenda sharing session yang mulai rutin digelar HMPS KPI, Cho menilainya positif dan sangat mendukung. Apalagi kalau materinya lebih mengarah kepada pembekalan yang bersifat praktis. Ia meminta mahasiswa KPI tidak berkecil hati meski sarana dan prasarana yang tersedia untuk praktik masih kurang memadai. “Asal ada semangat dan kemauan, insya Allah kelak para mahasiswa akan mampu berkiprah di bidang yang digeluti,” pungkasnya. (*)
Reporter: Viona Alvioniza
Editor: M. Ainul Budi
Editor : Radar Digital