Oleh : Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.*)
KAMI lahir di pesantren, yakni di Pondok Pesantren Zainul Bahar (kini Pondok Pesantren Bahrul Ulum) yang diasuh oleh abah kami KH. Moh. Soebahar, Tangsil Kulon Bondowoso 04 Januari 1961. Setelah menamatkan pendidikan di PGAN 4 Tahun Bondowoso, kami diajak abah silaturrahim ke KH. Achmad Siddiq di Jember, disuruh siap-siap mudah-mudahan di terima sebagai santri.
Pertama tidak ketemu, kembali lagi, baru yang ketiga kami ketemu beliau dan abah memohon agar Abdul Halim diterima mengabdi dan mengaji di sini. Waktu itu Kiai dawuh : ”kalau hanya mengabdi dan ngaji kami tidak menerima”, tapi kalau sambil sekolah kami terima. Kami ditanya, kamu mau sekolah di mana?, kami jawab insyaAllah melanjutkan ke PGAN 6 Tahun Jember.
“Enggi potranah panjenengan etaremaah sareng kauleh” (ya, anak sampean saya terima”, dawuh Kiai. Akhirnya sejak Senin, 18 Januari 1978, saya diterima sebagai santri Pondok Pesantren Islam Ash-Shiddiqi Putra Jember, diasuh oleh Murobby KH. Achmad Siddiq. Abah kami dan Murobby KH. Achmad Siddiq inilah yang akhirnya banyak mengukir sejarah kehidupan kami sampai sekarang.
Baca Juga: Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan
Tahun 1980, kami kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Jember, lulus tahun 1987. Skripsi Sarjana di IAIN Jember tentang pesantren (Prestasi Akademik Mahasiswa IAIN Jember dilihat dari latar belakang santri mukim dan santri non mukim).
Tahun 1988, kami melanjutkan studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 1990. Tesis Magister di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang pesantren (Reorientasi Kurikulum Pendidikan Pesantren, 1970-1990). Dan, kami menjadi dosen pertama yang kuliah S2 dan bergelar Magister of Arts (MA) dengan beasiswa dari Kemenag RI yang selesai tepat waktu. Skripsi, tesis dan disertasi tentang pesantren.
Disertasi Doktor kami raih tahun 2008 dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang pesantren, dengan judul “Pesantren di Madura: Studi Tentang Transformasi Kepemimpinan dan Implikasinya Terhadap Sistem Pendidikan Pesantren Akhir Abad XX”.
Sebagai dosen kami leluasa mengembangkan diri dan berkhidmat. Kami selalu belajar dan tidak pernah merasa lelah belajar, karena dosen tidak boleh berhenti belajar dan mengajar.
Baca Juga: Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren: Jejak Sejarah Dan Silsilah
Kami selalu menulis artikel dan buku, tidak kurang dari 25 buku sudah kami tulis agar tidak lupa yang sudah kami pelajari, dan kami intens melakukan riset agar yang kami pelajari, kami pahami, bisa terus berdampak, sehingga lebih dari 30 karya riset sudah kami lakukan. Dan, kami sangat bersyukur, sebagai dosen banyak memperoleh penghargaan riset kami tentang pesantren.
Sebagian dari penghargaan tersebut, yakni : (1) Penghargaan riset PRKP PPK UGM dan The Ford Foundation, 1998, diseminarkan di berbagai kegiatan : Australian University dan dipublikasikan dalam Islam, the Sate and Population (Hurst n Company London, 1998) di seminarkan dan dipublikasikan dalam Buku Preceedings “The Fourth Asia Pacific Social Science and Medicine Conference (APSSAM) The Health Social Science: Action and Partnership : Retrospective and Prospective Discource”, Population Studies Centre UGM, Yogyakarta, 7-11 Desember 1998, dan juga dipublikasikan dengan judul Hak-Hak Kesehatan Reproduksi Dalam Pandangan Kiai, 1999,
(2) Penghargaan MSRA PSKK UGM dan The Ford Foundation Perdebatan tentang Poligami dikalangan Ulama Jawa Timur, 2004-2005, dipublikasikan 2005,
(3) Penghargaan Riset Unggulan Kemasyarakatan dan Kemanusiaan (RUKK IV) Kementerian Ristek RI, dipresentasikan di berbagai kegiatan seminar di: Kementerian Ristek RI, Universitas Airlangga, Universitas Jember, Universitaas Gajah Mada, UIN Sunan Kalijaga dan dipublikasikan dalam buku Pesantren Gender : Studi Kasus Rekonstruksi Tiga Pesantren di Jawa Sebagai Basis Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Ristek RI, Jakarta,
(4) Penghargaan dari Kepala Balitbang Depag RI sebagai Peneliti Keagamaan Terbaik Nasional, 24 Agustus 2004, (5) Penghargaan sebagai dosen berprestasi dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, 4 Januari 2007, dan (6) Penghargaan dari Bupati Bondowoso sebagai Tokoh Pendidikan, 4 Januari 2012.
