alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Mobile_AP_Rectangle 1

Dr Zuhairi Misrawi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia dalam Webinar dengan tema “Kolokium Pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq: Khittah Wasathiyah, Pergulatan Pemikiran Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan” menyatakan “bahwa pemikiran KH Achmad Siddiq tentang persaudaraan (ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah) adalah senjata yang sangat ampuh dan dahsyat dalam diplomasi internasional. Oleh karena itu, UIN KHAS Jember harus membuat satu buku khusus yang serius mensyarahi (mengupas tuntas) pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq. Nanti saya sebagai Duta Besar Tunisia siap untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Arab, Inggris, Perancis, serta menyebarkannya ke publik internasional.”  (Selasa, 25 Januari 2022).

Pemikiran Tri Ukhuwah yang digagas Kiai Haji Achmad Siddiq sampai sekarang tetap aktual. Bahkan banyak dikembangkan oleh para tokoh, tak terkecuali tokoh yang berbeda agama. Beliau menyampaikan bahwa ada tiga perspektif membangun ukhuwah, yakni: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan keimanan sebagai sesama Islam meskipun suku dan rasnya berbeda. Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai warga bangsa, yakni sesama bangsa Indonesia, meskipun agama, suku, dan rasnya berbeda. Dan, ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai sesama manusia, meskipun agama, warna negara, suku dan rasnya berbeda.

Tri Ukhuwah yang pertama, adalah Ukhuwah Islamiyah. Penulis ingin memulai tulisan ini dengan mengutip ayat Alquran (QS. Al-Hujurat, 49: 10) untuk kita renungkan bersama: “Innamăl mukminũna ikhwatun faashlihũ baina akhawaikum, wattaqullăha la’allakum turhamũn/Sesunggunya orang-orang mukmin adalah (bagaikan) bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kamu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ayat ini merupakan acuan dasar membangun ukhuwah Islamiyah. Pertama, ukhuwah akan tercipta jika dilandasi dengan iman sebagai fondasi yang menjadi tumpuan semua kekuatan jenis bangunan yang ada di atasnya. Iman merupakan perjanjian suci, perjanjian setia untuk hanya taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.  Iman akan melahirkan amal saleh untuk hidup berdampingan dengan sesama hamba Allah secara damai. Kedua, sikap ishlah atau mendamaikan saudara sesama muslim, sesama hamba Allah merupakan syarat kedua yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun ukhuwah islamiyah. Ishlah juga bermakna membangun, menghimpun semua potensi manusia yang saleh untuk diberdayakan pada kehidupan yang baik dan bahagia. Ishlah juga berarti menghubungkan kembali hubungan yang retak, membangun kehidupan yang lebih damai dan mashlahah. Ketiga,  sikap takwa diartikan sebagai sikap hati-hati dalam menjaga dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, atau dengan kata lain, takwa itu adalah senantiasa merasakan kehadiran Allah SWT, di mana saja dan kapan saja sehingga dalam tutur kata, sikap dan tingkah laku selalu merasadalam pengawasan Allah SWT, sehingga Allah SWT berkenan mencurahkan rahmatnya.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan tentang urgensi ukhuwah Islamiyah, tiga hadis di antaranya adalah: pertama, sabda Nabi Muhammad SAW “janganlah kalian saling menghasud, janganlah saling membenci, janganlah saling memutus (persaudaraan), jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” (HR. Muslim dari Anas). Kedua“Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menelantarkannya dan menghinakannya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Ketiga, “Perumpamaan kaum mukmin dalam ukhuwah (persaudaraan), kasih sayang, dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah anggota tubuh sakit maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan meradang dan merasa sakit” (HR. Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir).

Tri Ukhuwah yang kedua, adalah Ukhuwah Wathaniyyah. Menurut Kiai Haji Achmad Siddiq, konsep tri ukhuwah terinspirasi oleh Piagam Madinah yang pernah digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Secara historis, ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), penduduk Yatsrib ketika itu terdiri dari kaum Muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, orang-orang Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa’ di sebelah dalam, Banu Quraidhah di Fadak, Banu an-Nadhir tidak jauh dari situ, dan Yahudi Khaibar di utara.  Selain itu ada juga sisa-sisa kaum Musyrik yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj, perkembangan selanjutnya setelah umat Islam menguat, muncul lagi kelompok baru yang belum dikenal di Makkah, yaitu kelompok munăfiqĩn yang merupakan musuh dalam selimut.

