RADAR JEMBER - Di balik suasana khidmat dan spiritual yang menyelimuti acara haul, ada satu sisi lain yang tak bisa diabaikan: simbol kekuatan sosial-politik.
Acara haul, terutama yang berskala besar seperti haul Mbah Priok, haul Habib Ali Kwitang, atau haul Habib Lutfi, kerap menjadi titik temu antara agama, budaya, dan kekuasaan.
Hadirnya tokoh-tokoh politik dalam acara haul bukan hal baru.
Mulai dari kepala daerah, anggota DPR, hingga tokoh partai politik, banyak yang hadir dalam rangkaian haul untuk “menyapa” massa yang berkumpul.
Bagi mereka, haul adalah ruang efektif untuk menunjukkan kedekatan dengan akar rumput dan simbol religiusitas.
Haul pun menjadi simbol “legitimasi moral” bagi pejabat publik.
Dengan tampil dalam acara haul, mereka seakan menunjukkan diri sebagai sosok yang agamis, dekat dengan ulama, dan menghormati tradisi Islam.
Dalam logika politik, ini adalah bentuk komunikasi simbolik yang kuat.
Haul juga memainkan peran dalam peta dukungan massa berbasis kultur.
Tokoh agama yang disegani kerap memiliki basis pengikut loyal. Maka, kehadiran dalam haul bisa menjadi sinyal politik yang menggiring preferensi publik menjelang pemilu atau pilkada.
Namun, ini juga menimbulkan kritik.
Baca Juga: Mengungkap Jejak Putri Duyung: Dari Mitos Kuno, Filosofi Laut, hingga Cerita Rakyat Dunia
Sebagian kalangan menilai kehadiran politikus dalam haul bisa menggeser makna spiritual menjadi ajang pencitraan. Apalagi jika kehadiran mereka hanya muncul saat tahun politik.
Meski begitu, realitas di lapangan tak bisa disangkal. Haul tetap menjadi medium simbolik yang efektif bukan hanya untuk menyambung silaturahmi spiritual, tapi juga untuk menyampaikan pesan-pesan kekuasaan secara halus.
Penulis: Ailatul Miza Zulfa
Editor : M. Ainul Budi