Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Periset Pesantren (2) Perspektif Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

M. Ainul Budi • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:18 WIB
Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A.
Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A.

 

PERISET PESANTREN (2)

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

Karena itu karya riset pesantren penting dikaji ulang agar terus dipahami dan diupdate untuk melihat implikasinya terhadap riset pesantren masa depan, khususnya ketika pesantren bersentuhan dengan perubahan zaman, perubahan kebijakan dan perubahan ekspektasi masyarakat.

Dinamika pesantren ditandai dengan wacana apakah dalam dinamika yang terjadi pesantren tetap eksis seperti sekarang atau harus berubah mengikuti irama perubahan. Mempertahankan wujud lama dalam merespons arus baru, arus global dirasa tidak mungkin, sebaliknya, larut dalam arus global harus dihindari karena pesantren bisa kehilangan jati diri, akhirnya inovasi pesantren memilih jalan aman: “continuity and change”, sehingga perubahan di pesantren tidak memutus akar-akar dan mata rantai sebelumnya, pesantren terus menjaga kesinambungan dan perubahan.

Masalahnya, yang penting ditelusuri lebih lanjut adalah bagaimanakah riset pesantren masa perintisan, masa pengembangan dan masa reformasi?. Penelusuran terhadap pertanyaan ini penting, untuk melihat implikasi ketiga masa ini terhadap riset pesantren pada masa berikutnya dan pada masa depan.  

Clifford Geertz, adalah periset pertama tentang pesantren (1960), karena memang belum ditemukan karya riset sebelumnya. Geertz, dalam karyanya “The Javanese Kiyayi: The Changing Roles of a Cultural Broker”, menyebut kiai sebagai penghubung budaya antara pesantren dan “dunia luar”. Kiai menyaring mana unsur budaya yang boleh masuk dan yang tidak.

Tetapi, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, yang membuat massifnya arus informasi, membuat kiai tak mungkin lagi dapat menyaringnya. Kiai menjadi kehilangan perannya dan kemudian sekedar menjalankan posisi yang sekunder dan tidak kreatif.

Kiai akan menjalani kesenjangan budaya dalam masyarakat sekitarnya. Sebagai peneliti pemula, belum banyak data yang berhasil dihimpun, tetapi cukup berhasil menginspirasi peneliti berikutnya. 

Data pesantren relatif memadai setelah LP3ES berhasil memetakan pesantren dengan karya Profil Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren Lain di Bogor (Sudjoko Prasojo, ed., Profil Pesantren: Laporan Hasil Penelitian Pesantren Al-Falak dan Delapan Pesantren Lain di Bogor, Jakarta: LP3ES, 1974). Sebagai hasil riset awal menggambarkan betapa tidak sederhananya usaha untuk mengumpulkan data-data kuantitatif dan kualitatif tentang pesantren. Penelitian kuantitatif telah dilakukan oleh tim LP3ES bekerjasama dengan Pusat Dakwah Islam, Perguruan Tinggi Dakwah Islam, Lembaga Penelitian Agama dan Kemasyarakatan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang baru selesai pada kwartal I tahun 1973, sedangkan pengumpulan data dan analisis kualitatif ternyata lebih lama lagi, dan berlangsung hingga kwartal IV tahun 1973.

Namun akhirnya, penelitian yang diprakarsai LP3ES ini berhasil menyusun laporan yang agak lengkap yang disusun oleh Sudjoko Prasodjo, M. Zamroni, Mastuhu, Sardjono Goenari, Nurcholish Masjid, dan M. Dawam Rahardjo.

Kiranya bisa dipahami karena pesantren secara relatif sering dianggap sebagai lembaga yang tertutup, dimana informasi yang tepat dan utuh mengenai dunia pesantren dari “sumber pertama”, memang tidak mudah dicapai dan diperoleh oleh para peneliti, sedangkan buku-buku referensi dan data-data sekunder tentang pesantren masih sangat langka.

Ditengah keterbatasan para peneliti memahami dunia pesantren, adalah KH. Abdurrahman Wahid yang memulai mengenalkan identitas kultural pesantren melalui tulisannya tentang “Pesantren Sebagai Sub Kultur” yang akhirnya dimuat dalam buku reader Pesantren dan Pembaharuan (LP3ES, 1974).

Karya tersebut banyak menginpirasi para peneliti untuk meneliti pesantren dari dalam dan luar negeri. KH. Abdurrahman Wahid menyatakan hanya kriteria paling minim saja yang dapat dikenakan pada kehidupan pesantren sebagai sub kultur, yaitu: “eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga kehidupan yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini; terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren; berlangsungnya proses pembentukan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya, adanya daya tarik keluar, sehingga memungkinkan masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat sendiri; dan berkembangnya suatu proses pengaruh mempengaruhi dengan masyarakat di luarnya, yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima kedua belah pihak (Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, Jakarta: CV. Dharma Bhakti, Jakarta: 1974 : 7-42) 

Riset pesantren pada masa ini disebut masa perintisan atau masa pencarian jatidiri, karena sebelumnya memang belum ada hasil riset yang memadai tentang pesantren. Hasil Penelitian Geertz tentang Santri, Priyayi dan Abangan, meskipun tidak secara eksplisit meneliti tentang pesantren tetapi cukup memberikan gambaran awal pesantren.

Minat periset pesantren baru bermunculan setelah hasil penelitian tentang Profil Pesantren di publish oleh LP3ES pada tahun 1974. Selain itu, ditengah keterbatasan para peneliti memahami dunia pesantren, KH. Abdurrahman Wahid mengawali mengenalkan identitas kultural pesantren melalui tulisannya tentang “Pesantren Sebagai Sub Kultur”. Karya ini banyak menginpirasi periset untuk meneliti pesantren pada masa-masa berikutnya, baik periset yang sebagian besar adalah akademisi, dari luar dan dalam negeri.

Editor : M. Ainul Budi
#riset pesantren #Perspektif #Pondok Pesantren