Nabi berkomitmen, bahwa tugas dakwah harus berhasil. Salah satu kuncinya adalah adanya jaminan keamanan dan kedamaian yang bisa dinikmati oleh semua pihak. Nabi Muhammad SAW merasa sangat perlu menciptakan kerukunan dan kedamaian antar seluruh anggota masyarakat. Dari sinilah dirumuskan naskah yang kemudian dikenal dengan “Piagam Madinah”. Karam Dhiya’ al-Umari dalam Sirah-nya yang berusaha menjelaskan riwayat sejarah berdasar metode kritik hadis dari sumber yang terpercaya selain Ibnu Ishaq, dan ditemukan butir-butirnya secara terpisah pada kitab-kitab hadis standar, termasuk kitab Bukhari dan Muslim. Menurut Dr. Karam Dhiya’, bahwa piagam yang popular ini terdiri dari dua piagam, satu berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang disusun sebelum peperangan badar dan kedua yang berkaitan dengan hak dan kewajiban kaum Muslim, Muhajir dan Anshar yang disusun setelah peperangan badar. Selanjutnya, para sejarawan menggabungkannya menjadi satu. Namun demikian, kapan pun terjadinya, dan apakah dia satu piagam atau dua yang disatukan, yang jelas bahwa ia terjadi pada masa-masa awal kehadiran Nabi Muhammad SAW di Madinah al-Munawarah.

- Advertisement -

Dr Zuhairi Misrawi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia dalam Webinar dengan tema “Kolokium Pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq: Khittah Wasathiyah, Pergulatan Pemikiran Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan” menyatakan “bahwa pemikiran KH Achmad Siddiq tentang persaudaraan (ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah) adalah senjata yang sangat ampuh dan dahsyat dalam diplomasi internasional. Oleh karena itu, UIN KHAS Jember harus membuat satu buku khusus yang serius mensyarahi (mengupas tuntas) pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq. Nanti saya sebagai Duta Besar Tunisia siap untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Arab, Inggris, Perancis, serta menyebarkannya ke publik internasional.”  (Selasa, 25 Januari 2022).

Pemikiran Tri Ukhuwah yang digagas Kiai Haji Achmad Siddiq sampai sekarang tetap aktual. Bahkan banyak dikembangkan oleh para tokoh, tak terkecuali tokoh yang berbeda agama. Beliau menyampaikan bahwa ada tiga perspektif membangun ukhuwah, yakni: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan keimanan sebagai sesama Islam meskipun suku dan rasnya berbeda. Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai warga bangsa, yakni sesama bangsa Indonesia, meskipun agama, suku, dan rasnya berbeda. Dan, ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai sesama manusia, meskipun agama, warna negara, suku dan rasnya berbeda.

Tri Ukhuwah yang pertama, adalah Ukhuwah Islamiyah. Penulis ingin memulai tulisan ini dengan mengutip ayat Alquran (QS. Al-Hujurat, 49: 10) untuk kita renungkan bersama: “Innamăl mukminũna ikhwatun faashlihũ baina akhawaikum, wattaqullăha la’allakum turhamũn/Sesunggunya orang-orang mukmin adalah (bagaikan) bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kamu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Ayat ini merupakan acuan dasar membangun ukhuwah Islamiyah. Pertama, ukhuwah akan tercipta jika dilandasi dengan iman sebagai fondasi yang menjadi tumpuan semua kekuatan jenis bangunan yang ada di atasnya. Iman merupakan perjanjian suci, perjanjian setia untuk hanya taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.  Iman akan melahirkan amal saleh untuk hidup berdampingan dengan sesama hamba Allah secara damai. Kedua, sikap ishlah atau mendamaikan saudara sesama muslim, sesama hamba Allah merupakan syarat kedua yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun ukhuwah islamiyah. Ishlah juga bermakna membangun, menghimpun semua potensi manusia yang saleh untuk diberdayakan pada kehidupan yang baik dan bahagia. Ishlah juga berarti menghubungkan kembali hubungan yang retak, membangun kehidupan yang lebih damai dan mashlahah. Ketiga,  sikap takwa diartikan sebagai sikap hati-hati dalam menjaga dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, atau dengan kata lain, takwa itu adalah senantiasa merasakan kehadiran Allah SWT, di mana saja dan kapan saja sehingga dalam tutur kata, sikap dan tingkah laku selalu merasadalam pengawasan Allah SWT, sehingga Allah SWT berkenan mencurahkan rahmatnya.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan tentang urgensi ukhuwah Islamiyah, tiga hadis di antaranya adalah: pertama, sabda Nabi Muhammad SAW “janganlah kalian saling menghasud, janganlah saling membenci, janganlah saling memutus (persaudaraan), jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” (HR. Muslim dari Anas). Kedua“Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menelantarkannya dan menghinakannya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Ketiga, “Perumpamaan kaum mukmin dalam ukhuwah (persaudaraan), kasih sayang, dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah anggota tubuh sakit maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan meradang dan merasa sakit” (HR. Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir).

