ARJASA, Radar Jember – Mahasiswi Prodi Teknik Lingkungan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember (Unej), meninggal dunia saat mengikuti Diklatsar Mahasiswa Divisi Pecinta Alam (Mahadipa) Fakultas Teknik Unej, Sabtu (11/11). Nadhifa Naya Damayanti, 18, asal Balikpapan, dilaporkan mengalami kritis saat menjalani diklat di Lereng Gunung Argopuro, tepatnya di atas Air Terjun Rayap, Kecamatan Arjasa.
Sekitar pukul 03.00 Sabtu (11/11), Basarnas Jember menerima telepon panitia diklatsar. Bahkan, panitia diklatsar juga datang ke Kantor Basarnas. Datang ke Basarnas untuk meminta bantuan evakuasi di lokasi diklatsar di atas air terjun rayap Kecamatan Arjasa.
Dantim Operasi Evakuasi Basarnas Jember Rudy Prahara menuturkan, setelah permohonan itu masuk, pihaknya langsung terjun ke lokasi. Setelah menyiapkan peralatan, tim Aju dari Basarnas Jember yang pertama menaiki mobil 4x4 dengan lima personel meluncur pada 03.30. Disusul tim pendukung dengan membawa ambulans. “Kami bagi menjadi dua tim, yang panitia kami minta membawa korban turun dan kami janjian bertemu di titik yang bisa diakses roda empat, estafet ke bawah,” jelasnya mulai menceritakan kronologi, pagi kemarin (12/11).
Medan yang sulit di area lereng Gunung Argopuro membuat proses evakuasi berjalan cukup lama. Sementara, kendaraan roda empat tidak bisa masuk sampai lokasi diklat. Satu-satunya cara adalah berjalan kaki. Sampai di lokasi, tim Aju harus berjalan sekitar 1,5 kilometer untuk melakukan evakuasi, karena panitia belum sampai di titik yang disepakati. “Korban infonya sudah kritis, yang paling aman dibopong dan jalan kaki,” katanya.
Korban dipanggul menggunakan sleeping bag di kawasan Perhutani itu. Evakuasi memakan waktu lama. Setelah sampai di titik keberadaan mobil 4x4, langsung diantarkan ke bawah menuju ambulans yang dibawa tim pendukung. Saat sampai di ambulans, matahari sudah terbit, sekira pukul 09.30.
Ambulans membawa korban ke RSD dr Soebandi, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam. Rudy mengatakan, mahasiswa asal Berau, Balikpapan, Kalimantan Timur, itu langsung dilarikan ke IGD pada pukul 10.30. “Dokter yang bertugas menyatakan korban meninggal dunia, kemudian langsung dibawa ke kamar jenazah untuk dicek lagi penyebabnya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Menurut informasi yang didapat, denyut nadi korban masih terasa saat dibopong menuju mobil. Namun, sampai di ambulans, denyut nadinya tidak terbaca lagi. “Dibawa di ambulans langsung dicek nadinya sepuluh detik tidak merasakan denyut nadi. Tapi, kami tidak bisa memastikan hidup atau meninggal,” beber Rudy.
Hingga kemarin, belum diketahui penyebab meninggalnya mahasiswa baru tersebut. Pihak Unej pun belum bisa memberikan konfirmasi secara detail. “Untuk saat ini Unej turut berduka cita, kami sedang koordinasi dengan dekanat (Fakultas Teknik Unej, Red) mengumpulkan data dan kronologi kejadian,” kata Wakor Pokja Humas Unej Rokhmad Hidayanto, atau yang akrab disapa Didung.
Pihaknya meminta waktu untuk memberikan penjelasan lebih lanjut ihwal peristiwa tersebut. Dalam konfirmasi itu, Didung mengatakan, pihak Dekanat Fakultas Teknik Unej tengah fokus dan mengutamakan mengantar jenazah pulang.
Sementara itu, sampai berita ini ditulis, Ketua Umum Mahadipa Fakultas Teknik Unej belum bisa dimintai keterangan. Dua kali ditelepon melalui Whatsapp tetapi ditolak. Saat dikirimkan pesan pun tidak direspons. (sil/c2/dwi)
Editor : Radar Digital