RADAR JEMBER - Tradisi haul atau peringatan wafatnya tokoh agama bukan hal asing dalam masyarakat Muslim di Indonesia.
Haul bukan hanya menjadi momen mengenang jasa ulama, tetapi juga ajang silaturahmi, dakwah, dan penguatan spiritual umat.
Namun yang jadi pertanyaan, di mana saja sebenarnya haul digelar?
Apakah benar acara haul hanya ramai ditemukan di Pulau Jawa?
Faktanya, tradisi haul tidak terbatas hanya di Jawa, meskipun pulau ini memang menjadi pusatnya.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, haul digelar secara masif dan terstruktur, mulai dari desa hingga skala nasional.
Contoh yang paling dikenal adalah Haul Gus Dur di Jombang dan Haul KH Maimoen Zubair di Sarang, Rembang.
Ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah rutin hadir di acara ini setiap tahun.
Begitu juga dengan Haul Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi di Kwitang, Jakarta, yang sudah berjalan lebih dari satu abad.
Di Jawa Barat, nama Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta Utara, juga dikenal karena haulnya yang selalu padat jamaah dari berbagai provinsi.
Namun haul tak berhenti di Jawa saja.
Di Kalimantan Selatan, tradisi haul juga sangat kuat, terutama Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura.
Acara ini disebut sebagai haul terbesar di Asia Tenggara, dihadiri jutaan jamaah setiap tahunnya.
Bahkan jemaah datang bukan hanya dari Indonesia, tapi juga Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah juga memiliki tokoh agama yang haulnya rutin digelar dan dihadiri ribuan orang.
Di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, terdapat Haul Dato’ Tiro dan ulama lokal lainnya yang masih rutin dirayakan oleh masyarakat.
Di Aceh dan Sumatera Barat, meski istilah "haul" mungkin kurang populer, masyarakat tetap mengadakan peringatan ulama dalam bentuk kenduri atau zikir akbar.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi menghormati ulama yang telah wafat bersifat nasional, meskipun dengan istilah dan kemasan yang berbeda-beda.
Salah satu faktor mengapa haul terlihat dominan di Jawa adalah karena tingginya populasi Muslim dan konsentrasi pesantren di wilayah ini.
Jawa juga memiliki lebih banyak tokoh agama yang terkenal secara nasional, sehingga liputan medianya pun lebih masif.
Namun dengan berkembangnya media sosial dan kesadaran sejarah lokal, haul di luar Jawa juga mulai dikenal lebih luas.
Bahkan kini, haul tak hanya diliput secara lokal, tapi juga disiarkan langsung lewat YouTube dan media digital lainnya.
Jadi, anggapan bahwa haul hanya ramai di Jawa adalah kurang tepat.
Tradisi ini adalah bagian dari budaya Islam Nusantara yang menyebar di seluruh pelosok negeri.
Penulis: Ailatul Miza Zulfa
Editor : M. Ainul Budi