JAKARTA, Radar Jember - Badai hebat tengah menghantam Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Politikus seniornya, Grace Natalie, kini harus berjuang sendirian menghadapi gelombang laporan hukum setelah resmi dipolisikan oleh aliansi gabungan 40 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam ke Bareskrim Polri, Senin (4/5/2026).
Prahara ini dipicu oleh unggahan video di akun Instagram @gracenat pada 13 April 2026. Dalam konten tersebut, Grace mengomentari ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), mengenai konsep mati syahid yang disampaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Video itu dituding telah dipotong dan menyimpangkan makna asli ceramah tokoh bangsa tersebut.
Alih-alih memberikan perlindungan, DPP PSI justru mengambil jarak aman. Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menegaskan bahwa apa yang dilakukan Grace adalah tanggung jawab personal, bukan instruksi partai.
"Secara kelembagaan, kami pastikan tidak akan memberikan bantuan hukum secara kelembagaan kepartaian. Karena hal ini hal-hal yang harus dipertanggungjawabkan secara pribadi," tegas Ahmad Ali di Kantor DPP PSI, saat dikutip Selasa (5/5/2026).
Meskipun secara personal rekan-rekannya di PSI menyatakan solidaritas sebagai sahabat, namun secara organisatoris, Grace dilepas untuk menghadapi proses hukum di Bareskrim sendirian.
Baca Juga: Sembako Makin Mahal, Pasar Murah Legislator PKB Ini Laris Manis Diserbu Warga
Di hari yang sama dengan pengumuman lepas tangan partai terhadap Grace, kabar mengejutkan kembali datang dari internal PSI. Pakar komunikasi sekaligus kader vokal, Ade Armando, memutuskan hengkang dari partai berlambang gajah berkepala merah tersebut.
Ade mengaku merasa terbebani karena kritik dan hujatan publik yang menyerangnya justru ikut mencoreng citra partai.
"Tidak adil ya, kalau bapak-bapak, ibu-ibu di PSI harus juga menanggung akibat dari apa yang saya sampaikan," kata Ade dalam konferensi pers yang emosional.
Editor : Maulana RJ