Seperti yang disampaikan Alfiyatul Hasanah. Kata dia, sudah menjadi tradisi keluarga, setiap Lebaran harus ada ketupat di meja makannya. Apalagi saat hari pertama Lebaran, momen silaturahmi dan berkumpulnya keluarga serta makan bersama.
"Tidak Lebaran kalau tidak ada ketupatnya. Biasanya, nanti didampingi opor sama semur," ungkapnya.
Tak hanya Alfiyah, nampaknya banyak warga lain yang masih setia melakukan tradisi tersebut. Hal itu juga memengaruhi penjualan ketupat di pasaran. Seperti yang dialami Wasilah, salah seorang penjual ketupat di Pasar Tanjung. Dia mengaku kebanjiran pembeli sejak dua hari sebelum Lebaran.
Dari tahun ke tahun, ketupat selalu menjadi makanan yang diburu masyarakat. Meski telah banyak makanan modern yang mungkin rasanya tak kalah enak. Bahkan pada saat pandemi seperti saat ini, masyarakat tetap membeli ketupat.
"Setiap tahun mesti jualan di sini, dan selalu ramai yang beli. Sudah jadi kebiasaan banyak orang, beli ketupat mulai dua hari sebelum Lebaran. Besoknya ini juga tambah ramai lagi," paparnya.
Ketupat milik Wasilah dijual seharga Rp 8.000 hingga Rp 10 ribu per ikat. Tergantung besarnya ukuran ketupat. Sedangkan dalam satu ikat berisi sebanyak sepuluh biji ketupat. "Ada yang besar ada yang kecil. Kalau yang kecil delapan ribu, yang besar sepuluh ribu," pungkasnya.
Reporter: mg1
Fotografer: mg1
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri