Radar Jember - Di sebuah rumah tua berukuran 72 meter persegi berdinding anyaman bambu dan papan kayu, seorang remaja perempuan diam-diam menjaga harapannya tetap menyala meski temaram.
Rumah di Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Magelang, itu tak besar, tapi di dalamnya tinggal harapan yang pelan-pelan mulai tumbuh kembali.
Namanya Anisa Dwi Pangestu, usianya baru 15 tahun.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia kembali punya alasan untuk bermimpi untuk menjadi guru.
Cita-cita itu sempat terkubur karena keterbatasan ekonomi, tapi kini muncul kembali.
seiring hadirnya Sekolah Rakyat—program pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang digagas pemerintah.
“Saya ingin jadi guru,” kata Anisa, suaranya pelan, diiringi senyum yang muncul malu-malu ketika dikunjungi Wakil Menteri Sosial RI hari itu, Rabu (4/6/2025), dikutip dari laman Kemensos RI.
Anisa tinggal bersama lima anggota keluarganya. Ayahnya, Heryanto, 47, bekerja sebagai pencari rongsok keliling.
Sedangkan Ibunya, Siti Kusriyatun, 44, mengurus rumah dan anak-anak.
Kakaknya, Deni, 22, telah bekerja meski sederhana, di kios martabak.
Sementara dua adiknya, Laelatul, 8, dan Syahrul, 5, masih duduk di bangku SD dan TK.
Dengan penghasilan tak lebih dari Rp1,5 juta sebulan, kehidupan keluarga Anisa serba pas-pasan.
Bahkan terlalu sempit untuk menyisihkan biaya pendidikan.
Selepas SMP, Anisa sempat menganggap sekolah sebagai impian yang harus ia kubur dalam-dalam.
Tapi, kini nama Anisa masuk dalam daftar calon siswa Sekolah Rakyat.
Di sana, ia tak hanya akan belajar, tapi juga dibimbing untuk meraih masa depan yang selama ini terasa jauh dari genggaman.
Anisa bukan satu-satunya. Ia adalah satu wajah dari ribuan anak Indonesia yang kini kembali bisa menatap masa depan dengan kepala tegak.
Sekolah Rakyat mungkin belum menjanjikan segalanya, tapi bagi anak-anak seperti Anisa, ia menghadirkan yang paling penting: harapan.
Editor : Imron Hidayatullahh