Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Islam yang Menenteramkan

Maulana Ijal • Jumat, 25 Maret 2022 | 12:49 WIB
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
JUMAT, 25 Maret 2022 M bertepatan dengan 22 Sya’ban 1443 H.kami diundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Khotib Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Tentu saja sebagai intisari khutbah, tulisan ini dimulai dari harapan agar kita wajib bersyukur masih diberikan kesehatan, kekuatan dan hidayah oleh Allah untuk menunaikan kewajiban kita selaku muslim, sholat berjamaah jum’at di masjid, sebagai ikhtiar meningkatkan ketakwaan.

Kehadiran kita di masjid tentu menjadi perwujudan komitmen tersendiri, bahwa kita sedang menuju kehadlirat-Nya. Dialah sumber dari segala sumber kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan. Kitapun berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Salawat dan salam kita peruntukkan kepada junjungan kita Nabiyuna Muhammad Saw yang telah membimbing kita menuju Islam yang menenteramkan, yang membahagiakan dan Islam yang penuh kedamaian

Semoga keimanan kita tetap terjaga dan kita selalu dikaruniai ketenteraman, kebahagiaan dan kedamaian oleh Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran (QS. Al-Fath: 4) :“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

BACA JUGA: Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Secara substantif jika ayat ini dikaji lebih intens, setidaknya memiliki dua makna: Pertama, bahwa Allah Swt yang akan memberikan ketenangan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman untuk menambah keimanan mereka.

Artinya, ketenangan dan kebahagiaan bukan berasal daari siapa-siapa, bukan berasal dari apa yang kita miliki seperti ilmu, jabatan dan harta, tetapi kebahagiaan sejati berasal dari karunia Allah Swt dan Kedua, bahwa ketenteraman, ketenangan dan kedamaian dimaksud akan bisa dirasakan oleh qalbu kita, bukan di ‘aql kita, apalagi di fisik kita.

Meskipun tanda-tanda ketenteraman dan kedamaian dimaksud bisa terpancar melalui ‘aqal dan fisik kita seperti pemikiran yang baik dan perilaku yang santun, sehingga ada ungkapan dalam Alquran dan al-hadits, seperti: “qalbun salîm”, ‘aqlussalîm”, dan “jismussalîm”. Ungkapan ini hanya akan terjadi jika qalbu benar-benar yang menjadi dynamo bagi fisik, ‘aql dan qalbu kita.

Yang seringkali muncul sebagai pertanyaan adalah kenapa hanya orang-orang mukmin yang akan dikaruniai ketenangan oleh Allah Swt.? Jawabnya, pertama kita bis akita mulai dengan introspeksi bahwa Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik yang dikaruniai banyak potensi dan kelebihan: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tîn: 4).

Selain secara fisik diciptakan dalam bentuk yang terbaik, Allah Swt masih melengkapi kelebihan non-fisik berupa: “’aql”. “qalbu” dan “ruh”. Jika potensi dan kelebihan ini disyukuri, dirawat dan dibina secara baik maka akan memungkinkan manusia meraih prestasi gemilang, mencapai beragam keunggulan, mencapai impian sejati, termasuk kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian hakiki.

Karena itu, potensi fisik harus dijaga dengan berolahraga dan asupan makanan-minuman yang halalan thayyiban. Potensi ‘aql, harus dijaga dengan intens membaca, qiroatul qur’an, akses ilmu dan pendidikan sehingga memahami ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah.

Demikian juga dengan potensi ‘qalbu, harus dijaga agar tumbuh kepekaan spiritualnya sehingga mampu mengapresiasi keimanan, keislaman dan keihsanan. Dengan kata lain, fisik manusia sebagai karya terbaik Allah Swt. Dengan karunia ’aql, Allah Swt memberi kita kemampuan berpikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah Swt memberi kita kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan.

