BONDOWOSO, Radar Jember - Tradisi nyekar yang dilakukan masyarakat Jawa bukan sekadar rutinitas menjelang Ramadan atau Lebaran. Di balik tabur bunga dan doa yang dipanjatkan, tersimpan proses parenting yang sunyi namun kuat.
Orang tua secara tidak langsung menanamkan empati, kesadaran spiritual, sekaligus penghormatan kepada leluhur sejak dini. Termasuk mendidik anak untuk berdoa ke orang tuanya.
Dalam praktiknya, anak-anak diajak membersihkan makam, menabur bunga, lalu membaca doa bersama. Aktivitas sederhana ini menjadi ruang pendidikan keluarga yang tidak tergantikan.
Baca Juga: Dilema Perlintasan Sebidang Mangli: Aliran Kendaraan Terputus, Waktu Tunggu Melambung Berkali Lipat
Anak belajar tentang kematian secara natural, bukan menakutkan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, M Farhan, menilai nyekar memiliki fungsi pendidikan karakter yang kuat dalam keluarga muslim. Menurutnya, tradisi ini mengajarkan empati sekaligus memperkuat dimensi spiritual anak.
“Ketika anak diajak ziarah, mereka belajar bahwa orang yang sudah meninggal tetap harus dihormati dan didoakan. Itu membentuk kepekaan batin sekaligus kesadaran tentang kehidupan setelah mati,” ujarnya.
Farhan menjelaskan, dalam perspektif Islam, ziarah kubur dianjurkan karena mengingatkan manusia pada kematian dan akhirat. Anak yang terbiasa mengikuti orang tua nyekar akan tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup tidak hanya soal dunia, tetapi juga tanggung jawab spiritual.
Secara tidak langsung, anak akan mengetahui bahwa mendoakan orang tuanya itu perlu. Baik yang telah tiada maupun yang masih hidup.
Baca Juga: Kabar Gembira! Gus Fawait Pastikan THR ASN dan PPPK Paruh Waktu Jember Cair Mulai Senin Ini
Selain itu, momen nyekar biasanya diiringi cerita keluarga tentang sosok yang telah wafat. Dari sinilah anak memahami asal-usulnya, mengenal nilai perjuangan orang tua atau kakek-neneknya, serta belajar menghargai sejarah keluarga.
Menurut Farhan, di tengah gaya hidup modern, tradisi ini justru semakin penting. “Nyekar bukan sekadar budaya, tetapi sarana parenting berbasis nilai Islam.
Anak belajar empati, bakti, dan kesadaran diri tanpa harus digurui,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika kebiasaan ini ditinggalkan, maka keluarga berisiko kehilangan salah satu media pendidikan karakter paling sederhana namun efektif. Nyekar, kata dia, adalah sekolah sunyi yang membentuk hati anak agar tetap lembut, beriman, dan menghargai ikatan keluarga lintas generasi. (faq/dwi)
Editor : Dwi Siswanto