Tri Ukhuwah yang kedua, adalah Ukhuwah Wathaniyyah. Menurut Kiai Haji Achmad Siddiq, konsep tri ukhuwah terinspirasi oleh Piagam Madinah yang pernah digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Secara historis, ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), penduduk Yatsrib ketika itu terdiri dari kaum Muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, orang-orang Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa’ di sebelah dalam, Banu Quraidhah di Fadak, Banu an-Nadhir tidak jauh dari situ, dan Yahudi Khaibar di utara.  Selain itu ada juga sisa-sisa kaum Musyrik yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj, perkembangan selanjutnya setelah umat Islam menguat, muncul lagi kelompok baru yang belum dikenal di Makkah, yaitu kelompok munăfiqĩn yang merupakan musuh dalam selimut.

Nabi berkomitmen, bahwa tugas dakwah harus berhasil. Salah satu kuncinya adalah adanya jaminan keamanan dan kedamaian yang bisa dinikmati oleh semua pihak. Nabi Muhammad SAW merasa sangat perlu menciptakan kerukunan dan kedamaian antar seluruh anggota masyarakat. Dari sinilah dirumuskan naskah yang kemudian dikenal dengan “Piagam Madinah”. Karam Dhiya’ al-Umari dalam Sirah-nya yang berusaha menjelaskan riwayat sejarah berdasar metode kritik hadis dari sumber yang terpercaya selain Ibnu Ishaq, dan ditemukan butir-butirnya secara terpisah pada kitab-kitab hadis standar, termasuk kitab Bukhari dan Muslim. Menurut Dr. Karam Dhiya’, bahwa piagam yang popular ini terdiri dari dua piagam, satu berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang disusun sebelum peperangan badar dan kedua yang berkaitan dengan hak dan kewajiban kaum Muslim, Muhajir dan Anshar yang disusun setelah peperangan badar. Selanjutnya, para sejarawan menggabungkannya menjadi satu. Namun demikian, kapan pun terjadinya, dan apakah dia satu piagam atau dua yang disatukan, yang jelas bahwa ia terjadi pada masa-masa awal kehadiran Nabi Muhammad SAW di Madinah al-Munawarah.

Dr Zuhairi Misrawi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia dalam Webinar dengan tema “Kolokium Pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq: Khittah Wasathiyah, Pergulatan Pemikiran Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan” menyatakan “bahwa pemikiran KH Achmad Siddiq tentang persaudaraan (ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah) adalah senjata yang sangat ampuh dan dahsyat dalam diplomasi internasional. Oleh karena itu, UIN KHAS Jember harus membuat satu buku khusus yang serius mensyarahi (mengupas tuntas) pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq. Nanti saya sebagai Duta Besar Tunisia siap untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Arab, Inggris, Perancis, serta menyebarkannya ke publik internasional.”  (Selasa, 25 Januari 2022).

Pemikiran Tri Ukhuwah yang digagas Kiai Haji Achmad Siddiq sampai sekarang tetap aktual. Bahkan banyak dikembangkan oleh para tokoh, tak terkecuali tokoh yang berbeda agama. Beliau menyampaikan bahwa ada tiga perspektif membangun ukhuwah, yakni: ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan keimanan sebagai sesama Islam meskipun suku dan rasnya berbeda. Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai warga bangsa, yakni sesama bangsa Indonesia, meskipun agama, suku, dan rasnya berbeda. Dan, ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang diikat karena kesamaan identitas sebagai sesama manusia, meskipun agama, warna negara, suku dan rasnya berbeda.

