BACA JUGA : Dua Anak Beber Kasus Fahim
Ketua Panitia SNBT UTBK Unej Prof Slamin mengatakan, UTBK SNBT dibagi dua gelombang. Gelombang pertama 8–14 Mei dan gelombang kedua 22–28 Mei. Dia mengungkapkan, belum ada laporan kebocoran soal. Setiap peserta ujian juga tidak bisa saling contek, sebab soalnya berbeda-beda. "Jika ada yang klaim punya bocoran soal, dipastikan hoax. Pastilah mereka mungkin ingin menjual (jawaban, Red) agar ada yang mau belajar ke dia," terangnya.
Setiap hari, bahkan setiap gelombang, kata dia, akan berubah dan tidak mungkin keluar lagi. Soal yang diberikan setiap peserta ujian diacak. Sehingga, tidak ada yang sama persis. Ujian masuk perguruan tinggi negeri berbeda dari yang sebelumnya. Materi yang diujikan bukan lagi berkaitan dengan bidang studi yang diambil. Baik saintek maupun soshum.
Soal yang keluar berkaitan dengan tes skolastik, literasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta penalaran matematika. "Sehingga betul-betul menggunakan logika, bukan hafalan," jelas pria yang merupakan Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unej itu.
Saat diketahui ada peserta UTBK yang melakukan kecurangan, akan langsung ditindak. Slamin menuturkan, yang kedapatan berbuat curang akan langsung didiskualifikasi dan langsung dilaporkan ke pusat. Namun, kata dia, selama ini belum ada yang diketahui melakukan kecurangan. Sehingga, hukuman terberat belum diterangkan dalam SOP.
Konsekuensi lain yang bisa didapatkan peserta ujian saat terlambat memasuki ruangan ujian. Keterlambatan ditoleransi maksimal 30 menit. Melebihi itu, dilarang masuk ruangan dan mengikuti ujian. Persentase kehadiran peserta rata-rata 96 persen dari 910 peserta per gelombangnya. Mayoritas peserta berasal dari Besuki Raya hingga Probolinggo dan Pasuruan. (sil/c2/dwi) Editor : Safitri