Sejak 1998 atas harapan banyak kiai kami merintis banyak perguruan tinggi berbasis pesantren, seperti STAIFAS (kini Universitas Al-Falah As-Sunniyah) Kencong Jember, STAI (kini Universitas) At-Taqwa Bondowoso, STAIDA (kini Universitas KH. Mukhtar Syafaat) Blokagung Banyuwangi, STAIBU Lumajang, dan STAI Tuan Guru Turmudzi NTB, MA RKH Itsbat Banyuanyar Pamekasan, STAILA Sampang dan terakhir Institut Agama Islam Shofa Marwa Jember.
Tahun 2022 kami diberi Amanah sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, persis di Hari Ulang Tahun Beliau, 19 Mei 2022, LPPD adalah lembaga yang dibentuk melalui SK Gubernur untuk mengkoordinasikan pengembangan pesantren sekaligus pengembangan SDM dan kelembagaan perguruan tinggi berbasis pesantren dan mengelola beasiswa S1, S2, S3 PTKI Jawa Timur, M1, M2 Ma’had Aly Jawa Timur, beasiswa program Studi STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematic) di Universitas Jember, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga dan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, dan beasiswa S1 dan S2 Universitas Al-Azhar Kairo Mesir yang berorientasi pada “Percepatan Penyiapan SDM Pesantren di Jawa Timur”.
Ketika menerima Amanah tersebut, kami cukup kaget karena tidak ada koordinasi sebelumnya, tapi tidak ada pilihan lain kami harus menerimanya secara Ikhlas dan sepenuh hati, karena yang memberi Amanah langsung Ibu Khofifah, seorang pemimpin yang ikhlas, sangat peduli terhadap pengembangan pesantren, dan sangat mengimpikan terjadi percepatan penyiapan SDM Unggul di Pesantren.
Baca Juga: Periset Pesantrren (5): Implikasi terhadap Riset Pesantren Masa Depan
Dan, ternyata betul, dua hari setelah kami menerima SK, ibu Gubernur mengajak kami silaturrahim ke Kiai Azaim Ibrahimy dan Kiai Afifuddin Muhajir. Dalam perjalanan ibu gubernur bertanya : “Prof. Halim, bagaimana jika beasiswa S3 dimulai sekarang? (di Pengajuan masih 2023}, kami jawab : inggih siap Ibu”, Bagaimana caranya : kami hubungi teman2 pengelola S3, kami mintakan kesiapannya dalam 2hari proposal sudah sampai LPPD. Lho bisa?, insyaallah bisa. Kami tidak boleh menjawab tidak bisa, kami harus menjawab bisa dan berusaha, jika ikhtiar kami mentok pasti Ibu Gubernur sudah punya solusinya…
Dan, kami selalu ikhtiar maksimal untuk mewujudkan semua impian. Jika ikhtiar kami dan tim mentok, Ibu Gubernur Khofifah selalu turun tangan untuk mencarikan solusi, dan semuanya menjadi tuntas. Permasalahan yang berat jadi ringan, karena kolaborasi dan sinergi selalu terjalin dan terjaga.
Kini, program beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah bekerja sama dengan 160 perguruan tinggi, dalam dan luar negeri dan bisa diakses oleh 7.976 penerima manfaat, terdiri atas : beasiswa program sarjana (S1) diakses oleh 4.100 mahasiswa PTKI, 1190 mahasantri Ma’had Aly, 40 mahasiswa STEM PTN, dan 123 Mahasiswa Al-Azhar Kairo; beasiswa program magister (S2) diakses oleh 1.865 mahasiswa, 90 mahasantri Ma’had Aly, 20 mahasiswa STEM PTN, dan 60 mahasiswa Al-Azhar; dan beasiswa program doktor (S3) diakses oleh 250 Dosen PTKI Pesantren dan Dosen Ma’had Aly.
Semua pembiayaan beasiswa diberikan sesuai jenjangnya dan diberikan secara tunai dan lunas di awal semester pertama: S1 = 4 tahun/8 semester, S2 = 2 tahun/4 semester, S3 = 3 tahun/6 semester, khusus S2 Al-Azhar 4 tahun/4 termin. Ini perbedaan beasiswa dari Pemprov Jatim melalui LPPD dengan beasiswa provinsi lain dan kabupaten/kota di Jawa Timur.
Sudah barang pasti, bahwa program beasiswa Gubernur Jawa Timur melalui LPPD menjadi program yang sangat mulia untuk percepatan penyiapan SDM Pesantren yang berkualitas: “Jawa Timur menyiapkan generasi emas yang “unggul, berdaya saing global dan berakhaq al-Karimah”. Alhamdulillah saya sangat bersyukur, bisa menjadi bagian penting dalam program yang sangat mulia ini, tentunya berkhidmat untuk pesantren. Wallahu a’lam.
*) Penulis adalah Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.
Editor : Imron Hidayatullahh