Radar Jember - Perkembangan dunia digital turut mengubah pola pikir manusia.
Sejak lahir, generasi zilenial (Gen Z) sudah tumbuh bersama internet.
Ini juga yang kian membuat mereka berpikir bahwa dunia pertanian tidak relate dengan kehidupannya.
Bagaimana jika pertanian didekatkan dengan cara mereka.
Kiranya ada harapan besar yang bisa disambut di masa mendatang.
Kehadiran smart farming dalam dunia pertanian yang semakin menguat perannya di abad 21 ini tidak hanya meningkatkan produktivitas hasil panen.
Namun, juga digadang-gadang mampu memunculkan gairah anak muda terjun ke bidang pertanian.
Memotret blueprint pengembangan Internet of Things (IoT) di greenhouse baru Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember di kebun pendidikan Jalan Sriwijaya, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, salah satunya.
Sistem pertanian presisi bakal menjadi objek pembelajaran bagaimana smart farming bekerja.
Tidak terbatas untuk mahasiswa pertanian, tapi juga masyarakat umum.
Dekan Faperta Unmuh Jember Saptya Prawitasari mengatakan, terobosan smart farming greenhouse (GH) tengah dirancang.
Dua GH seluas 250 meter persegi itu berdampingan.
Rabu (7/5) lalu, 40 bibit tanaman anggur dengan berbagai varietas ditanam sebagai permulaan aktivasi GH.
Delapan varietas Akademik, Ninel, Transfigurasi, Gozu, Tamaki, Urum, Heliodor, dan Takrifan, tidak hanya menjadi tanaman budi daya.
Namun, juga objek praktikum dan penelitian mahasiswa.
"Praktikum lapang bagi mahasiswa, Agroteknologi untuk teknologi budidayanya, pemasaran pada mahasiswa Agribisnis, dan pascapanen untuk mahasiswa Teknik Industri Pertanian," papar Saptya.
Tanaman anggur merah, hijau, dan hitam yang ditanam di dalam smart farming greenhouse itu nantinya akan full menggunakan sistem IoT.
Mulai dari aplikasi nutrisi, pengukuran pH, kepekatan pupuk, penyiraman, hingga suhu.
Pengaturan maupun treatment bisa dilakukan dari jarak jauh karena berbasis Android.
Begitu pun di GH sampingnya yang akan ditanami 700 populasi golden melon hidroponik dengan sistem NFT.
Mulai panen perdana nanti, kedua GH itu rencananya juga akan dibuka untuk umum.
Menjadi sarana edukasi tentang teknologi IoT, hidroponik, maupun budi daya anggur juga melon.
"Ke depan kami berencana akan membuka pelatihan budi daya anggur dan melon untuk umum juga," kata dosen Fakultas Agribisnis itu.
Saptya menuturkan, ini bukan semata mengembangkan teknologi.
Smart farming diharapkan menjadi gerbang untuk menarik minat mahasiswa pertanian lebih dalam lagi pada dunia pertanian.
Bukan hanya teori, tapi melanjutkan kehidupannya kelak di bidang yang sama.
Dia menilai, selama ini banyak mahasiswa pertanian pascalulus enggan bergelut pada bidang keilmuannya.
Mindset menjadi petani masih sebatas pada pertanian konvensional.
Padahal, zaman serbateknologi membuat pertanian modern sangat mungkin dikembangkan.
"Kami mencoba melakukan pendekatan kepada mereka lewat kebiasaannya dengan dunia digital. Kami dekatkan pertanian dengan kesenangannya," ulasnya.
Tanpa meninggalkan pertanian konvensional, teknologi smart farming juga dibangun.
Dia berharap mindset mahasiswa terbangun.
Tak hanya lewat wawasan di bangku kuliah, tapi juga pengalaman lapang.
Sejak dari hulu, on-farm, sampai hilir. (sil/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh