Rombongan PKS datang ke Kantor KPU sambil mengenakan beragam pakaian tradisional dari berbagai daerah. Mereka ditemui oleh para Komisioner KPU Jember.
BACA JUGA: Mantan Kades hingga Pensiunan PNS Warnai Komposisi Bacaleg Perindo Jember
Ketua DPD PKS Jember Sudiyanto menyebut, alasan dirinya bersama rombongan mengenakan kostum adat daerah tersebut karena ingin menunjukkan bahwa PKS merupakan parpol yang memiliki identitas kemasyarakatan, identitas kebudayaan, dan berbagai identitas latar belakang lainnya.
"Ini yang merupakan bagian dari keberagaman di Indonesia. Jangan sampai identitas bangsa kita ini lenyap satu per satu hanya karena kontestasi politik. Karena itu perlu saling toleransi, saling menghargai, saling menjaga dan gotong royong. Itu yang kami ingin wujudkan," katanya.
Kedatangan PKS saat itu genap membawa 50 bacalegnya. Menurut Sudiyanto, para bacaleg PKS Jember untuk Pemilu 2024 nanti, berasal dari beberapa golongan yang memiliki perbedaan latar belakang. Ada dari suku Jawa, Madura, kalangan santri, dan sebagainya.
Dari ke-50 bacaleg, komposisinya diisi oleh kelompok pengusaha maupun milenial. Bahkan ada yang terbilang cukup muda, yakni berusia 21 tahun. Mereka adalah Abdul Rokhim asal Kesilir, Wuluhan, serta Khusnul Khotimah asal Kalisat.
Sudiyanto menyebut, alasan yang mendasari DPD PKS Jember mendorong Bacaleg muda karena soal bonus demografi rakyat Indonesia yang didominasi milenial, di usia 17-24 tahun. Pada rentang usia tersebut merupakan kategori pemilih pemula.
Ia menambahkan, rasa optimistis itu juga berangkat karena banyaknya kalangan relawan yang mendukung pencapresan Anies Baswedan pada Pilpres 2024, yang itu berkolaborasi dengan PKS.
"Kami ingin yang kalangan muda-muda ini sudah mulai tampil dan belajar. Meski baru berusia 21 tahun, insyaallah mereka bisa membawa aspirasi kaum muda," kata Sudiyanto.
Khusnul Khotimah, salah satu bacaleg PKS Jember yang masih berusia 21 tahun, mengungkapkan, sebenarnya ia tidak ada niatan hendak mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Namun, setelah adanya dorongan dan dukungan dari keluarganya, ia memberanikan diri maju. "Selain untuk memenuhi kuota 30 persen perempuan, saya juga telah memperoleh restu kedua orang tua," pungkasnya. (*)
Reporter: Maulana
Editor : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital