Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Berkhidmat Berharap Keberkahan: 65 Tahun Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA

Redaksi Radar Jember • Minggu, 4 Januari 2026 | 17:26 WIB

Prof Halim Soebahar menemani mahasiswa di Jemursari untuk pamit ke Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan WagubEmil Elestianto Dardak sebelum berangkat ke Al-Azhar Mesir, November 2024.
Prof Halim Soebahar menemani mahasiswa di Jemursari untuk pamit ke Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan WagubEmil Elestianto Dardak sebelum berangkat ke Al-Azhar Mesir, November 2024.

“Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, Tiada kepapaan yang lebih menyedihkan daripada daripada kebodohan, Tiada kebuasan yang lebih mengerikan daripada kecongkakan, Dan tiada kemuliaan yang lebih berharga daripada akhlak.” ALI IBN ABI THALIB

TEPAT 65 Tahun Silam, tanggal 4 Januari 1961, kami dilahirkan sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, dari pasangan Moh. Soebahar/KH. Bahrul Ulum (kelahiran Tangsil Kulon Bondowoso, 1921–wafat 14 Desember 1993) dan Sri Indiah/Hj. Siti Badriyah (kelahiran Ngebrak Kediri, 1934–wafat 26 Juli 2019).

Saudara-saudara kami: Zamakhsyari (alm), Nyai Hj. Muhashonah, Prof. Dr. KH. Moh. Erfan Soebahar, M. Ag. (Guru Besar UIN Walisongo Semarang), Siti Halimah (alm), Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA. (Guru Besar UIN KHAS Jember), Moh. Dhofier (alm.), Prof. Dr. Moh. Fadli Soebahar, SH., MH. (Guru Besar Universitas Brawijaya Malang), dan Dr. KH. Zarkasyi Soebahar, M. Pd.I. (Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tangsil Kulon Bondowoso).

Keluarga kami termasuk keluarga kuat iklim keagamaan dan pendidikannya. Kami sangat merasakan bagaimana iklim keagamaan dan pendidikan dicontohkan kedua orang tua: sangat intens, sangat mendalam, dan istiqamah. Bapak selalu membimbing kami: baca tulis huruf Arab, mengaji Alquran dan kitab-kitab dasar tentang Aqidah, ibadah dan akhlak, baru setelah khatam kami diizinkan mondok di luar kota. Ibu yang membimbing kami baca tulis huruf latin. Sejak kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar setiap pulang sekolah buku-buku kami pasti diperiksa, disuruh baca ulang, sehingga kami selalu juara.

Bapak selalu istiqamah salat hajat dan tahajud, waktu-waktunya habis untuk berkhidmat: bakda shubuh ngaji kitab, setelah itu ke sawah sebentar, lalu berangkat ke kantor, pulang kantor pukul 14.00 membina diniyah tidak hanya satu kelas bahkan dua atau tiga kelas, bakda Isya ngaji kitab lagi. Sedangkan ibu selalu berpuasa setiap anak-anaknya ujian. Kami sering menangis ingat semua itu, ingat pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya, ingat keteladanan orang tua yang terus berikhtiar dengan hidup sederhana agar anak-anaknya punya dasar keagamaan yang kuat, berilmu, berakhlaq, dan selalu berkhidmat untuk kemaslahatan.

Tahun 1987 kami menikah dengan Dr. Hj. Hamdanah Utsman, M. Hum, anak kesepuluh dari sebelas bersaudara (dari pasangan H. Abdullah Utsman dan Hj. Zulfa Mudhi’ah/Hj. Rodhiyah, yaitu: KH. Abdul Mutholib (alm), Hj. Thoyibah, Dra. Nyai Hj. Zainab (alm), Nyai Hj. Siti Malikhah, BA (alm), Ahmad Najmuddin (alm), Ahmad Banani (alm), Drs. KH. Zainal Fahani, M. Pd. (alm), Drs. Fathul Hadi, Drs. H. Shonhaji, Dr. Hj. Hamdanah, M. Hum, dan Dra. Nyai Hj. Noor Kayyisah Zahro, M. Pd. I.

