Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Periset Pesantren: Jejak Sejarah sejak Wali Sanga

Imron Hidayatullahh • Jumat, 19 Juni 2026 | 07:00 WIB
Prof ABDUL HALIM SOEBAHAR
Prof ABDUL HALIM SOEBAHAR

Oleh Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

AKHIR-AKHIR ini, riset tentang pesantren semakin menarik. Pesantren yang telah menapaki sejarah berabad-abad, bukan hanya mampu bertahan, tetapi mampu melakukan penyesuaian, adaptasi, dan bahkan mengembangkan diri pada posisi yang penting dalam sistem pendidikan nasional.

Karena itu, memahami pesantren harus dimulai dengan memahami sejarah pesantren karena lembaga ini telah melintasi sejarah panjang.

Selain itu, unsur-unsur utama pesantren juga terus berubah dan berkesinambungan atau mengalami proses yang disebut “continuity and change”, berkesinambungan tetapi dalam kesinambungan tersebut terjadi proses perubahan  sehingga pesantren memiliki kekhasan yang tinggi dan terus mengalami dinamika.

Baca Juga: IAI Shofa Marwa Jember: Ikhtiar Membangun Generasi Unggul

Temuan riset Ronald Alan Lukens Bulla dalam A Peaceful Jihad: Javanese Education and Religion Identity Construction (1997) bahwa Maulana Malik Ibrahim datang ke Nusantara pada tahun 1379 dan wafat pada tahun 1419 memberikan informasi bahwa pesantren pertama kali dirintis oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1399 M untuk menyebarkan Islam di Jawa.

Tentu saja pesantren kala itu masih sangat sederhana. Selanjutnya, tokoh yang berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Pertama kali didirikan pesantren di Kembangkuning dan waktu itu hanya memiliki tiga orang santri, yaitu: Wiryo Suroyo, Abu Hurairah, dan Kiai Bangkuning. Setelah itu pindah ke Ampel Denta Surabaya dan mendirikan pesantren, sehingga akhirnya dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Selanjutnya, muncul pesantren-pesantren baru  yang didirikan oleh para santri dan putranya, seperti Pesantren Giri oleh Sunan Giri, Pesantren Demak oleh Raden Patah, dan Pesantren Tuban oleh Sunan Bonang (Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Jakarta: Gema Insani Press, 1997:70).

Baca Juga: Beasiswa LPPD 2026

Fungsi pesantren pada awalnya hanya sebagai media Islamisasi yang memadukan tiga unsur, yakni: ibadah untuk menanamkan iman dan spiritualitas, tabligh untuk menyebarkan Islam serta ilmu dan amal untuk memastikan kemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Jadi secara historis, tumbuh kembang pesantren tidak terlepas dari peran Wali Sanga. Berbagai kajian menunjukkan, bahwa aktivitas dakwah yang digagas Wali Sanga dilakukan dengan cara merintis pesantren di wilayah masing-masing.

Karenanya dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman (karena berkomitmen sebagai lembaga tafaqquh fiddin) akan tetapi juga makna keaslian (indegenous) Indonesia, karena sebelum Indonesia mengenal sekolah umum yang diintrodusir oleh Belanda, bangsa ini telah mengenal pesantren yang dirintis oleh Para Wali, diteruskan para kiai dan masih tetap eksis sampai sekarang.

Hasil kajian yang dirilis oleh nucreativemedia, Nahdlatul Ulama (2021) ditemukan beberapa pesantren yang tetap eksis selama berabad-abad, seperti: (1) Pesantren Al-Kahfi Somolango Kebumen (546 Tahun), (2) Pesantren Luhur Dondong Semarang (412 Tahun), (3) Pesantren Nazhatut Thullab Sampang (319 Tahun, (4) Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon (306 Tahun), (5) Pesantren Sidogiri Pasuruan (276 Tahun), (6) Pesantren Bentet Cirebon (271 Tahun), (7) Pesantren Jamsaren Surakarta (271 Tahun), (8) Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang (253 Tahun), (9) Pesantren Qomaruddin Gresik (246 Tahun) (10) Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan (234 Tahun) (Dirilis oleh nucreativemedia, Nahdlatul Ulama, 2021). 

Selain itu, banyak pesantren terkenal di Jawa Timur yang sudah berusia melebihi satu abad, seperti: Pesantren Demangan Bangkalan, Pesantren Guluk-Guluk Sumenep, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo,  Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Ash-Shiddiqi Jember, Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pesantren Nurul Jadid dan Pesantren Nurul Qadim di Probolinggo.

*) Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember; Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur, Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember.

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#wali sanga #Prof Halim #Pesantren