BACA JUGA : Serap Ratusan Tenaga Kerja, Kemiskinan Ditarget Turun 8,5 Persen
Seperti diketahui, para petani di Jember saat ini ada yang sudah panen. Namun, tidak sedikit yang masih harus merawat padi, bahkan baru menanamnya. Salah satu kawasan yang tergolong baru tanam yakni di areal persawahan Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari.
Menurut Samsul, petani asal Sumbersari, tanaman padi di kawasan Sumbersari memang banyak yang baru ditanam. Kondisi itu berbeda dengan kawasan Jember selatan yang mayoritas baru akan menanam pada Desember nanti. Sekalipun penanaman padi tidak serentak, namun perlu diperhatikan. “Jember utara dengan selatan beda. Kalau di utara airnya tidak sebanyak di Jember selatan. Jadi, kalau kawasan kota ke utara musim hujan banyak yang tanam. Jember selatan biasanya di akhir musim hujan,” ulasnya.
Mantan ketua HKTI Jember, Jumantoro, menuturkan, musim hujan memang rentan mengancam petani gagal panen. Menurutnya, pada kawasan dengan dataran rendah atau posisi sawah berada di bawah selokan, selayaknya petani tidak menanam padi pada musim hujan. Jika tidak, maka tanaman padi bisa saja rusak akibat terendam air hujan.
Jumantoro menjelaskan, sepanjang tahun, pada musim panas maupun musim hujan, edukasi pemerintah tetap penting diberikan kepada petani. Misalnya, pada saat musim hujan, maka petani yang menanam padi harus diarahkan untuk menanam padi yang jenis tumbuhannya lebih pendek. “Kalau padi yang tanamannya tinggi, saat musim hujan rawan roboh,” katanya.
Dengan memperhatikan varietas tanaman padi, menurutnya, petani dapat meminimalisasi kemungkinan buruk, yakni gagal panen. Namun demikian, pada musim hujan pemerintah juga perlu melakukan pendampingan karena organisme pengganggu varietas bisa jadi lebih banyak. “Kalau tanaman padi digenangi air hujan sampai lima hari atau satu minggu, ini bisa dipastikan rusak. Gagal panen,” jelasnya.
Nah, hal yang perlu dilakukan, menurut Jumantoro, yakni program asuransi petani. “Jika terjadi gagal panen, setidaknya petani tidak terlilit utang. Program asuransi dari pemerintah ini yang ditunggu petani,” cetusnya.
Selain itu, pada musim hujan, Jumantoro menyebut, pemerintah perlu memperhatikan saluran irigasi. Tanaman padi memang membutuhkan banyak air. Tetapi, tetap tidak boleh lebih, karena akan mengancam tanaman. “Banyak pendangkalan saluran irigasi. Program pengerukan atau normalisasi irigasi juga sangat penting agar sawah tidak digenangi air hujan sampai berhari-hari,” pungkasnya. (mg2/c2/nur) Editor : Safitri