Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menelusuri Makna Syawalan dan Sejarah Panjang Tradisi Kupatan di Tanah Jawa

M. Ainul Budi • Selasa, 24 Maret 2026 | 08:32 WIB
DIPAKAI SELAMATAN: Ketupat dan serabi menjadi hidangan selamatan warga Maesan. Mereka meyakini bahwa doa dan memberi serabi serta ketupat dapat mencegah penyakit.
DIPAKAI SELAMATAN: Ketupat dan serabi menjadi hidangan selamatan warga Maesan. Mereka meyakini bahwa doa dan memberi serabi serta ketupat dapat mencegah penyakit.

RADAR JEMBER - Perayaan Idulfitri di tanah Jawa tidak hanya berhenti pada momen salat Id dan silaturahmi di hari pertama.

Masyarakat Jawa memiliki tradisi unik yang telah turun-temurun dilakukan, yakni Syawalan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lebaran Ketupat (Kupatan).

Baca Juga: 12 Tradisi Lebaran Unik yang Hanya Ada di Indonesia, Salah Satunya di Jember

 Tradisi ini biasanya dirayakan seminggu setelah 1 Syawal, tepatnya setelah menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Kupatan bukan sekadar pesta makan bersama, melainkan simbol permohonan maaf dan kebersamaan yang memiliki akar sejarah mendalam, memadukan nilai religius Islam dengan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Filosofi di Balik Sebutir Ketupat

Secara etimologi, kata "ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa memiliki filosofi ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Baca Juga: Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulftri

 Empat tindakan tersebut meliputi lebaran (pintu ampunan terbuka), luberan (melimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (menjaga kebersihan diri/putih).

Mengenai asal-usul dan makna mendalam dari tradisi ini, seorang budayawan memberikan ulasan terkait bagaimana tradisi ini pertama kali diperkenalkan dan maknanya bagi kehidupan sosial masyarakat Jawa.

Editor : M. Ainul Budi
#kupatan #syawalan #TRADISI #ketupat #sejarah #syawal