Radar Jember – Tahapan daftar ulang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 untuk jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi resmi berakhir, kemarin (19/6).
Hasilnya, tidak semua kuota pada tahap pertama terisi penuh. Sejumlah SD dan SMP masih menyisakan kursi kosong. Secara otomatis, nantinya akan dialihkan ke jalur domisili pada tahap berikutnya.
Di jenjang sekolah dasar, kondisi tersebut terlihat di SDN Kepatihan 3 Jember. Sekolah dengan pagu 84 siswa itu hanya menerima lima siswa dari kuota jalur afirmasi sebanyak 21 kursi. Sementara kuota mutasi yang tersedia empat kursi terisi penuh.
Baca Juga: Prof Hepni Berpulang, UIN KHAS Jember Berduka
"Karena di wilayah kota, dari tahun ke tahun banyak yang mendaftar di jalur domisili. Sehingga kuota afirmasi ini banyak tidak terisi," ujar Ketua Panitia SPMB SDN Kepatihan 3 Jember Herma Syafiatun.
Berbeda dengan jenjang SD, persaingan pada sejumlah jalur di tingkat SMP berlangsung lebih ketat. Di SMPN 7 Jember, misalnya, kuota jalur prestasi sebanyak 88 siswa diperebutkan 94 pendaftar.
Artinya, enam calon peserta didik tidak lolos seleksi. Persaingan lebih tinggi terjadi di jalur afirmasi yang menyediakan 70 kursi, sementara jumlah pendaftar mencapai 180 siswa.
Kepala SMPN 7 Jember Davit Rahman menjelaskan tingginya minat masyarakat membuat tidak semua pendaftar dapat diterima.
Dari 180 pendaftar jalur afirmasi, hanya 70 siswa yang lolos sesuai kuota yang tersedia. Sementara itu, jalur mutasi justru tidak terisi penuh karena hanya diikuti 10 pendaftar dari kuota 18 kursi sehingga seluruhnya diterima.
Secara keseluruhan, SMPN 7 Jember memiliki pagu 351 siswa. Pada SPMB tahap pertama, jumlah siswa yang diterima mencapai 168 orang. Dengan demikian masih tersedia 183 kursi yang akan diperebutkan pada jalur domisili.
“Kuota yang belum terisi akan menjadi tambahan pagu pada tahap berikutnya sehingga peluang calon siswa di jalur domisili masih cukup besar,” kata Davit.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember M Rido'i menegaskan, pelaksanaan SPMB tahap pertama berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang, termasuk melibatkan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur. Menurutnya, masih adanya kuota kosong di beberapa sekolah saat SPMB disebabkan distribusi pendaftar tidak merata.
“Secara umum proses berjalan lancar. Kuota yang belum terpenuhi pada tahap pertama nantinya otomatis menjadi tambahan pagu pada jalur domisili,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh