Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Inovasi Dosen Polije untuk Budidaya Jamur, Sangat Bermanfaat bagi Petani

Maulana Ijal • Senin, 14 November 2022 | 02:11 WIB
FOKUS: Tim Pengabdian Masyarakat melakukan monitoring di kumbung jamur milik PT Mitra Jamur Indonesia.
FOKUS: Tim Pengabdian Masyarakat melakukan monitoring di kumbung jamur milik PT Mitra Jamur Indonesia.
JEMBER, RADARJEMBER.ID- Jamur tiram merupakan komoditas hortikultura yang cukup digemari. Dan kini, cara budidaya jamur tiram sangat mudah, serta tidak membutuhkan banyak ruang. Dalam berbudidaya jamur tiram, kondisi lingkungan tempat budidaya atau kumbung jamur harus diperhatikan untuk menekan produktivitas jamur tiram. Intensitas cahaya, suhu dan kelembaban udara di dalam kumbung harus dikontrol dan perlu penyesuaian dengan standar yang baik untuk jamur.

Biasanya, dalam musim penghujan, produktivitas jamur tiram lebih tinggi daripada musim kemarau. Karena suhu dan kelembaban pada musim penghujan mendukung jamur bertumbuh dengan baik.

Demi meningkatkan produktivitas itu, dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) membuat inovasi alat Automatic Control System (ACoSy) pada kumbung jamur tiram di PT Mitra Jamur Indonesia.

BACA JUGA: Dosen dan Mahasiswa Polije Ciptakan Smart Irigasi, Bantu UMKM Agrikultur

Dia Bitari Mei Yuana, dosen jurusan teknologi informasi dari tim Pengabdian Masyarakat Polije mengatakan, inovasi terbaru ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan jamur tiram agar tetap produktif dengan menjaga suhu dan kelembaban di dalam kumbung.

“Alat kontrol tersebut akan secara otomatis membaca suhu dan kelembaban ruangan kumbung, kemudian akan menyiram secara otomatis jika suhu dan kelembabannya belum terpenuhi,” katanya.

Selain menjaga lingkungan kumbung agar tetap nyaman bagi jamur tiram untuk tumbuh, alat itu juga sangat membantu petani dalam budidaya. AcoSy sangat membantu petani dalam penyiraman kumbung dengan efektivitas lebih baik daripada disiram manual.

“Jamur hanya akan disiram jika suhu atau kelembaban di dalam kumbung belum terpenuhi. Dan hal itu akan menjaga stabilitas lingkungan kumbung agar tetap terjaga,” ujar Bitari.

Setelah beberapa minggu menerapkan ACoSy, ternyata bukan hanya produktivitas jamur saja yang meningkat, kualitas dari jamur tiram pun juga semakin baik. Dengan lingkungan kumbung yang terjaga, yang semula grade jamur saat panen kebanyakan B atau ukuran diameter sekitar 5 – 10 cm, sekarang muncul banyak jamur tiram dengan grade A dengan diameter 10 cm lebih.

Kabar baik ini diharapkan, terus menjadi semakin baik ke depannya. Produksi jamur tiram, khususnya di Jember, dapat meningkat. Baik dalam produktivitas maupun kualitasnya. “Kebermanfaatan alat ACoSy juga dapat bermanfaat lebih luas kepada petani lain untuk mengoptimalkan jamur tiram dalam proses pembudidayaan,” pungkasnya. (*)

Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal
#Pengabdian Dosen #Polije