Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Padukan Islam dan Sains, PTKI Bisa Terus Eksis

Safitri • Kamis, 28 Mei 2020 | 18:57 WIB
BINCANG VIRTUAL: Rektor IAIN Jember Prof Babun Suharto (kiri) bersama Direktur Pascasarjana IAIN Jember Prof Abd Halim Soebahar saat mengikuti diskusi webinar yang diaksaksanakan oleh Pascasarjana IAIN Jember. Diskusi itu membahas eksistensi perguruan tin
BINCANG VIRTUAL: Rektor IAIN Jember Prof Babun Suharto (kiri) bersama Direktur Pascasarjana IAIN Jember Prof Abd Halim Soebahar saat mengikuti diskusi webinar yang diaksaksanakan oleh Pascasarjana IAIN Jember. Diskusi itu membahas eksistensi perguruan tin
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pergurun Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) diyakini tengah menghadapi situasi sulit di tengah pandemi ini. Karenanya, sejumlah pihak menilai, PTKI negeri maupun swasta harus berani berinovasi agar bisa terus menjawab tantangan zaman.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra menilai, Covid-19 tak ada hubungannya dengan Islam atau agama lain. Karena hal itu diangapanya bencana global. Justru ia mengajak berbagai lapisan masyarakat agar mendorong pemerintah lebih sigap dan tanggap terhadap korona. Tak terkecuali unsur PTKI.

“Dari 17 UIN, 34 IAIN dan 7 STAIN, belum terlihat peran nyata. Karenanya untuk merespons itu, perlu mengembangkan prodi ataupun progam baru yang lebih lengkap agar lebih dinamis menjawab tantangan zaman. Termasuk menjawab persoalan Covid-19 ini,” kata mantan Rektor UIN Syarif Jakarta itu. Pernyataan itu disampaikan melalui Webinar Pascasarjana IAIN Jember, Kamis pekan kemarin.

Ia juga mendukung proses alih status PTKI saat ini. Mulai dari swasta ke negeri, dari STAIN ke IAIN, hingga dari IAIN menuju UIN.

Sementara itu, Guru Besar Universiti Islam Antarbangsa Malaysia Prof Zainal Abidin Sanusi menjelaskan, untuk tetap menjaga eksistensi PTKI, perlu ada arah dan model baru kebijakan pendidikan. Menurutnya, PTKI tidak perlu memisahkan ilmu agama dan sains, tapi harus berjalan beriringan. “Karena melalui keduanya, ada falsafah semangat ketuhanan, semangat berbangsa dan semangat kemanusiaan,” ulasnya.

Serupa dengan keduanya, Guru Besar yang sekaligus satu-satunya mantan rektor yang sempat menorehkan sejarah perubahan status tercepat dari STAIN menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Imam Suprayogo menambahkan, ke depan dalam membangun format pendidikan Islam perlu memperhatikan zahir dan fisik. “Artinya ada keterpaduan antara ilmu agama, sains dan teknologi secara proporsional,” ungkapnya.

Sehingga, lanjutnya, PTKI bisa lebih dinamis dalam menjawab tantangan zaman, termasuk menjawab tantangan wabah korona saat ini. “Makanya, transisi jangan nanggung. Seperti saya dulu, STAIN langsung UIN,” imbuhnya disambut tawa peserta webinar.

Diskusi virtual yang dikemas Ngobrol Bareng Santai (NgoBras) itu mendapat berbagai respons positif. Karena menghadirkan narasumber yang sudah berpengalaman.

Direktur Pascasarjana IAIN Jember Prof Abd Halim Soebahar mengaku, kegiatan ini bisa menjadi spirit baru bagi pihaknya dalam mengembangkan PTKI. "Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari pertemuan daring ini,” pungkasnya. (kl) Editor : Safitri
#Jember