Tri Ukhuwah yang pertama, adalah Ukhuwah Islamiyah. Penulis ingin memulai tulisan ini dengan mengutip ayat Alquran (QS. Al-Hujurat, 49: 10) untuk kita renungkan bersama: “Innamăl mukminũna ikhwatun faashlihũ baina akhawaikum, wattaqullăha la’allakum turhamũn/Sesunggunya orang-orang mukmin adalah (bagaikan) bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kamu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Ayat ini merupakan acuan dasar membangun ukhuwah Islamiyah. Pertama, ukhuwah akan tercipta jika dilandasi dengan iman sebagai fondasi yang menjadi tumpuan semua kekuatan jenis bangunan yang ada di atasnya. Iman merupakan perjanjian suci, perjanjian setia untuk hanya taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.  Iman akan melahirkan amal saleh untuk hidup berdampingan dengan sesama hamba Allah secara damai. Kedua, sikap ishlah atau mendamaikan saudara sesama muslim, sesama hamba Allah merupakan syarat kedua yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun ukhuwah islamiyah. Ishlah juga bermakna membangun, menghimpun semua potensi manusia yang saleh untuk diberdayakan pada kehidupan yang baik dan bahagia. Ishlah juga berarti menghubungkan kembali hubungan yang retak, membangun kehidupan yang lebih damai dan mashlahah. Ketiga,  sikap takwa diartikan sebagai sikap hati-hati dalam menjaga dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, atau dengan kata lain, takwa itu adalah senantiasa merasakan kehadiran Allah SWT, di mana saja dan kapan saja sehingga dalam tutur kata, sikap dan tingkah laku selalu merasadalam pengawasan Allah SWT, sehingga Allah SWT berkenan mencurahkan rahmatnya.

Nabi Muhammad SAW menggambarkan tentang urgensi ukhuwah Islamiyah, tiga hadis di antaranya adalah: pertama, sabda Nabi Muhammad SAW “janganlah kalian saling menghasud, janganlah saling membenci, janganlah saling memutus (persaudaraan), jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” (HR. Muslim dari Anas). Kedua“Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menelantarkannya dan menghinakannya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Ketiga, “Perumpamaan kaum mukmin dalam ukhuwah (persaudaraan), kasih sayang, dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah anggota tubuh sakit maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan meradang dan merasa sakit” (HR. Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir).

Tri Ukhuwah yang kedua, adalah Ukhuwah Wathaniyyah. Menurut Kiai Haji Achmad Siddiq, konsep tri ukhuwah terinspirasi oleh Piagam Madinah yang pernah digagas oleh Nabi Muhammad SAW. Secara historis, ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah), penduduk Yatsrib ketika itu terdiri dari kaum Muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, orang-orang Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa’ di sebelah dalam, Banu Quraidhah di Fadak, Banu an-Nadhir tidak jauh dari situ, dan Yahudi Khaibar di utara.  Selain itu ada juga sisa-sisa kaum Musyrik yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj, perkembangan selanjutnya setelah umat Islam menguat, muncul lagi kelompok baru yang belum dikenal di Makkah, yaitu kelompok munăfiqĩn yang merupakan musuh dalam selimut.

Nabi berkomitmen, bahwa tugas dakwah harus berhasil. Salah satu kuncinya adalah adanya jaminan keamanan dan kedamaian yang bisa dinikmati oleh semua pihak. Nabi Muhammad SAW merasa sangat perlu menciptakan kerukunan dan kedamaian antar seluruh anggota masyarakat. Dari sinilah dirumuskan naskah yang kemudian dikenal dengan “Piagam Madinah”. Karam Dhiya’ al-Umari dalam Sirah-nya yang berusaha menjelaskan riwayat sejarah berdasar metode kritik hadis dari sumber yang terpercaya selain Ibnu Ishaq, dan ditemukan butir-butirnya secara terpisah pada kitab-kitab hadis standar, termasuk kitab Bukhari dan Muslim. Menurut Dr. Karam Dhiya’, bahwa piagam yang popular ini terdiri dari dua piagam, satu berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang disusun sebelum peperangan badar dan kedua yang berkaitan dengan hak dan kewajiban kaum Muslim, Muhajir dan Anshar yang disusun setelah peperangan badar. Selanjutnya, para sejarawan menggabungkannya menjadi satu. Namun demikian, kapan pun terjadinya, dan apakah dia satu piagam atau dua yang disatukan, yang jelas bahwa ia terjadi pada masa-masa awal kehadiran Nabi Muhammad SAW di Madinah al-Munawarah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/