BACA JUGA : Akan Ada Kejurprov Skateboarding di Alun-Alun Jember
Dosen psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Januariya Laili SPsi MSi, mengungkapkan, kasus perundungan yang terjadi di sekolah, kemudian tersiar kabar di pemberitaan, itu hanya sebagian kecilnya saja. “Perundungan di sekolah seperti gunung es. Yang terlihat hanya di puncaknya saja dan sebagian kecil. Padahal di bawahnya itu banyak,” ungkapnya dalam acara pertemuan guru bimbingan konseling (BK) SMK se-Jember.
Namun, lanjutnya, menjadi sebuah persoalan ketika banyak siswa mengalami perundungan tetapi tidak melaporkan. Padahal sekolah sudah memfasilitasi kepada guru BK atau guru wali kelas. Misalnya terjadi pencemaran nama baik, kekerasan, pelecehan, atau pengancaman yang dialami siswa. “Hal tersebut karena siswa takut. Juga belum mengetahui batasan mana yang disebut bullying dan tidak disebut bullying,” tuturnya.
Apalagi, menurutnya, kondisi saat ini marak terjadi normalisasi ketika mem-bully, dengan memukul. Termasuk saling merendahkan di sosial media, itu dianggap bukan suatu masalah. Hal itu justru dianggap normal yang terjadi hari ini.
Selain itu, citra atau stigma secara turun-temurun kepada guru BK adalah citra buruk. Seperti ketika mengunjungi BK berarti sedang memiliki suatu masalah. Padahal dengan ke BK bisa untuk konsultasi atau keperluan lainnya. “Anak-anak masih memiliki stigma buruk kepada BK. Sehingga perlu diubah citra tersebut, mungkin dengan mengadakan kegiatan yang lebih fun atau yang memenuhi kebutuhan anak-anak,” jelasnya.
Laili turut menyampaikan bahwa untuk menekan perundungan agar tidak terjadi di sekolah, dapat dilakukan sosialisasi. Yakni sosialisasi terkait bullying dan sosialisasi terkait sekolah yang membahagiakan. Serta sosialisasi yang bertujuan mengajak keterlibatan siswa juga guru. Menurut dosen psikologi tersebut, guru perlu memahami perilaku siswa dan mengambil peran aktif untuk bertanya. “Daripada menunggu untuk ditanyai, guru sekolah atau guru BK harus aktif untuk menanyai. Terutama kepada siswa yang sering menutup diri dan tidak mau membuka diri,” ungkapnya. (mg2/c2/dwi) Editor : Safitri