Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenali Kerentanan DBD pada Anak

Safitri • Jumat, 10 Juni 2022 | 18:40 WIB
Photo
Photo
KALIWATES, Radar Jember - Memasuki musim yang tidak normal ini, masyarakat diimbau untuk terus waspada dengan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia dini. Sebab, besarnya angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas berawal dari penyakit demam berdarah dengue. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum (RSU) Kaliwates Jember, dr Edga D Armina Sp A.

BACA JUGA : 32.165 Kendaraan Buatan China Dijual Tesla

Dia mengatakan, penyakit DBD tidak hanya marak di musim hujan saja. Namun, juga terjadi di musim kemarau. Apalagi cuaca sekarang masih masa peralihan, sangat rentan dengan sebaran penyakit DBD. "Berubahnya kondisi iklim sekarang harus diwaspadai. DBD tidak hanya terjadi pada musuh hujan saja. Bahkan menjelang kemarau harus diwaspadai," katanya.

Sebab, kuman patogen yang terkandung dalam nyamuk dikatakan sangat cepat menular kepada tubuh manusia. Jika tidak diantisipasi, penyakit tersebut dengan mudah menyerang organ tubuh. "Siklus kehidupan nyamuk itu hanya butuh 8 sampai 10 hari dari sejak bertelur. Pertumbuhannya sangat cepat," imbuh dr Edga saat ditemui di RSU Kaliwates.

Penyakit DBD, tambah Edga, kerap menyerang anak. Sebab, antibodi tubuh anak masih cukup lemah. Hal ini disampaikan ketika banyaknya kasus penanganan kasus DBD di RSU Kaliwates. "Anak itu sangat rentan kena DBD. Biasanya usia 5 sampai 10 tahun, penyakit ini cukup banyak yang dilaporkan," paparnya.

Bahkan, angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas disebabkan oleh DBD yang telah sampai pada fase kritis, sehingga tidak bisa ditangani. "Tahun ini, angka kematian anak dan balita di Jember cukup tinggi. Bukan hanya kurang gizi, tapi juga didominasi oleh DBD yang sudah masuk fase kritis," beber dokter cantik tersebut.

Pihaknya menjelaskan pentingnya mengenal fase penyakit DBD pada anak. Hal ini untuk meningkatkan kewaspadaan agar tidak terlambat melakukan penanganan. "Ada tiga fase penyakit DBD yang perlu diketahui. fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan," tambahnya.

Anak yang terindikasi DBD akan mengalami demam, kondisi suhu tubuh di atas normal. Beberapa organ tubuh mulai tidak berfungsi seperti biasa. Seperti organ perasa yang ada pada lidah. "Fase demam ini terjadi dua sampai tiga hari. Biasanya anak mengalami dehidrasi dan kejang demam," jelas dr Edga.

Ketika demam belum turun sampai 5 hari, maka kondisi anak telah memasuki DBD fase kritis. Situasi ini cukup membahayakan bagi tubuh anak. "Ketika sudah diobati berkali-kali, namun tidak kunjung sembuh, berarti demamnya bandel, sehingga perlu penanganan khusus. Sebab, kondisi DBD telah memasuki tahap kritis," tandasnya.

Fase ini merupakan situasi yang paling diwaspadai. Secara klinis, anak harus terpantau perkembangannya setiap hari. "Orang tua harus jeli melihat perkembangan dari hasil pengobatan pada anak. Sebab, situasi ini sangat berbahaya bagi penanganan DBD pada anak," terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Ketika anak telah mengalami perkembangan baik, maka tahap berikutnya adalah fase pemulihan. Situasi ini tidak kalah penting dengan fase sebelumnya. "Harus terpantau juga, karena masih masa beradaptasi untuk sembuh," pungkas dr Edga. (kr/mg4/c2/nur) Editor : Safitri
#RSU Kaliwates