PUGER KULON, Radar Jember – Beberapa pekan terakhir, muara Sungai Bedadung masih dangkal. Ini menjadi penghalang bagi nelayan. Banyak nelayan yang harus berjuang saat akan berangkat dan pulang melaut, khususnya di Plawangan, Puger.
Plawangan ini juga dikenal angker. Ini karena banyaknya kecelakaan laut saat nelayan melintasinya. Bahkan, beberapa hari terakhir ini, sejumlah perahu nelayan kandas saat pulang melaut, seperti yang terjadi Minggu (28/1) pagi.
Nelayan benar-benar diuji. Selain berangkat, saat pulang pun tetap harus diwaspadai karena ada muara sungai yang dangkal. Jika sampai kandas, maka nelayan dipastikan akan berjam-jam berada di lokasi itu. “Kalau sampai ada yang kandas, anak buah kapal (ABK) harus terjun untuk menyelamatkan perahu yang sudah membawa ikan hasil tangkapan. Biasanya ditarik dan didorong,” jelasnya.
Apalagi, ikan yang didapat itu harus segera tiba di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Jika tidak, ikan bisa saja rusak atau membusuk. “Kalau tertunda membawa ikannya ke TPI, bisa merugi,” kata Matrohri, warga Mojosari yang juga pemilik warung di pinggir Pantai Pancer, Puger.
Waktu perahu yang kandas tidak bisa ditebak. Kadang pukul 04.00, itu saat air surut dan muara dangkal. “Ketika air surut dan muara dangkal, nelayan harus berjuang agar bisa keluar dari Plawangan,” katanya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejumlah ABK terlihat melompat setelah perahu itu kandas. Ada beberapa orang yang menyiapkan bambu panjang untuk menahan agar perahu itu tidak terus kandas, dan ada yang memasang tali tampar untuk menariknya saat pasang. (jum/c2/nur)
Editor : Radar Digital