SUMBERSARI, Radar Jember – Tren jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Jika pada 2020 tercatat ada 35 juta petani, kini jumlahnya hanya sekitar 27 juta. Fenomena ini juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jember. Meski demikian, jumlah petani muda ternyata mengalami peningkatan, mencapai 7,7 juta jiwa.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember, Prof M Rondhi menambahkan, berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa, jumlah lahan pertanian ini menyusut.
Hal itu juga disusul jumlah petani juga kian menurun.
Dalam catatan Rondhi, pada 2020 ada 35 juta petani di Indonesia. Namun, saat ini berjumlah sekitar 27 juta orang.
“Jumlah petani di Jember juga mengalami fenomena yang sama,” paparnya.
Walau begitu, jumlah petani secara keseluruhan menyusut. Tapi, ada trend peningkatan jumlah petani muda. Untuk saat ini jumlahnya, mencapai 7,7 juta jiwa.
Sementara dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Sensus Pertanian 2023 lalu, jumlah petani memakai lahan pengguna lahan pertanian mencapai 27,8, sementara Petani gurem atau yang menggarap lahan kurang dari 0,5 hektar berjumlah 17,2 juta.
Rondhi menilai, anak muda saat ini banyak peluang menjadi petani. Karena definisi pangan juga semakin meluas.
“Tidak hanya beras, tetapi juga jagung, peternakan, hingga perikanan,” paparnya.
Rondhi juga mengajak generasi muda untuk lebih aktif mengisi ruang-ruang usaha di sektor pertanian.
Menurutnya, potensi di bidang perkebunan, peternakan, dan perikanan sangat besar jika dikelola dengan riset dan teknologi.
Fakultas Pertanian UNEJ, kata dia, terus mendorong riset aplikatif dan teknologi presisi untuk mendukung ketahanan pangan.
“Mahasiswa dan alumni harus menjadi motor penggerak agar Indonesia tidak hanya mencapai swasembada, tetapi juga mampu bersaing dalam ekspor komoditas unggulan,” paparnya dalam talk show bertajuk Membangun Masa Depan Pertanian Berkelanjutan dan Sejahtera, Sabtu (30/8).
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember, Muhammad Khabib menilai, kondisi jumlah petani menyusut tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang.
Menurutnya, lulusan pertanian tidak boleh hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi harus berani terjun sebagai pelaku usaha pertanian.
“Pertanian adalah sektor dengan peluang bisnis sangat besar, mulai produksi, hilirisasi, hingga distribusi. Yang diperlukan adalah keberanian, inovasi, dan kemampuan membangun jaringan,” ujarnya.
Khabib menegaskan, stigma bahwa bertani adalah pekerjaan kotor harus segera diubah. Sebab, dunia pertanian modern sudah semakin terbuka dengan teknologi digital dan akses pasar yang luas.
“Saya mendorong kolaborasi kampus dan industri melalui program Kampus Berdampak. Mahasiswa bisa magang, riset, hingga pelatihan di perusahaan,” tambahnya. (dhi/dwi)
Editor : M. Ainul Budi