Siang itu, jaranan dengan alunan musiknya menghibur banyak orang di Desa/Kecamatan Mumbulsari. Jaranan yang didatangkan dari Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, itu mampu membius banyak warga di sana. Jaranan itu khas. Ada unsur mistis yang dipercaya masyarakat.
Puji Jaya Susanto, 31, pegiat kesenian jaranan di Jember, mengatakan, dalam kesenian jaranan ada banyak hal yang unik. Mulai dari para pemain musik, suara terompetnya yang khas, sampai penari jaranan. “Jaranan itu banyak kategorinya. Mulai dari yang lucu hingga atraksi yang menegangkan,” katanya.
Untuk bisa menjadi pemain jaranan, pastinya harus berlatih menari. Hal itu tidak dapat dilakukan oleh semua orang, karena ada proses belajar menari terlebih dahulu. Orang-orang yang tidak biasa menari, rata-rata untuk menampilkan pertunjukan seni tari itu akan sulit. Terkecuali belajar tari terlebih dahulu.
Dikatakan, jaranan erat kaitannya dengan unsur magis. Orang bisa saja tidak mempercayainya. Akan tetapi, setelah penampilan tari banyak disajikan di depan publik, sejumlah pemain biasanya ada yang seperti kesurupan. Hal itu tidak boleh ditiru karena aksinya berbahaya.
Atraksi jaranan kemudian bukan sekadar menari. Ada atraksi yang sulit ditiru oleh orang lain. Yaitu saat jaranan “ndadi”, mereka bisa mengupas kelapa, bahkan mengunyah beling.
Jaranan ini pun punya banyak jenis. Salah satunya adalah kuda lumping. Saat tampil, biasanya anak-anak juga menyukainya. Namun, saat jaranan mulai ndadi, penonton tidak boleh mendekat. Tontonan itu di Jember hampir setiap hari ditampilkan. Namun, mereka pindah-pindah tempat untuk menghadiri undangan warga.
“Kalau sudah mulai kesurupan, maka kru yang lain harus siap siaga untuk bisa menjaga area agar kondusif,” katanya di sela-sela permainan jaranan yang tampil.
Berkat undangan warga di acara pernikahan, sunatan, maupun acara lain, para pelaku seni tari jaranan ini pun mampu bertahan. Mereka berharap banyak orang yang tetap gemar terhadap kesenian warisan nenek moyang tersebut. (c2/nur) Editor : Safitri