Kelangkaan pupuk subsidi rupanya disikapi berbeda oleh sebagian petani. Mereka yang tak mau buntung banyak, memilih cara lain. Menggunakan pupuk organik dengan pertimbangan harga yang lebih ekonomis, tapi dengan jaminan hasil panen yang menjanjikan.
TUMPUKAN karung berisi pupuk organik itu telah tertata di sekitar hamparan persawahan, di Dusun Krajan, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan. Pagi itu, sejumlah petani terlihat telah siap memulai aktivitas pemupukan untuk tanaman padi yang ditaksir baru berusia sekitar tiga pekan.
Seperti petani kebanyakan, mereka menyebar pupuk yang diambilnya menggunakan timba-timba kecil. Bedanya, pupuk yang mereka gunakan justru bukan pupuk kimia yang biasa beredar selama ini. "Ini pupuk organik. Bikin sendiri, buatan petani sendiri, dan lagi bahannya melimpah di sekitar kita," timpal Joko, salah satu petani, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di lokasi.
Sepintas dari bentuknya, pupuk organik yang mereka gunakan berwarna hitam pekat keabu-abuan, dengan tekstur sedikit lembut, tanpa bau menyengat. Petani di sana sepertinya memodifikasi kandungan pupuk organik itu dengan sejumlah campuran tertentu, hingga fungsi dan kegunaannya sama dengan pupuk kimia kebanyakan.
Diketahui, petani di sana sudah terbiasa menggunakan pupuk organik untuk memelihara tanaman padi mereka. Bahkan tak hanya padi, kadang juga untuk jagung, cabai, serta tanaman-tanaman palawija dan tanaman hortikultura. "Petani di sini sering memakai organik seperti ini. Bedanya pupuk organik ini agak kalem, awet hijau kalau untuk tanaman padi. Kalau usia tanaman hampir sama dengan tanaman yang pakai pupuk kimia. Mungkin selisih hitungan hari saja," kata Santoso, salah satu petani, ketika ditemui di lokasi saat itu.
Pupuk organik yang dipakai petani ini dibuat dari campuran kotoran hewan ternak kambing dan sapi yang sudah menjadi tanah, kemudian dicampur lagi dengan abu jerami atau sekam, ditambahkan campuran bioaktivator dan air. Seluruh bahan itu kemudian ditutup rapat hingga kedap udara selama kurang lebih 15 hari untuk memastikan pencampuran benar-benar menyatu.
Khasiatnya, petani di sana menyebut tak jauh berbeda dengan pupuk kimia. Justru diyakini lebih baik secara kualitas tanpa merusak unsur hara tanah. Selain itu, ada pertimbangan yang juga sangat menentukan, yakni soal ongkos. Sebab, mereka membeli pupuk organik itu seharga Rp 40 ribu per setengah kuintalnya.
Harga itu jauh dengan pupuk kimia subsidi, seperti urea, yang di pasaran sudah berada di kisaran Rp 125–130 ribu per setengah kuintal. Sementara, pupuk nonsubsidi mencapai Rp 200–300 ribu lebih per setengah kuintal. "Apalagi sekarang ini pupuk subsidi kan susahnya minta ampun. Sudah harganya mahal, barangnya sulit. Jadi, petani di sini sudah banyak yang beralih memakai organik karena pupuk subsidi sulit didapatkan," tambah Santoso.
Ade, pengurus kelompok tani (poktan) setempat, menguraikan alasan petani yang ramai-ramai beralih menggunakan pupuk organik lantaran keberadaan pupuk subsidi yang makin hari makin hilang dari peredaran. "Daerah kita Jember selalu dikurangi jatahnya. Tahun ini sampai dikurangi 50 persen. Sekarang petani waktunya mupuk malah tidak ada," jelasnya.
Secara kualitas, pupuk organik itu tetap memiliki kualitas yang mumpuni dibandingkan pupuk kimia. Termasuk soal harga yang terdapat perbedaan sangat jauh. Karena itu, tak heran jika petani banyak yang menggunakan pupuk organik itu sekaligus sebagai bentuk protes mereka atas keberadaan pupuk subsidi yang setiap tahunnya selalu dipangkas alokasinya. "Kami sebagai petani itu menolak subsidi pupuk sudah. Jadi, kalau memang subsidi sulit, ya, ditarik saja. Dialihkan ke hasil produksi pertanian," harapnya.
Meski produksi pupuk organik itu belum secara massal, mayoritas petani di Desa Dukuhdempok ataupun Desa Tamansari, Wuluhan, sudah banyak yang menggunakan pupuk organik tersebut. Beberapa produsen juga melibatkan petani untuk mengedukasi pembuatan dan penggunaannya. "Kami sebenarnya sudah tidak asing dengan pupuk organik. Karena itu, kami juga mengikutsertakan pelatihan kepada petani-petani untuk pembuatan dan penggunaan pupuk organik seperti ini," kata Sucipto, produsen pupuk organik di desa tersebut.
Sucipto menambahkan, urusan subsidi pupuk itu di mata kebanyakan petani menghendaki agar dicabut saja. "Kami duduk bersama petani, berembuk, dan mereka sepakat, subsidi itu dicabut saja, yang penting pupuk itu ada, meskipun nonsubsidi. Dan kalau dihapuskan, petani inginnya satu, ada subsidi di harga," tukas pria yang juga pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur itu. (mau/c2)
Editor : Radar Digital