Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Tragis Berbuah Manis, Potret Siska Indah Wati Lulusan SMKN 1 Klabang Bondowoso Hingga Kuliah Gratis di Politeknik Negeri Jember

Radar Digital • Selasa, 5 Maret 2024 | 23:46 WIB

Photo
Photo
 

radarjember.id - Tidak ada puncak kesuksesan yang diraih dengan mudah, air mata, keluh kesah, hujatan, jalan berliku, tikungan tajam, dan kristalisasi keringat mewarnai perjuangan yang tak mudah itu hingga sampai pada istana bintang.

Rupanya itu dibuktikan oleh remaja hebat asal Kabupaten Malang, Siska Indah Wati yang kini sedang kuliah di Politeknik Negeri Jember jurusan D4 Teknik Energi Terbarukan.

Siska terlahir dari keluarga harmonis dengan orang tua yang sangat menyayangi kedua anaknya, meski penuh dengan keterbatasan.

Pada awalnya mereka adalah keluarga bahagia nan bersahaja, namun takdir berkata lain.

Sang ibu tercinta dipanggil Tuhan saat Siska berusia 16 tahun, waktu itu siska kelas 9 MTs. Kebahagiaan yang terpancar di atas keterbatasan keluarga kecil ini pun terenggut

Ayah Siska akhirnya menikah lagi, artinya bertambah beban hidup sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan. Naifnya, Siska hampir menjadi korban. Sang ayah yang semula tidak mengijinkan siska melanjutkan sekolah dengan alasan biaya, namun karena keteguhan hati Siska, upaya tersebut tidak berhasil.

Uniknya, dengan semangat pantang menyerah, Siska berhasil merayu ayahnya untuk tetap bisa bersekolah dengan biaya dari kakaknya yang sudah berkeluarga.

Bersekolahlah Siska di sebuah sekolah SMK swasta di tanah kelahirannya dengan jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL).

Badai kembali datang, sekolah baru 1 semester muncul masalah baru. Ada kekhawatiran kembali tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan Praktek Kerja Nyata (PKL) yang mengharuskan siska mencari bantuan kepada saudara almarhum ibunya.

Tekat yang luar biasa ini mendapatkan jalan terang. Budhenya yang kebetulan memiliki anak seusia siska bersedia membiayainya sekolah. Namun, jalan terang dari Budhenya itu bukan tanpa syarat, syaratnya siska mau tinggal di Bondowoso dan pindah sekolah di SMKN 1 Klabang, Kabupaten Bondowoso.

Tekad semangat laksana api yang tak kunjung padam pada diri Siska lah yang akhirnya membuatnya hijrah dari Bumi Arema dengan indahnya pesona kotanya ke kota pensiun Bondowoso, tepatnya di pelosok desa di Kecamatan Klabang.

Tahun demi tahun dia lalui dengan baik. Siska menjalani masa sekolahnya dengan bersuka cita. Jatuh cintanya pada instalasi kelistrikan juga terjawab tuntas karena dia juga diterima masuk jurusan TITL SMKN 1 Klabang.  Tiap hari dia ke sekolah Bersama dengan mas Adi, begitu dia menyebutnya (anak budhenya).

Siska menjadi siswa berprestasi di kelasnya dan menjadi teladan bagi teman-temannya walaupun dia merupakan satu-satunya siswa perempuan dikelasnya.

Prestasi gemilang Siska juga seiring dengan lepasnya beban hidupnya, salah satunya karena tempat sekolahnya di SMKN 1 Klabang menyelenggarakan sekolah gratis sampai lulus, tanpa ada biaya apapun sepanjang sekolah hingga wisuda dinyatakan lulus.

Lebih heroiknya lagi, tekat Siska untuk sukses benar-benar tidak terbendung. Adanya program KIP Kuliah membakar hatinya untuk bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, sebuah mimpi yang sebenarnya sudah dikubur dalam-dalam sejak ibunya meninggal dunia.

Tekad menyala untuk bisa kuliah juga harus dilewatinya dengan jalan terjal berliku. Kendala besar itu muncul dari. Budhenya yang dengan tegas tidak mengijinkan dia untuk kuliah.

Selain alasan biaya, mas Adi yang tidak mau kuliahpun menjadi alasan. Sungguh sangat dilematis bagi Siska, Budenya adalah sosok tepat pengganti ibu kandungnya yang selamatkan mimpinya hingga lulus SMK tapi sekarang menjadi tembok kokoh yang sulit dirobohkan.

Rupanya Siska tidak hanya diam, dia terus bergerak dan mencari suaka kepada ibu guru favoritnya di sekolah, guru yang tidak sekedar memberikannya banyak ilmu, tapi guru yang dijadikannya tempat berkeluh kesah dan selalu menginspirasinya.

Siska meyakini bahwa “Tuhan Tidak Tidur Dan Sangat Menyayangi Manusia Yang Selalu Ikhtiar Menjadikan Hidup Lebih Berdaya dan Bermartabat”. Akhirnya perjuangan Siska sedikit mendapatkan titik cerah, sang guru Firman Hayu Kristanti sebagai perwkilan sekolah mendekati Budhe Siska agar memberikan  ijin Siska kuliah.

Pada awalnya, Budhe Siska tetap kokoh pada pendiriannya. Hal ini sempat melemahkan hati Siska.

Sekolah terus memberikan pendampingan terhadap Siska. Motivasi demi motivasi terus diberikan hingga akhirnya Siska kuat kembali dan bersemangat untuk kuliah dan Budenya juga mengijinkan karena ada jaminan pengawalan dari sekolah sampai Siska lulus kuliah.

Nasib baik pada akhirnya berpihak pada pejuang sejati. Siska menjadi salah satunya. Setelah melewati tahapan seleksi, Siska berhasil diterima di Politeknik Negeri Jember dengan jurusan D4 Teknik Energi Terbarukan dengan gratis biaya kuliah sampai lulus dan mendapat biaya bulanan untuk bantuan hidup.

Rasa haru menyeruak menyelimuti Siska dan keluarga besar SMKN 1 Klabang yang akhirnya bisa menghantar Siska kuliah.

Sebagai bentuk rasa syukur dan komitmen yang kuat, SMKN 1 Klabang membantu siska dalam segi pendanaan selama bantuan biaya hidup belum cair, siska mendapat subsidi dari SMKN 1 Klabang.

Ketika ditanya apa motivasi terkuat yang mendorongnya untuk tidak pernah menyerah pada keadaan, Siska mengaku sangat terinspirasi pesan kepala sekolahnya, “Jangan pernah takut merangkai mimpi meski kamu terlahir miskin, teruslah kamu Berakit-Rakit ke Hulu dan tidak usah berenang ketepian, karena berakit-rakit ke hulu itu wujud perjuangan yang akan indah pada waktunya”. (bud)

Editor : Radar Digital
#Jember #SMKN 1 Klabang #Polije #Bondowoso