Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Buah-Buahan Hasil Produk Rekayasa Genetika di Jember Aman Dikonsumsi

Ivona • Rabu, 13 November 2024 | 17:57 WIB

 

TETAP BAIK: Rekayasa genetika pada buah-buahan aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan alergi. Sementara itu, semangka tanpa biji bukan produk GMO dan aman dikonsumsi.
TETAP BAIK: Rekayasa genetika pada buah-buahan aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan alergi. Sementara itu, semangka tanpa biji bukan produk GMO dan aman dikonsumsi.
SUMBERSARI, Radar Jember - Produk pertanian melalui proses genetically modified organism (GMO) atau produk rekayasa genetika (PRG) masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Ada yang pro dan kontra. Tak sedikit yang khawatir akan dampaknya terhadap kesehatan apabila dikonsumsi dan dampak keanekaragaman hayati yang bisa mengganggu kelestarian tanaman induknya (asli).

Perbincangan yang sering hadir adalah keraguan akan keamanannya. Seperti kekhawatiran bisa menimbulkan alergi hingga terjadi mutasi gen di dalam tubuh seusai mengonsumsi hasil PRG. Dengan asumsi DNA baru yang disisipkan ke tanaman akan mengubah susunan DNA pada tubuh manusia. Sehingga akan menimbulkan berbagai penyakit dan merusak DNA seseorang yang mengonsumsinya.

Hal ini ditampik oleh dosen bioteknologi Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember, Muhammad Hazmi. Dia menjelaskan, setiap PRG akan melalui proses panjang pengujian sebelum akhirnya dilepas ke masyarakat. Mulai dari keamanannya dari sisi kesehatan untuk pangan, pakan, hingga lingkungan. Pengawasannya pun langsung di bawah Kementerian Pertanian RI. “Proses ujinya setidaknya empat tahun sampai bisa dibuktikan aman dan dilepas,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (11/11).

Biasanya, rekayasa genetika dilakukan pada produk-produk pangan yang sering dikonsumsi. Pada bidang pertanian juga termasuk buah-buahan. Teknologi tersebut umumnya dipakai sebagai alternatif mengatasi permasalahan pangan. Beberapa komoditas PRG yang sering ditemui seperti padi, jagung, kedelai, tebu, hingga buah-buahan seperti pepaya california dan jambu kristal.

Hazmi menjelaskan, PRG melalui proses penyisipan satu atau dua DNA ke dalam gen atau genom organisme dengan tujuan tertentu yang terarah. Kemudian, menghasilkan tanaman yang juga sering disebut istilah transgenik. “Yang dimasukkan itu pasti gen yang positif,” tuturnya.

DNA baru yang ada di dalam tanaman transgenik itu, kata dia, tidak akan berbahaya apabila dikonsumsi bagian tanamannya. Sebab, DNA yang telah disisipkan tersebut hanya ditargetkan pada gen tertentu saja. Sehingga, ekspresi DNA hanya pada gen target. Jika bukan targetnya, maka tak akan mengubah komposisi DNA yang lain, termasuk apabila dikonsumsi manusia. “Setelah masuk DNA itu dengan plasmidnya akan mencari posisinya, itu tidak bisa tertukar,” paparnya.

Saat PRG dikonsumsi, tambahnya, juga tak akan bermutasi di dalam tubuh. DNA yang disisipkan tidak memiliki kekuatan untuk mengubah gen yang bukan targetnya. “Makhluk hidup pasti bermutasi sendiri, itu alami. Pada tanaman, mutasi itu bisa dipercepat dan diarahkan sehingga memberi manfaat lebih pada manusia,” terang mantan rektor Unmuh Jember itu.

Dijelaskan, tanpa direkayasa, mutasi adalah proses alami perubahan susunan gen yang bisa terjadi, termasuk dalam tubuh manusia. Bisa karena kebiasaan atau menjadi cara adaptasi tubuh pada kondisi tertentu dalam jangka waktu lama. “Nah, kalau orang yang pernah makan tempe di Jember mengalami itu (mutasi, Red) berarti dia bisa bilang itu (PRG, Red) tidak bagus. Tapi, kalau sampai hari ini dia masih makan tempe, dia harus tarik kata-katanya (mengatakan PRG berbahaya, Red),” ulasnya.

Baca Juga: Kecanggihan Teknologi Pertanian, Dorong Pangkas Biaya ProduksiDia menjelaskan, tempe yang sering dikonsumsi masyarakat berbahan dasar kedelai yang diimpor dari Amerika. Sementara, kedelai tersebut adalah hasil tanaman transgenik.

Mengenai keamanan plasma nutfah dari tanaman asalnya, dia mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir. Sebab, sudah ada balai tersendiri yang bertugas menyimpan berbagai aneka ragam benihnya.

Lebih lanjut, Hazmi mengatakan, alih-alih meragukan bioteknologi, masyarakat perlu melihat lebih luas berbagai keuntungan tanaman transgenik, yang mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman. Melalui rekayasa genetika, bisa diproduksi senyawa tertentu yang dibutuhkan manusia tapi sulit didapatkan secara alami. Misalnya memperkaya unsur protein, vitamin, atau unsur gizi lain. “Tidak usah ragu dengan GMO, nikmati saja hasil teknologi,” pungkasnya. (sil/c2/nur)

Editor : Ivona
#buah-buahan #rekayasa #Pertanian