RADAR JEMBER - Sosok Habib Sholeh dari Tanggul, Jember, bukan hanya menjadi figur spiritual yang disegani, tapi juga dicintai dengan begitu dalam oleh umat.
Menariknya, nama “Habib Sholeh Tanggul” bukanlah pemberian keluarga, bukan pula gelar resmi. Julukan itu lahir dari mulut para pecinta, dari hati mereka yang terikat pada karisma dan keberkahan sang habib.
Julukan Itu, Hadiah Cinta dari Umat Banyak yang tak menyadari, nama “Habib Sholeh” bukanlah sesuatu yang langka.
Baca Juga: Simak Bacaan Sholawat Mansub Habib Sholeh Tanggul Lengkap dengan Latin dan Artinya
Hampir di setiap wilayah di Indonesia, bisa ditemui tokoh agama dengan nama tersebut.
Namun, untuk membedakan dan mempermudah mengenang, para pengikut memberikan tambahan: Tanggul. Maka lahirlah nama yang kini akrab di telinga: Habib Sholeh Tanggul.
Tradisi ini bukan hal baru dalam dunia pesantren atau tarekat.
Sebagaimana masyarakat menyebut Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Kyai Hasan Genggong, Mbah Moen Sarang, Kyai Jauhari Kencong, Kyai Hannan Manggisan, Gus Miek Ploso, Mbah Anwar Lirboyo, dan Masayikh Sidogiri — semua nama itu adalah hasil ungkapan cinta, bukan formalitas institusional.
“Nama Tanggul itu bukan asal copot dari peta, tapi penanda memori. Saat kita sebut Tanggul, yang terbayang bukan hanya tempat, tapi aura, kisah, dan keharuman Habib Sholeh,” ujar seorang jemaah pengajiannya di Jember yang enggan disebutkan namanya.
Editor : M. Ainul Budi