Keluarga ini pun dibina dengan kesederhanaan dan dasar-dasar keagamaan, pendidikan, dan komitmen pengabdian/khidmat yang kuat. Bapak (H. Abdullah Utsman) wafat setelah seorang putrinya berkeluarga, sehingga ibu (Hj. Zulfa Mudhi’ah) seorang diri harus berikhtiar lahir batin membesarkan, mendidik, dan membimbing  putra-putrinya menjadi orang-orang berilmu, berakhlaq, dan semua berkhidmat sebagai pendidik di lembaga pendidikan, di pesantren dan di masyarakat. Kami benar-benar merasakan bagaimana komitmen dan semangat perjuangan ibu mendidik sepuluh putra-putrinya sendirian, dan semua jadi generasi yang menebar manfaat.

Oh ya, dari pernikahan kami dengan Dr. Hj. Hamdanah, M. Hum., kami dikaruniai 4 anak: H. Ahmad Faris Wijdan, S.Pd.I., SH., MH.; H. Ahmad Fauzul Fikri, S.Si., M.Si.; Ahmad Weldy Fakhriyan, S., M.; dan Dokter Muda Ratu Belqys Rosadeila Putri, S. Ked.

Pernikahan H. A. Faris Wijdan, S.Pd.I., SH., MH. dengan Elisa Qur Imanasari, S. P., dikaruani 3 anak : Zahra, Fatich dan Rayhan.

Pernikahan H. Ahmad Fauzul Fikri Biaunillah, S.Si., M.Si. dengan Wima Anggitasari, S.Si, M.Si, Apt dan dikaruniai 2 anak: Avis dan Athar

Alhamdulillah, kami sangat bersyukur, setelah 65 tahun kami menjalani kehidupan Allah Yang Mahakuasa memberikan anugerah kecukupan bagi kami sekeluarga: anugerah kesehatan, anugerah ilmu, anugerah keluarga, anugerah rezeki, anugerah kebahagiaan, atau anugerah lain melalui jism, ‘aql, dan qalbu. Mudah-mudahan ke depan Allah terus memberi kesempatan kami terus berkhidmat untuk menebar kemaslahatan keluarga, masyarakat, dan yang lebih luas. 

Tahun 1987 kami lulus Sarjana dari Fakultas Tarbiyah IAIN Jember, kami terus khidmat di almamater, di Universitas Ibrahimy Situbondo, dan tentu juga di Universitas Islam Jember, dan ketika masih Sarjana Muda (BA) kami sudah khidmat sebagai Asisten Dosen Ilmu Pendidikan. Tahun 1988 melanjutkan studi Pascasarjana (S-2) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tamat 1990, sejak 1991 melanjutkan Program Doktor. Tahun 1992 kembali ke almamater sebagai dosen.

Khidmat sebagai dosen tentu tugas utama kami mengajar, mendidik, dan membimbing mahasiswa. Sebagai dosen kami pernah menerima penghargaan sebagai Dosen Berprestasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 4 Januari 2007 dan Tokoh Pendidikan dari Bupati Bondowoso, 2012.

Sebagai dosen kami pernah merintis beberapa perguruan tinggi, antara lain: STAI Al-Falah As-Sunniyyah (kini UAS), STAI At-Taqwa (kini IAI At,Taqwa) STAI Darussalam (kini UI KH Mukhtar Syafaat) Banyuwangi, STAIDU Lumajang, dan STAI Tuan Guru Turmudzi NTB, dan pengembangan prodi di PTKI dan Ma'had Aly Jawa Timur.

Dalam penelitian sedikitnya kami pernah empat kali menerima penghargaan: (1) Penghargaan Riset dari PRKP PPK UGM Yogyakarta dan The Ford Foundation, 1998, (2) Penghargaan Riset dari MSRA PSKK UGM Yogyakarta dan The Ford Foundation, 2004, (3) Penghargaan sebagai Peneliti Keagamaan Terbaik Nasional dari Kepala Balitbang Depag RI., 24 Agustus 2004, (4) Penghargaan Riset dari Kantor Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI (Deputi Bidang Perkembangan Riptek, 2006).