Potensi qalbu inilah yang sering menimbulkan persimpangan pandang antara filsafat barat dan filsafat timur. Filsafat barat kurang menghargai potensi qalbu, sedang filsafat timur kurang mengoptimalkan potensi ’aql. Islam tentu menghendaki agar semua potensi kita dikembangkan secara seimbang sehingga memiliki potensi utuh sebagai manusia.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dikehendaki Islam adalah pengembangan yang utuh: “fisik sehat, aql cerdas, dan qalbu memiliki kepekaan spiritual tinggi”. bukan pengembangan yang parsial yang hanya akan menyebabkan terjadinya split personality (kepribadian belah), seperti: (a) fisik sehat dan kuat, tetapi ’aql lemot karena tidak memperoleh akses ilmu dan pendidikan yang layak, (b) ’aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu dan pendidikan yang memadai, tetapi fisik lemah dan sakit-sakitan karena kekurangan gizi, olahraga dan pengobatan, atau (c) fisik dan ’aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaannya lemah.

Jika potensi-potensi tersebut bisa dikembangkan secara utuh, insyaAllah kita akan bisa merasakan nikmatnya mujahadah kepada Allah Swt, karena hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang menuju ke hadirat-Nya. Allah adalah tujuan hidup kita, Allah adalah sumber kebahagiaan sejati, yang penuh dengan kedamaian.

Karakteristik generasi yang seperti inilah yang diharapkan mampu memahami Islam secara komprehensif, Islam yang menenteramkan dan penuh kedamaian. Karakteristik generasi seperti inilah yang diharapkan mampu memahami islam wasathiyah dan mewujudkannya dalam pemikiran keislaman dan kebangsaan menuju masa depan penuh ketenangan dan kedamaian.

Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Sudah waktunya dilakukan reorientaasi Pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat verbalistic, hanya terhenti di kata-kata, wacana, yang hanya menjadi konsumsi kognisi, konsumsi ‘aql semata.

Pendidikan selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah sejatinya yang bisa menjadikan ‘aql menjadi “‘aqlussalim”, qalbulah yang akan menjadikan fisik menjadi “jismussalim”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Keutuhan dan keunggulan seperti inilah yang harus mendasari kehidupan generasi kita, intelektual sekaligus spiritual, sehingga generasi kita terus berprestasi dan memiliki kesadaran bahwa perjalanan kita adalah menuju hadlirat-Nya, untuk menggapai ridla-Nya, sehingga Allah Swt berkenan mencurahkan ketenteraman dan kedamaian yang sejati.

Sebagai akhir khutbah, diberikan kesimpulan sebagai berikut: pertama, bahwa impian kita untuk memahami dan mewujudkan Islam yang menenteramkan penuh dengan kedamaian adalah impian yang bisa kita wujudkan jikalau kita mampu mensyukuri karunia Allah Swt. Diantara karunia itu adalah fisik kita sebagai ciptaan terbaik, itupun masih Allah lengkapi kelengkapan non fisik, seperti “’aql”. “qalbu” dan “ruh”.

Kedua, bahwa kesadaran untuk dapat memahami dan mensyukuri karunia dengan baik perlu melalui pendidikan, dan reorientasi pendidikan menjadi pilihan utama. Pendidikan, selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah yang bisa mengantarkan ‘aql menjadi “‘aqlussalîm”, qalbulah yang bisa mengantarkan fisik menjadi “jismussalîm”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Reorientasi seperti ini diharapkan agar generasi mendatang bisa menempuh pengembangan potensi secara utuh untuk meraih impiannya yang hakiki, termasuk impian ketenteraman dan kebahagiaan hidup, karena hanya qalbu yang bisa merasakan, dan

Ketiga, bahwa kita berkewajiban terus mensupport tumbuhnya pemahaman dan perwujudan Islam yang komprehensif, Islam yang menenteramkan dan mendamaikan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara pemahaman dan perwujudkan islam wasathiyah menjadi pilihan utama, karena akan menampilkan wajah islam yang moderat, islam yang adil, dan Islam yang bisa menjaga dan mengembangkan keragaman Indonesia.

Allah Swt menyatakan dalam Alquran: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqarah: 143). Wallahu a’lam.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember Editor : Maulana Ijal
#Perspektif #Prof Halim #Jember