Oleh : Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.*
KE depan, kami ingin menulis kajian tentang sanad keilmuan pengasuh pesantren. Tema ini sangat aktual dan dinamis. Aktual, karena memang belum ada yang melakukan kajian secara mendalam, dan dinamis karena dinamika kajian tentang sanad keilmuan selalu terkait dengan perubahan zaman dan perubahan ekspektasi masyarakat.
Dan, yang lebih penting kekuatan sanad keilmuan tidak jarang yang justru menjadi penentu eksistensi pesantren, sebagai lembaga tafaqquh fiddin yang eksis melintasi sejarah hingga ratusan tahun.
Konsep sanad, sangat dikenal dalam studi Islam, khususnya dalam studi hadits. Sanad adalah rangkaian tokoh-tokoh terpercaya yang menjadi sandaran dan memiliki persambungan sampai kepada Rasulullah SAW.
Baca Juga: Periset Pesantrren (5): Implikasi terhadap Riset Pesantren Masa Depan
Bagi masyarakat pesantren sanad menjadi faktor penting bukan saja dalam belajar, tetapi juga dalam ibadah dan perjuangan, karena tokoh-tokoh yang tercantum dalam sanad tersebut menjadi sangat menginspirasi pemikiran dan amaliah keagamaan kaum santri dan bahkan juga masyarakat pesantren.
Selama ini, sangat sedikit sejarawan yang menuliskan sejarah perjuangan para kiai dan kaum santri dari sanad keilmuan. Kisah perjuangan para kiai dan kaum santri hanya tersebar secara lisan dari generasi ke generasi.
Perjuangan yang melibatkan kiai dan kaum santri hanya ditulis di sela-sela kisah kebesaran satu dua tokoh, sementara para kiai dan kaum santri tidak terbiasa menulis, bahkan enggan menulis sanad keilmuan dan perjuangannya sendiri, karena bagi mereka belajar dan berjuang adalah kewajiban karena didorong keimanan dan cinta tanah air dan menjaga eksistensi NKRI.
Jadi, komitmen kebangsaan para kiai dan kaum santri sangat kuat karena mereka memiliki sanad yang jelas dan kuat. Bukan hanya sanad keturunan, tetapi juga sanad keilmuan, ibadah dan telah terbukti dalam sejarah Dalam sejarah, penjajah pernah berusaha bagaimana melemahkan sanad kepahlawanan kaum santri, salah satu caranya dengan memutus sanad-sanad tersebut.
Demikian juga fenomena terkini yang selalu mencoba melemahkan pesantren dengan memutus mara rantai sanad ilmuwan dan kepahlawanan dengan beragam cara, seperti: mengadu domba antar kiai, melakukan ujaran kebencian terhadap kiai, melemahkan eksistensi pesantren dan sebagainya. Karena sanad kiai dan kaum santri memiliki rangkaian yang jelas dan kuat, dan basis utamanya adalah pesantren.
Baca Juga: PERISET PESANTREN (4): Babak Baru Kajian Kontemporer Pesantren
Sebagai contoh dalam karya tentang Sanad Kitab Shahih Bukhari KH Hasyim Asy'ari dan Sanad Kitab Shahih Muslim KH Hasyim Asy'ari berhasil mengungkap urutan sanad tersebut dari kitab “Kifayatul Mustafid lima 'ala minal Asanid” karya Syekh Mahfudh Termas, salah seorang guru Kiai Hasyim Asy’ari. Berikut urutan sanad yang dimaksud Sanad Kitab Shahih Bukhari dari KH. Moh. Hasyim Asy’ari melalui jalur Syekh Mahfudh Termas sampai kepada penulis hadits, yakni Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang terdiri dari jalur pertama dan jalur kedua.
Jalur pertama: (1) KH. Moh. Hasyim Asy’ari, (2) dari Syaikh Mahfudh Termas, (3) dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki, (4) Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, (5) Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, (6) Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani, (7) Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi, (8) Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri, (9) Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri, (10) Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri, (11) Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili, (12) Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri, (13) Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho, (14) Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari, (15) Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, (16) Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi, (17) Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar, (18) Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali, (19) Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi, (20) Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi (21) Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi, (22) Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri, (23) Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni Al-Imam Al-Hafidh Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari.
Jalur kedua: (1) KH. Moh. Hasyim Asy’ari, (2) Dari Syaikh Mahfudh Termas, (3) Dari Sayyid Husain Al-Habsyi, (4) Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi, (5) Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar, (6) Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’I, (7) Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi, (8) Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi, (9) Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali, (10) Dari ayahnya, (11) Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi, (12) Dari Baba Yusuf Al-Hirawi, (13) Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani, (14) Dai Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani, (15) Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary, (16) Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.
Sanad Kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab: (1) KH. Moh. Hasyim Asy’ari, (2) Dari Syaikh Mahfudh Termas, (3) Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki, (4) Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, (5) Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, (6) Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani, (7) Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi, (8) Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi, (9) Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi, (10) Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi, (11) Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli, (12) Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari, (13) Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath, (14) Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi, (15) Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati, (16) Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi, (17) Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi, (18) Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi, (19) Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi, (20) Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi, (21) Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)
Catatan tentang sanad menjadi faktor penting dalam sejarah kiai dan kaum santri. Khazanah sanad kaum santri bukan hanya sanad dalam hadits, tetapi kaum santri juga memiliki sanad dalam keilmuan yang lain, dalam akidah, syariah, dan tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan diwujudkan dalam kehidupan keseharian kiai dan kaum santri (bersambung)
*) Penulis adalah Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember, Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur dan Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur.
Editor : Imron Hidayatullahh