Bagi anak, keluarga adalah media pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan keluarga, anak disiapkan kelahirannya. Di lingkungan keluarga, anak diasuh, tumbuh dan berkembang. Dari di lingkungan keluarga, anak merancang program, berangkat belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga anak istirahat. Ke lingkungan keluarga, anak mengevaluasi program, pulang dari belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga, anak melakukan komunikasi dan interaksi yang sangat intensif.
Dalam interaksi dan komunikasi itulah berlangsung proses pendidikan, disengaja ataupun tidak, direncanakan atau tidak, disadari ataupun tidak. Namun demikian, terjadinya proses pendidikan yang tidak disengaja, tidak direncanakan, dan tidak disadari itu ternyata dari segi waktu lebih lama, dari segi frekwensi lebih tinggi, dan dari segi pengaruh lebih besar jika dibandingkan dengan proses pendidikan yang disengaja, diprogram, dan disadari yang berlangsung di sekolah atau madrasah. Karena itu, aura pendidikan di lingkungan keluarga akan menebar ke pusat-pusat pendidikan lainnya, di sekolah dan masyarakat.
Akhir-akhir ini, tugas mendidik semakin tidak mudah, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sangat dahsyat. Cita-cita agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak sukses, saleh dan salihah, taat kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama menjadi obsesi yang kian sulit diwujudkan. Kesulitan ini bukan karena keterbatasan lembaga pendidikan, melainkan disebabkan oleh amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh.
Karena itu, institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara terintegrasi harus bekerja sama, yang terjadi akhir-akhir ini justru sebaliknya. Dengan alasan sibuk, tidak jarang keluarga yang cukup menyerahkan pendidikan ke pengelola sistem di sekolah/madrasah. Padahal disadari bahwa interaksi guru murid di sekolah amat terbatas dari segi waktu dan kontrol, yakni tidak lebih 7 jam sehari. Kelemahan sekolah yang demikian, bahkan diperparah oleh lingkungan masyarakat, yang dalam kenyataannya sering menyuguhkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diperoleh antara di sekolah dan keluarga.
Kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi, yang memunculkan berbagai alat dan media yang semakin sophisticated dan berjangkauan luas seperti televisi, video player, game player, Zoom, Instagram, Facebook, Youtube, dan media lainnya, mendorong terjadinya banjir informasi. Banjir informasi ini tidak mungkin dapat diseleksi. Anak dapat dengan leluasa mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sumber khususnya media sosial. Akibatnya, informasi yang disampaikan oleh guru di sekolah sangat mungkin terhapus begitu anak memperoleh informasi yang lebih menarik dari sumber di media sosial. Akibat intelektual dan kultural dari banjir informasi ini semakin tertinggalnya sekolah dari kemajuan (out of date), lebih-lebih jika para guru dan sekolah pada umumnya tidak memiliki sikap antisipatif dan kesadaran untuk berpacu mengikuti perkembangan informasi.
Selain itu, kurang sinkron juga terjadi antara pendidikan di sekolah dengan di keluarga. Di Sekolah anak-anak diajari untuk beribadah, namun sesampainya di rumah, anak tidak dapat memperoleh contoh atau teladan dari orang tuanya. Yang lebih parah adalah ketika anak sudah tertarik untuk menerapkan ajaran agama, namun orang tua tidak hanya menyambut kemajuan ini, tetapi juga mematahkannya dengan perilaku orang tua yang tidak taat beribadah. Anak yang membutuhkan reference person (suri teladan) yang ideal, tidak dapat ditemukan. Suasana seperti ini menjadikan anak mendapatkan standar nilai yang beraneka ragam, yang sangat kontradiktif. Sekali lagi, anak memerlukan keteladanan. Keteladanan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dicintainya, orang-orang yang dikaguminya.
Akhirnya perlu dikemukakan, bahwa pendidikan dan profesi mendidik adalah seni, dan seni mendidik sangat diperlukan dalam era manapun. Orang yang tahu dan mengerti pasti dapat melakukannya dengan baik. Tetapi perlu disadari bahwa kemampuan mendidik, adalah bagian dari karunia Allah SWT yang tidak cukup hanya dipelajari dengan otak dan tenaga, tetapi perlu dimohon kepada Allah SWT dengan doa, doa, dan doa, agar kita diberi kemampuan mendidik anak-anak kita sesuai dengan amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Wallâhu a’lam.
*Direktur Pascasarana IAIN Jember, Ketua Umum MUI Kabupaten Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember Editor : Safitri