Sepulang dari pendidikan di Yogyakarta, kami mengawali khidmat di MUI Jember sebagai staff secretariat yang mempersiapkan Musda 1991 di masa Ketua Umum Prof. KH. Sodiq Machmud, SH. Kemudian kami dipilih sebagai Sekretaris Umum (1991-1996, 1996-2001, masa Ketua Umum Prof. KH. Abdul Chalim Muhammad, SH), dipilih sebagai Ketua I (2001-2006, 2006-2009, masa Ketua Umum Prof. Dr. KH. Sahilun A. Nasir, M. Pd. I), dan dipilih sebagai Ketua Umum (2009-2011, 2011-2016, dan 2016-2021).

Kami menjalani rangkap jabatan sebagai Ketua Umum MUI Kabupaten Jember dan Ketua MUI Jawa Timur Bidang Kajian dan Penelitian sejak tahun 2015 sampai 2021. Karena periode 2015-2020 kami di MUI Jawa Timur sebagai ketua yang membidangi Kajian dan penelitian dan pada periode 2020-2025 sebagai Wakil Ketua Umum yang membidangi pendidikan dan keagamaan, selanjutnya pada periode 2026-2031 kami masih diberi amanah untuk berkhidmat sebagai Wakil Ketua Umum yang membidangi keagamaan. Tanpa terasa, kami berkhidmat di MUI sudah 35 tahun.

Salah satu khidmat kami yang terasa paling menantang adalah ketika kami diberi Amanah sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si.  LPPD adalah Lembaga yang hanya ada di Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang diamanahi mengelola beasiswa Program Sarjana (S-1/M-1), Program Magister (S-2/M-2) dan Program Doktor (S-3) untuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan Ma’had Aly, bahkan beasiswa untuk Program S-1 dan S-2 di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sampai akhir tahun 2025 sudah mencapai 6.876 penerima manfaat, dan sudah meluluskan 4.200 alumni, yakni : 40 Doktor, 1.100 Magister, 2.340 Sarjana PTKI, 665 Sarjana Ma’had Aly, dan 25 Sarjana Universitas Al-Azhar Mesir. Tentu ini menjadi Prestasi Jawa Timur yang luar biasa. Tahun 2026 beasiswa S-3 sudah mencapai 250 orang, sehingga tahun 2029 Provinsi Jawa Timur akan melahirkan 250 Doktor. Jatim selalu Pelopor Peduli Pendidikan, pantas jika “Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara”.

Amanah mulia ini, tentu kami jalankan sepenuh hati. Amanah ini kami rasakan sesuai dengan profil kami. Kami dilahirkan di pesantren, dibesarkan di pesantren, skripsi tentang pesantren, tesis tentang pesantren dan disertasi tentang pesantren. Selain itu, buku-buku dan artikel kami banyak tentang pesantren, bahkan empat karya-karya riset penghargaan sebagaimana dikemukakan semua tentang pesantren. Jadi pesantren menjadi bagian sangat penting dalam perjalanan akademik kami.

Alhamdulillah, sebagai ungkapan rasa syukur, setelah 65 tahun kami menjalani kehidupan Allah Yang Mahakuasa memberikan anugerah kecukupan bagi kami sekeluarga: anugerah kesehatan, anugerah ilmu, anugerah keluarga yang baik, anugerah rezeki, anugerah kebahagiaan, atau anugerah lain melalui jism, ‘aql dan qalbu. Mudah-mudahan ke depan Allah terus memberi kami kesempatan berkhidmat untuk menebar kemaslahatan sebagai bekal menuju ke hadirat-Mu. (*)

 

 

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.

Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember

Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur

Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur

Pengasuh Pesantren shofa Marwa Jember

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Perspektif #Prof Halim