Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sudah Go International, Masih Ingin Jajaki Semua Event di Berbagai Negara

Alvioniza • Selasa, 27 Juli 2021 | 16:10 WIB
SOLID: Anggota Karang Taruna Wira Bhakti Mandiri (WBM) berpose seusai menambal jalan berlubang di Jalan Moh Yamin, Tegalbesar, Kaliwates, belum lama ini.
SOLID: Anggota Karang Taruna Wira Bhakti Mandiri (WBM) berpose seusai menambal jalan berlubang di Jalan Moh Yamin, Tegalbesar, Kaliwates, belum lama ini.
KALIWATES, RADARJEMBER.ID- KAMAR kos berukuran 3x3 meter persegi di sekitar Lingkungan Karang Mluwo, Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember itu sepintas tak ada yang mewah. Di dalamnya hanya ada lemari, alas tidur, tumpukan buku, dan beberapa ornamen lukisan khas. Beberapa terpajang dan sebagian lagi tergeletak.

Begitulah gambaran rumah kos yang ditempat Ahmad Yasir Amrullah, mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Namun siapa sangka, di kamar sederhana milik pemuda 26 tahun ini, tangan dinginnya mampu melahirkan berbagai karya seni yang sudah melanglang buana ke berbagai event di belahan dunia. "Kesibukannya masih ngajari adik-adik saya. Dan saya sendiri juga masih belajar seni ini ke lembaga khusus di Kabupaten Jombang," katanya, membuka percakapan.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (26/7), mahasiswa rantau asal Kabupaten Oku Timur, Sumatera Selatan, ini terlihat biasa. Mirip mahasiswa kebanyakan. Dia berperawakan kalem dan murah senyum. Sebagai seniman arabesque, dia bukanlah pendatang baru. Tepatnya sejak masih duduk di bangku SMP, Yasir sudah menekuni seni kaligrafi tersebut.

Saat SMP itu dia masih di pondok pesantren. Ketertarikannya pada seni muncul kala di pondok mulai diajarkan seni kaligrafi, namun belum spesifik ke arah seni arabesque. Rupanya, ketertarikan itu berlanjut hingga SMA sampai ia lulus sekolah. "Saya kemudian lulus pada 2011 itu sempat ikut kursus seni di Jakarta. Namun terhenti karena kendala biaya," kenangnya.

Dari situ, kata dia, Yasir belum mengaku sepenuhnya mewujudkan keinginannya itu. Setahun berikutnya, akhirnya ia memilih hijrah ke Jember untuk menempuh pendidikan sarjana. "Nah, pada 2013, saya mulai mengikuti sekolah kaligrafi lagi di Jombang untuk melanjutkan keinginan saya mendalami seni ini," terangnya.

Hasratnya di bidang seni seketika membara. Ia pun mulai mencoba-coba ikut serta event lomba seni kaligrafi atau arabesque. Bahkan, lombanya di tingkat internasional. Terbaru, ia menyandang juara harapan dua saat event maraton arabesque selama satu bulan yang dihelat di Dubai, pasca-Lebaran kemarin atau pertengahan Mei lalu. "Saat itu, ada seribu lebih karya dari total sekitar 68 peserta dari berbagai dunia," ujarnya.

Tak sampai di situ, jauh sebelum event tersebut digelar, Yasir sudah beberapa kali tercatat sebagai peserta dalam ajang lomba seni yang diselenggarakan oleh berbagai negara. Tahun 2019 lalu, misalnya, ia mengikuti arabesque yang diselenggarakan oleh asosiasi seniman di Berlin, Jerman. Di tahun yang sama, juga mengikuti event yang diselenggarakan oleh Irak. Lalu pada 2018 lalu, mengikuti event sejenis yang diselenggarakan oleh Turki.

Sepertinya, ia ingin lebih banyak lagi mengikuti berbagai event internasional itu demi menimba banyak ilmu dan pengalaman. "Khusus di Turki, ini event paling berkesan dan berkelas. Karena di Turki terkenal kandangnya para seniman arabesque. Dan itu banyak dari kalangan ulama terkemuka," sebutnya.

Kini, di tengah kesibukannya ngopeni anak didiknya, ia juga tengah mengikuti event seni arabesque yang sedang diselenggarakan oleh Kanada. Kata Yasir, semua event yang diikutinya itu dilakukan secara daring, namun ia mengirimkan karya seninya melalui pos luar negeri ke negara penyelenggara. "Semoga yang di Kanada nanti itu bisa juara. Kabarnya akan diumumkan akhir bulan ini, atau awal Agustus mendatang," ungkapnya.

Baginya, hasrat menuangkan ide dan gagasan melalui secarik kertas dan kanvas tak semuanya tentang kepuasan dan nilai seni. Namun, lebih dari itu, ada spirit berharga di dalamnya. Bahkan, Yasir mempercayainya banyak memiliki makna filosofi kehidupan. Selain itu, ia juga banyak memahami berbagai karakter dan corak arabesque dari berbagai negara yang diikutinya itu. Ia juga semakin terlatih kemampuannya berbahasa Inggris, apalagi bahasa Arab. "Bahasa Arab bisa, kalau bahasa Inggris baru percakapan saja bisanya," kata mahasiswa yang baru saja merampungkan tesisnya di Prodi Bahasa Arab Pascasarjana UIN KHAS Jember ini.

Sebagai mahasiswa rantau, rindu kampung halaman jelas ia rasakan. Namun, bakatnya itu membuatnya serasa memiliki tugas yang menjadi target ke depannya. Bagi dia, belajar itu tidak mengenal waktu. Materi boleh selesai, tapi pendalaman itu tidak ada batasan waktu. Dan hal itu ia jalani sendiri. "Meski saya mengajar seni ini, tapi masih sekolah seni di Jombang sampai sekarang. Belum mau lulus," akunya. "Semoga saja nanti bisa menerbitkan karya buku tentang arabesque ini," sambungnya. (c2/rus)

Reporter : Maulana
Fotografi : Istimewa
Editor : Mahrus Sholih Editor : Alvioniza
#Kesenian #UIN KHAS Jember