MANGLI, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember melakukan aksi demonstrasi di halaman rektorat, kemarin (23/7). Mereka menuntut keringanan uang kuliah tunggal (UKT), karena selama ini mahasiswa tidak puas atas keringanan UKT yang telah diberikan oleh kampus pada semester sebelumnya. Sebab, penerimanya hanya sedikit dan penurunannya hanya 20 persen.

“Ada dari mahasiswa yang berkasnya lengkap dengan penurunan hanya satu grade. Kami ingin, meskipun berkas tidak lengkap, bisa turun grade dua yang nilainya sampai 800,” ungkap Muhammad Fahmi, koordinator lapangan (korlap) aksi. Adapun grade penurunan UKT tersebut dimulai dari grade pertama senilai Rp 400 ribu, kemudian grade dua senilai Rp 800 ribu.

Unjuk rasa tersebut diwarnai dengan aksi pembakaran ban dan sampah di depan rektorat. Bahkan, sejumlah mahasiswa sampai menyegel gedung rektorat dengan banner yang ditulisi pesan tuntutan menggunakan cat semprot. Selain itu, mahasiswa juga ada yang berteriak, memegang poster, bahkan ada yang sampai meletakkan poster di pintu-pintu ruangan yang berada di gedung rektorat tersebut.

SAMPAIKAN ASPIRASI: Aksi demonstrasi mahasiswa UIN KHAS Jember, kemarin (23/7). Selain membakar ban dan menyegel gedung rektorat, mahasiswa juga melakukan corat-coret dengan kalimat berisi tuntutan.

Menurut Muhammad Fahmi, setidaknya hampir seratusan mahasiswa yang turun melakukan aksi itu. “Ada hampir seratus orang. Sebagian mereka sudah bubar dan sebagian ada di dalam untuk menyegel rektorat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, aksi demonstrasi ini menjadi alternatif terakhir agar ditanggapi oleh pihak kampus. Sebab, sebelumnya dewan eksekutif mahasiswa dan senat eksekutif mahasiswa telah melakukan audiensi bersama rektorat. Namun, hasil rapat tersebut tidak ada hasilnya bagi mahasiswa.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, Wakil Rektor III UIN KHAS Jember Dr Hefni Zain tampak menanggapi aspirasi mahasiswa. Dia menyebut, pihaknya memberi ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya. “Memang sudah biasa mahasiswa melakukan aksi. Kami beri ruang saja, dan kami tanggapi keinginan mereka,” tuturnya.