Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesenian Tradisional Kentrung, Seni Bertutur, Bermusik, dan Berpantun Warisan Budaya yang Masih Bertahan di Bondowoso

Radar Digital • Minggu, 24 Desember 2023 | 18:40 WIB

 

Photo
Photo

Permainan tradisional sangat erat kaitannya dengan kebudayaan dan seni. Salah satunya kesenian kentrung. Di tengah zaman modern seperti ini, seni kentrung bertahan sebagai warisan budaya yang berharga, seperti yang ada di Bondowoso. Lantas, apa itu seni kentrung?

MENDENGAR kata kentrung, bisa jadi mengarah kepada alat musik yang dimainkan dengan petikan. Orang menyebut gitar mini atau ukulele. Namun, kentrung di sini bukan alat musik. Kentrung adalah kesenian tradisional dari seni sastra lisan atau seni bertutur hingga seni peran yang diiringi tabuhan.

Junaedi adalah pegiat seni yang sudah puluhan tahun melestarikan kesenian kentrung. Saat ditemui di rumah sekaligus sanggarnya, Kamis (20/12) lalu, dia bercerita bahwa seni permainan kentrung telah ada di Bondowoso sejak tahun 1940-an. Ada tiga nama terkenal yang memelopori adanya kentrung di Bondowoso, yakni Nur Hadi, Nur Kacung, dan Nur Bakri. Mereka bertiga disebut Trio Nur.

Pria yang akrab disapa Cak Jun tersebut menerangkan, seni kentrung adalah gabungan antara seni musik, seni peran, sastra lisan, dan lawak. Pada umumnya kentrung dimainkan oleh tiga orang. Kadang juga empat orang. Ketiganya memegang alat musik yang sama, yakni rebana yang kendur, tidak kencang seperti hadrah. “Tiga orang itu terdiri atas pengatur cerita, atau istilah Madura-nya disebut pak-pakan, yaitu yang bertugas mengatur serangan dan menyelesaikan masalah dalam cerita. Kedua sang biang kerok, yang memancing masalah. Ketiga namanya pesakitan, peran yang selalu kalah,” ungkap Junaedi.

Namun, ketiga pemain tersebut dijuluki berdasarkan fungsinya. Pertama, pemain yang alat musiknya dimainkan laksana fungsi gong, kedua seperti kendang, dan ketiga layaknya kenong. “Memang alat musik kentrung mirip dengan alat musik hadrah. Namun, penyebutan gong, kendang, dan kenong itu sebatas fungsinya saja,” ungkap Cak Jun.

Pria asal Curahdami tersebut mengakui bahwa seni kentrung bukan asli Bondowoso. Kentrung sebenarnya dapat juga dijumpai di daerah Jawa Timur lainnya, seperti Surabaya dan Tuban. Namun, Bondowoso memiliki kentrung dengan ciri khas, terdiri atas tiga orang pemain. “Meskipun kentrung itu seni peran, tapi beda dengan drama. Kentrung itu sebentar-sebentar berpantun. Kadang juga dilagukan pantunnya, dalam bahasa Madura,” ungkap pria yang sudah belasan tahun mengepalai Group Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso tersebut.

Meskipun kentrung merupakan seni tradisional, namun sekarang sudah ada inovasi. Disebut dengan kentrung milenial. Ada tambahan empat pemegang musik. Ada pula modifikasi bentuk musik kentrung. Awalnya bulat, sekarang ada pula yang berbentuk persegi enam. “Jadi total ada tujuh orang. Tujuannya agar musik terdengar lebih ramai. Karena pentas hiburan sekarang butuh yang meriah. Musiknya juga lebih enak karena ada tiga instrumen pendukung lainnya,” tambah Cak Jun.

Cak Jun mengaku, grup kentrung yang ia kelola ini bisa disebut sebagai kentrung elite. Sebab, sering main di acara-acara pemerintahan. Seperti di pendapa, dinas-dinas, dan hotel. “Kadang acara serah terima jabatan dan acara seremonial lainnya. Kadang bisa diundang ke luar kota juga. Tuban, Surabaya, bahkan Jakarta,” katanya. (mg1/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#seni budaya #Bondowoso